Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 17


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Kanaya bangun dengan kondisi badannya sakit semua. Suhu badan pun juga tinggi, rasa pusing, mual bercampur menjadi satu sampai Kanaya tak bisa menahannya.


Yang dilakukan Kanaya saat ini hanya bisa menggigit ujung bantal agar tidak mengeluarkan suara, setetes darah mengalir deras dari hidungnya. Dia tau, kalau saat ini penyakitnya kambuh lagi. Jadi, Kanaya memutuskan hanya di dalam kamar saja.


"Tahan, Naya. Kamu kuat, rasa sakit ini tak sebanding dengan ucapan mereka, ayo kuat Naya!"


Itulah yang bisa Kanaya lakukan, menyemangati diri sendiri. Dia berusaha rileks, sambil membersihkan sisa-sisa darah di bajunya.


Namun, di tengah-tengah penderitanya tiba-tiba Kanaya merasa rindu akan papanya. Bahkan Kanaya jadi ingat, ketika dia sakit Asloka lah orang pertama yang akan menemani dirinya.


"Papa, Naya sangat merindukan Papa," lirihnya sambil memandang foto Asloka di layar ponselnya.


"Apa papa benar-benar marah sama Naya? Jika iya, maafkan Naya, Pa." Kanaya terisak. Dia sangat merindukan Asloka, semenjak dia sah menjadi istri Kennan, Asloka tak pernah menghubungi Kanaya sekali saja.


Padahal, Kanaya sudah mengirim pesan beberapa kali, tapi tetap Asloka tak mau menjawab dan hanya membaca chat Kanaya.


Sedangkan jauh di luar sana, Asloka tengah menangis di kamar. Dia terus menatap layar ponselnya, pesan-pesan dari Kanaya terus berdatangan membuat hatinya sakit. Bukan hanya pesan, tapi juga video anaknya seperti kesakitan semakin membuat Asloka tak kuat.


Asloka memang sengaja menyuruh Ramma memasang CCTV tersembunyi di kamar Kanaya, tujuannya dia ingin tau kegiatan anaknya seperti apa. Namun, setelah melihat anaknya diperlakukan sedemikian rupa, membuat hati Asloka sakit. Anak perempuannya yang sangat dia jaga penuh kelembutan, ternyata di hina habis-habisan di sana.


"Kak, kita harus menjemput Naya. Penyakitnya kambuh Kak, kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Anne yang ada di samping Asloka.


Hati ibu mana yang tega melihat anaknya kesakitan seperti itu, apalagi Anne sempat melihat ada darah keluar dari hidung Kanaya.


"Kita nggak bisa ke sana, An. Ini sudah menjadi keputusan dia, kita ke sana juga percuma, kamu pasti tau endingnya seperti apa," lirih Asloka.


"Tapi, Kak!"


"An, serahkan semua pada Kanaya. Dia pasti tau bagaimana tubuhnya sekarang, tapi kalau Naya sendiri tak mau meminum obatnya terus kita harus bagaimana?"


Anne seketika diam, dia juga membenarkan ucapan suaminya. Percuma saja rasa khawatirnya, jika Kanaya sendiri tak mau berobat dan lebih memilih menyelamatkan anaknya. Tapi, Anne tak bisa melihat ini semua, hatinya benar-benar hancur melihat Naya kesakitan seperti itu.


"Mau apa, Kak?" tanya Anne saat melihat suaminya mengeluarkan ponsel satunya.


"Mau menghubungi, Lusi. Dia seharusnya siap siaga dengan keadaan Naya, tapi sekarang Lusi tak ada disamping Naya!"


Anne hanya mengangguk saja, dia hanya bisa diam saat Asloka memarahi Lusi dan mengancam akan memotong gajinya jika kejadian ini terulang kembali. Sungguh terlihat kejam, tapi Anne paham apa yang di rasa suaminya. Sebenarnya ada rasa takut, tapi sebisa mungkin Asloka menyembunyikan semua.


***


Kanaya menyiapkan sarapan dengan sangat sempurna, pagi ini dia merasa sehat dan segar. Entah herbal apa yang di berikan Lusi semalam, tapi setelah meminumnya tubuhnya menjadi ringan tak ada rasa sakit sedikitpun.

__ADS_1


Sebab itulah, Kanaya berinisiatif membuat sarapan. Dia juga tak mau menjadi beban keluarga ini, jadi kalau tubuhnya fit dia akan membantu meski sedikit.


"Naya, aku masih menunggu penjelasanmu, Nay."


Prang!!


Karena terkejut dengan suara Febrian, piring dalam genggamannya pun meleset jatuh. Kanaya tak berani menoleh kebelakang, dia masih tak sanggup melihat sahabatnya itu. Dalam otaknya juga, dia berpikir pasti Febrian akan menghinanya seperti orang-orang di rumah ini.


"Naya, Hati-hati!"


Febrian langsung mendekati Kanaya, tapi Kanaya malah memundurkan langkah sampai kakinya tak sengaja menginjak pecahan piring.


"Akkhh!"


"Naya!"


"Jangan mendekat! Ian, aku mohon jangan seperti ini. Sikapmu yang ingin meminta penjelasan membuatku semakin takut, bukankah Kak Kennan sudah mengatakan jika aku sekarang ini istrinya, jadi aku mohon jangan mendekatiku lagi," ucap Kanaya.


