Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 31


__ADS_3

Hari kepulangan Kanaya pun akhirnya benar-benar tiba. Asloka tak bisa membiarkan anaknya terlalu lama disini, apalagi setelah dia tau selama empat hari ini Kennan tak pernah menjenguk anaknya sedikitpun.


Ada rasa kesal, tapi ya sudahlah Kennan memang seperti itu dan sampai kapanpun menantunya tak pernah benar-benar menganggap Kanaya penting.


"Sayang, jangan melamun terus. Dia nggak mungkin datang, jangan diharapkan terus ya," lirih Asloka berusaha menyadarkan anaknya, kalau Kennan tak akan pernah menepati janjinya untuk datang.


"Lima menit lagi boleh nggak, Pa? Mungkin kak Kennan masih di perjalanannya, dia sudah janji akan ke sini kok," mohon Kanaya.


Jujur hatinya sangat bimbang, semalam suaminya bilang akan datang dan mengantarnya sampai bandara. Tapi, sampai jam segini Kennan belum juga hadir, bahkan ponselnya terus mati.


"Mau menunggu sampai besok pun dia nggak akan datang, Nak. Kamu mau tau kenapa dia nggak akan datang?" Asloka mulai tak sabar ingin memberitahu anaknya, kebusukan mulut suaminya itu.


"Kenapa, Pa?" Kanaya terlihat sangat penasaran.


"Tapi kamu janji, setelah tau jangan menangis dan memikirkan lelaki brengsek itu lagi. Paham, Sayang?" Asloka memperingati anaknya.


Dia tak mau jika Kanaya menjadi sedih setelah mengetahui betapa bejattnya Kennan, meski Nabila istrinya tapi baginya tak perlu berjanji jika tak bisa menepati.


"I-iya, Pa."


Meski ragu, Kanaya mencoba memberanikan diri melihat apa yang dimaksud papanya. Dengan tangan gemetar, dia menerima ponsel dari Asloka dan matanya terbelalak kaget melihat video di layar ponsel itu.


Reflek Kanaya melepaskan ponsel Asloka sampai terjatuh, dia tak mau melihat lagi. Video itu sangat melukai hatinya, bahkan membuatnya sesak. Meski Nabila istrinya, tapi untuk apa mereka mengirim video seperti itu.


"Hooek!!"


Kanaya terasa sangat mual, mengingat adegan dalam video itu membuat perutnya berputar-putar. Dia sangat jijik, bahkan tak mau mengingat semua.


"Nay, kamu baik-baik saja?" Asloka sangat panik melihat anaknya muntah.

__ADS_1


"Aku nggak mau melihat itu lagi, Pa! Itu sangat menjijikkan, hapus!" marahnya sambil menangis.


Dia benar-benar kecewa pada Kennan, padahal dia sendiri yang berjanji akan datang dan mengantarnya sampai bandara. Tapi, sampai sekarang belum juga kelihatan batang hidungnya, karena sedang bercintaa dengan istri pertamanya.


"Tapi kamu baik-baik saja ka, Nak?" Asloka memastikan keadaan mental anaknya. Harusnya dia tak memberikan video itu, tapi Asloka juga tak mau Kanaya terus menunggu orang yang tak pasti.


"Iya, aku baik-baik saja. Pa, ayo kita pulang," lirihnya penuh kekecewaan.


Asloka menganggukkan kepala, dia memberi isyarat pada Lusi dan beberapa bawahannya untuk membawa barang-barang. Sedangkan dia, langsung mendorong kursi roda Kanaya.


"Kamu urus pembiayaan hotel, aku tunggu di bandara," ucap Asloka pada Dikto.


"Siap Tuan!"


Disisi lain, Kennan berusaha membuka matanya paksa. Kepalanya sangat sakit, bahkan terasa amat berat. Dia mendudukkan dirinya, sambil berusaha mengingat apa yang sedang terjadi.


"Mas ...."


Deg!!!


