
Di kamar Asloka terlihat mondar-mandir di depan pintu kamarnya sambil menetralisir rasa gugupnya saat ini. Sungguh seumur hidup, baru kali ini dia merasa mentalnya terguncang karena ingin menikahkan anaknya.
Meski dia sangat antusias di awalnya karena ini kali pertama dia menjadi wali nikah anaknya, tapi ketika acara akan berlangsung beberapa menit lagi tiba-tiba tubuh Asloka menjadi tremor.
"Sayang, kamu kalau terus begini nggak akan jadi nikahin Kanaya loh. Yang ada malah Abrian lagi yang menikahkan dia," kata Anne mulai pusing melihat suaminya mondar-mandir.
"Mana boleh! Ini harus aku yang menjadi wali nikah Kanaya, cukup sekali aku menyesal menyerahkan hak ku pada anak ingusan itu," cetus Asloka sangat kesal.
"Ya kalau memang ingin stop mondar-mandir gitu, ingat kamu mulai tua dan mulai punya riwayat darah tinggi apalagi jantungmu itu," kesal Anne. Kalau boleh mah dia ingin menarik suaminya itu agar duduk di sampingnya, sampai penghulu datang.
Tapi, baru saja Asloka ingin duduk di samping istrinya, tiba-tiba ketukan dari luar pun membuatnya tak jadi duduk.
"Pa, penghulu sudah datang dan Papa disuruh keluar untuk melakukan percobaan sebelum akad benar-benar dilaksanakan."
Teriakan itu pun mampu membuat Asloka kembali nervous, dia menoleh kebelakang dan segera menatap Anne dengan expresi gugup. "An, aku ... aku ...."
"Laka, yakin kamu bisa. Perasaan kita dulu menikah nggak begini banget loh, tapi kenapa saat menjadi wali nikah Kanaya jadi seperti ini?" Anne jadi gemas sendiri melihat suaminya ini.
"Beda, An. Kalau dulu aku penuh dengan semangat, karena yang menikah aku sendiri. Kalau sekarang, istilahnya aku menyerahkan putriku kepada orang lain dan berharap dia bisa bahagia," jelas Asloka.
"Ya sudah, jangan dibahas lagi nanti kamu nangis lagi. Mending segera keluar sebelum Abrian datang lagi." Anne segera mendorong suaminya agar keluar.
Namun sebelum Asloka benar-benar pergi dari kamar, dia menyempatkan untuk mencium sekilas bibir istrinya agar dia tak nervous lagi.
Setelah memastikan siap, barulah Asloka keluar dari kamar dan menuju tempat akad. Sesampainya di sana, dia juga langsung mengobrol dengan penghulu, serta melakukan percobaan akad agar semua lancar tanpa ada kendala sedikitpun.
Sedangkan di sisi lain, Kanaya juga sedang merasakan gugup setengah mati. Jantungnya juga tak bisa berhenti berdetak, apalagi ketika melihat dirinya sendiri di pantulan kaca besar itu.
Dia terlihat berbeda dan sangat cantik meski harus memakai wig. Sejujurnya, rambutnya mulai tumbuh tapi belum sempurna sehingga Kanaya harus memakai wig. Namun, masih terlihat sempurna tanpa cacat sedikitpun.
"Kamu cantik sekali, Nay."
Kanaya tersenyum sambil menoleh ke arah kakak iparnya. "Terima kasih, Kak."
"Nay, aku harap kamu bisa bahagia dengan pernikahan kali ini. Kakak tak mau lagi melihatmu menderita," ucap Abrian. Matanya mulai berkaca-kaca, tak menyangka adiknya ini akan menikah lagi dengan cara yang benar.
__ADS_1
"Aku pasti bahagia, Kak. Yakinlah, dia lelaki yang sangat baik. Buktinya Hans mau menerimaku apa adanya, padahal kondisiku seperti ini."
Tanpa diduga, Kanaya berdiri dari kursi rodanya. Abrian sampai melongo dibuatnya, seakan-akan tak percaya jika Kanaya sudah bisa berdiri.
"Nay ...."
"Aku sudah sembuh Kak, hanya saja Kak Hans yang terlalu takut aku kenapa-napa. Dia terlalu parno melihatku berdiri sendiri," kata Kanaya penuh senyum bahagia.