Tapi, Febrian tak mau mendengarkan ucapan Kanaya dia tetap mendekat sehingga membuat Kanaya mundur satu langkah lagi dan berakibat kakinya tertusuk untuk kedua kalinya.


"Oke, aku akan diam disini. Tapi kakimu berdarah, Naya! Itu harus segera diobati, biarkan aku mendekatimu. Hanya membersihkan lukamu saja," bujuk Febria. Tapi langsung di tolak oleh Kanaya.


Kanaya tak mau suaminya itu salah paham lagi dan semakin menghinanya, jadi lebih baik dia memilih menghindar daripada mencari masalah.


"Sepertinya ucapanku semalam belum membuatmu paham, Ian!" seruan dari Kennan pun membuat suasana semakin mencekam. Meski Kanaya tau Kennan hanya sandiwara, tapi suasana seperti ini bisa menjadi pertengkaran antara kakak-beradik itu.


"Selama Kanaya belum mengatakan iya, maka aku nggak akan berhenti mendekatinya! Seharusnya Kakak yang sadar, sudah memiliki istri masih menambah satu!" bentak Febrian tak mau kalah.


"Itu urusanku! Seharusnya kamu itu belajar yang giat, bukan malah menjadi perusak rumah tangga orang. Awas, aku malas berdebat denganmu!" Kennan langsung mendorong Febrian ke samping dan mendekati istrinya.


Tanpa, banyak bicara Kennan menggendong Kanaya dan segera membawa istrinya ke dalam kamar. Kennan tak memperdulikan Febrian, yang kini terus berteriak agar melepaskan Kanaya.


Brukk!


"Aduh!" pekik Kanaya ketika tubuhnya di lempar begitu saja di atas ranjang, meski ranjangnya empuk, tapi tindakan itu bisa mencelakai bayi yang dia kandung.


"Ceroboh!"


Kennan pergi ke pojok ruangan di mana di sana ada sebuah kotak P3K, dengan cepat mengambil kota itu dan kembali mendekati Kanaya.


"Kak, mau apa?" Kanaya merasa sangat gugup.

__ADS_1


"Mau apa lagi? Matamu nggak buta kan, ini darah sudah mengalir terus, kalau nggak diobati nanti infeksi!" cetus Kennan. Dia bahkan langsung menarik pergelangan kaki Kanaya, dan menaruhnya di atas pahanya.


Dengan sangat hati-hati Kennan membersihkan luka Kanaya, dia juga melihat ada beberapa pecahan gelas masih tertinggal di sana. "Tahan sedikit," lirihnya.


"Aahh, sakit!"


Kanaya reflek meremass kuat pundak suaminya, dia tak tahan dengan semua itu. Rasanya perih, sakit, panas, intinya campur aduk. Matanya pun juga mulai berkaca-kaca, bersiap ingin menangis.


"Tahan sebentar, lukamu sangat dalam. Lain kali, kalau mau berkeliaran di rumah pakai sandal," oceh Kennan.


Kanaya hanya diam dan dia lebih memilih menatap suaminya, dalam diam dia mendambakan suaminya. "Andaikan kamu seperti ini setiap hari, Kak. Tapi, mana mungkin. Ini hanya sandiwara, jadi sangat mustahil seorang Kennan akan bersikap lembut padaku," batin Naya.


"Sudah selesai, kamu istirahat saja. Oh ya, Lusi sudah aku beritahu untuk menyiapkan semua barang-barangmu. Nanti malam kita akan ke Amerika," ucap Kennan benar-benar lembut sampai membuat Kanaya kebingungan.


"Kenapa harus kesana?"


"Nabila sedang sakit, Nay dan aku mau bawa dia ke sana, hanya saja Nabila mau berangkat jika kamu ikut. Sudah, jangan banyak tanya. Masih banyak yang harus diurus untuk keberangkatan nanti malam, intinya nggak ada penolakan!"


Terlihat Kennan mulai meninggikan suaranya lagi. Sedangkan Kanaya, hanya bisa menurut agar suaminya itu tak kembali ke modem garang.


"Sudahlah, aku mau kembali. Nabila sudah menungguku, ingat jangan kemana-mana kakimu masih belum sembuh total." Kennan bergegas pergi meninggalkan kamar istri keduanya, tapi saat dia melangkah tangannya di cekal oleh Kanaya.


"Apa?" Kennan amat kesal.


"Kak, boleh minta sesuatu?" tanya Kanaya sedikit takut.


"Apa? Cepat katakan, jangan mengulur waktuku. Nabila sedang sakit dan aku nggak bisa terlalu lama meninggalkan dia," bentak Kennan sampai Kanaya ingin mengurungkan niatnya.


"Nggak jadi deh, Kak. Kembalilah, aku juga lupa mau minta apa tadi."


Singgung perkataannya ini bukannya membuat Kennan senang dan segera pergi, tapi malah membuat lelaki itu marah. Dia mencengkeram erat pundak Kanaya dengan tatapan mata yang sangat mengerikan.


"Cepat katakan, atau aku remukkan tulang-tulangmu saat ini juga!"


Gemetar, Kanaya menjadi gemetar. Tatapan itu mampu membuat seluruh syaraf nya lemah seketika, bibirnya bahkan tak berani berkata-kata dan Kanaya ingin sekali menarik ucapannya tadi.


"Kak—"


"Naya!"


"Aku ingin Kakak memegang perutku, sebentar saja. Apa boleh!"

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa komen 😘


__ADS_2