Kennan seketika tersadar saat mendengar suara Nabila, dia melebarkan matanya dan melihat sekeliling. Sungguh berantakan, seperti kapal pecah.


Tubuhnya polos, hanya tertutup selimut. Sedangkan di sampingnya ada Nabila yang ternyata juga tak memakai apapun, seketika otaknya berkelana pada kejadian semalam.


Dia ingat semalam saat dirinya akan kembali ke hotel, Nabila merengek minta di temani sebentar karena penyakitnya kambuh. Setelah itu, mertuanya datang dan memberikannya sebuah kopi. Setelah itu, tubuhnya menjadi padan dan ....


'Sial! Aku di jebak mertua dan istriku sendiri, bodoh sekali kamu Kennan!' batin nya sambil menjambak rambutnya sendiri.


Kennan pun segera mencari arlojinya, karena tak menemukannya, dia lebih memilih mengambil ponsel istrinya dan betapa terkejutnya Kennan melihat jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Padahal penerbangan istrinya tinggal beberapa menit lagi.

__ADS_1


"Bodoh kamu, Kennan!" Kennan bergegas turun dari atas ranjang, tapi pergerakannya di cegah oleh Nabila.


"Mas, kamu mau kemana!" serunya merasa kesal, karena tak di hiraukan padahal dia terus memanggil-manggil suaminya.


"Apaan sih! Awas, aku harus segera ke bandara!" bentak Kennan.


"Mas, tega kamu ya! Semalam kita habis memandu kasih, sekarang mencampakkan aku begitu saja!" marahnya.


"Aku nggak sadar! Dan semua ini pasti rencanamu kan? Kamu dan Mama menjebakku dengan obat perangsangg, gila kamu Nabila!" Kennan semakin murka.


Sedangkan Nabila tersenyum kecut, dia menangis sambil tertawa. Begini sekali nasibnya, karena dia tak bisa memberi anak untuk Kennan, semua harus memusuhinya.


"Mas, apa sedikit saja kamu nggak merasakan penderitaanku? Aku hancur Mas, semua duniaku menjadi hitam hanya karena satu masalah, yaitu anak." Tangisan Nabila semakin menjadi.


Dia bahkan menjerit, sampai semua orang di dalam rumah mendengar jerit tangisnya. "Aku butuh dukungan, bukan pengkhianatan Mas. Umurku mungkin nggak lama lagi, apa aku salah hanya ingin memilikimu seutuhnya? Sedikit saja pahami sakitnya aku, ketika melihat suamiku sendiri lebih mengutamakan istri keduanya! Siapa yang nggak sakit!" Nabila terus mengutarakan isi hatinya.


Kennan terdiam tak tau harus seperti apa. Dia sadar, kalau selama ini sudah tak adil, tapi semua Kennan lakukan agar Nabila sadar akan kesalahannya. Bukan malah menyalahkan orang lain, padahal jelas-jelas ini ulahnya sendiri.


"Aku memang bukan suami yang sempurna untukmu, Bil. Bisa dibilang aku orang yang sangat plin-plan, tapi perbuatanmu tetap salah. Satu saja yang ku mau, minta maaflah pada Kanaya dengan tulis, tapi kamu selalu menunda-nunda dan berakhir terus menyalahkan," balas Kennan.


Tak ada jawaban dari Nabila, dia semakin menangis sedangkan Kennan tak peduli itu. Dia harus segera sampai bandara, akan tetapi ketika Kennan selesai bersiap-siap dia melihat istrinya sudah berlumuran darah di atas ranjang.


"Nabila!"


Kennan sangat panik, dia mendekati Nabila dan berusaha menyadarkan istrinya. Namun, tak ada respon apapun sehingga Kennan memutuskan membawa istrinya ke rumah sakit. Teriak demi teriak Selli selalu menggema, wanita itu merasa tak terima melihat kondisi anaknya.


Selli selalu menyalahkan Kennan begitu juga Kanaya. Tapi, Kennan tak mau meladeni mertuanya karena sekarang nyawa Nabila lebih penting daripada berdebat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2