"Kakak sungguh bahagia melihat ini, Nay. Semoga dokter menyatakan kamu sembuh sepenuhnya, agar kita bisa menua bersama dan melihat anak-anak menikah Nanti," balas Abrian terus meneteskan air matanya.
"Pasti itu, Kak. Terima kasih sudah menjadi Kakak terbaik untukku selama ini, I Love You Kak Brian."
Karena tak mau merusak suasana yang berakhir saling menangis, Kanaya memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan segera menuju tempat akad bersama Khadijah.
Dia berjalan sambil menggandeng tangan kakak serta kakak iparnya, dia terus tersenyum menatap lurus ke depan sampai semua orang tercengang melihat Kanaya keluar tanpa menggunakan kursi roda.
Bahkan, Hans sampai berdiri ingin menghampiri Kanaya karena takut, tapi dengan cepat Abian mencegah Hans agar tidak menganggap adiknya terlalu lemah.
"Aku nggak tega, Bian!"
"Tapi aku lebih tua darimu!" Hans berkata sambil menaikan satu alisnya.
"Masa bodoh, kamu harus tetap memanggilku Kakak Ipar." Abian semakin mengejek Hans. Dia sengaja membuat calon adik iparnya jengkel, jarang-jarang ada orang yang berani mengganggu seorang Hans Pratama.
"Sudah jangan ribut, yang ada nanti nggak jadi nikah!" celoteh Asloka. Dia jadi kesal melihat tingkah laku anak menantunya itu, tak ada yang bisa mengerti dirinya padahal saat ini Asloka sedang Nervous.
"Silahkan duduk di samping mempelai laki-laki, Bu Kanaya."
Dengan sangat pelan, Kanaya duduk di samping Hans. Senyumannya tak pernah luntur sedikitpun dari bibirnya, sampai Hans dibuat terpanah oleh hal itu.
"Kamu sangat cantik," bisik Hans.
"Kamu juga tampan," balas Kanaya. Mereka saling pandang dan tersenyum satu sama lain, semua orang di depannya bagaikan angin lalu, bahkan seperti makhluk tak kasat mata.
"Ekhem! Bisa kita mulai pernikahannya? Maaf, soalnya saya ada jadwal di lain tempat," sindir Penghulu agar mereka tak saling pandang terus-menerus.
__ADS_1
"Maaf, saya terlalu terbuai akan kecantikan calon istri saya," kekeh Hans mendadak gugup.
"Iya, bisa dimaklumi. Sekarang kita mulai saja ya, silahkan Pak Asloka, jabat tangan menantunya dan kita langsung mulai."
Pak penghulu pun segera memulai acara dengan pembukaan doa-doa, setelah selesai Pak penghulu mengisyaratkan agar Asloka segera mengucapkan kata-kata sakral itu.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Hans Pratama bin Aslan Pratama dengan anak saya yang bernama Kanaya Maheswari binti Asloka Maheswari dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan Emas 2000 gram,dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Maheswari binti Asloka Maheswari dengan maskawin tersebut, tunai!”
"Sah?"
"Sah!"
Semua orang mengucap kata syukur, beberapa dari mereka sampai meneteskan air mata. Setelah selesai menandatangani surat-surat yang ada, Kanaya dan Hans segera bertukar cincin.
Mereka berdua kini berfoto-foto, membagikan momen bahagia mereka. Aileen juga tak mau ketinggalan, dia ingin ada di tengah-tengah orang tuanya sampai seseorang memandang iri dari kejauhan.
Dia adalah Kennan, setelah tiga hari memulihkan dirinya dia berniat memperbaiki hubungannya bersama Kanaya, namun ketika dia sampai rumah Asloka, pemandangan tak mengenakan hati langsung menusuk jantungnya.
"Begitu cepat sekali melupakan aku, Nay. Apa tak ada kesempatan bagiku, apa tidak ada?" (jawaban dari emak adalah TIDAKKK! ENAK AJA MAU BALIK 😤)
"Mas, kita masuk?" tanya Nabila juga terlihat sangat kecewa.
"Nggak, kita pulang saja."
Mendengar itu, Nabila hanya bisa menuruti Kennan. Dengan cepat dia mendorong kursi roda suaminya, agar menjauh dari rumah ini.
Namun, baru saja Nabila putar balik ada seorang berteriak sangat kencang sampai membuat langkah kakinya terhenti.
"Papa, ada om jahat dan tante jahat. Lihatlah di sana, mereka mau pergi!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1