Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 15


__ADS_3

Saat malam Kanaya duduk di kamar dengan sangat gelisah, perutnya terasa lapar tapi dia enggan untuk keluar dari kamar. Sebenarnya Kanaya bisa meminta bantuan pada Lusi, tapi ada rasa tak enak hati jika harus mengandalkan Lusi terus-menerus.


"Kamu lapar ya, Nak?" gumam Kanaya ketika merasakan pergerakan di perutnya. Dia paham, anaknya kelaparan tapi dia tak memiliki apapun di dalam kamar.


"Sabar ya, Nak. Nanti kita makan, setelah mereka tidur," ucap Kanaya sekali lagi.


Sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya, dia merasa sedih karena sejak pagi sampai petang, Nabila maupun Kennan tak ada yang menjenguknya. Bukan dia mengharapkan perhatian, Kanaya hanya ingin mereka menyambut atau menemuinya sebentar saja. Namun nyatanya tidak ada satupun dari mereka datang menemuinya.


Tok ... tok ... tok ....


Kanaya sedikit terjingkat ketika mendengar pintunya diketuk seseorang dari luar. "Siapa?" tanyanya.


"Saya Lusi, Nona. Boleh saya masuk?"


"Boleh, langsung saja masuk."


Tak lama setelah itu, Kanaya melihat Lusi masuk dengan kereta dorong berisi beberapa makanan, buah-buahan dan segelas susu juga segelas air putih. Seketika senyum Kanaya langsung merekah melihat itu, rasanya sangat bahagia sehingga semangatnya kembali lagi.


"Nona belum makan apapun dari Sore, maaf karena saya Lalai. Besok, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi," ucap Lusi sambil mendorong kereta itu.


"Kamu nggak salah kok, seharusnya aku yang minta maaf karena merepotkanmu," balas Kanaya tak sabar ingin menyantap semua makanan itu.


Karena terlalu lapar, Kanaya meminta Lusi segera mendekatkan makanannya. Dengan sangat lahap dia menyantap semua hidangan, rasanya sangat nikmat sehingga membuat Kanaya lupa akan segalanya.


Namun, sayangnya kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena Rita masuk ke dalam kamarnya sambil mengatakan hal-hal menohok hati sehingga nafsu makannya berkurang drastis.


"Enak banget ya ibu ratu, berasa rumah sendiri dan bagaikan tuan rumah! Makan di siapin, apa-apa di siapin. Enak banget kamu, Naya! Dasar menantu nggak tau diri, bukannya bantu-bantu di dapur tapi malah rebahan!"


Naya hanya bisa mengepalkan tangannya, dia berusaha menahan amarahnya, toh semua ini yang dia mau. Hanya demi keselamatan anaknya, dia lebih memilih menjauh terlebih dulu dari keluarganya.


"Maaf Tante, setelah ini aku akan beres-beres dapur," Jawab Kanaya masih sempat tersenyum.


"Tidak perlu, Nona. Saya yang akan membersihkan semua, Nona masih sakit dan ini memang sudah tugas saya," kata Lusi mencela ucapan Rita.


"Nggak bisa! Aku maunya dia, memang menantuku kamu, ha!?" tolak Rita sangat kencang.

__ADS_1


"Sudah Lusi, biar aku yang membereskan semua. Ini semua memang tugasku sebagai menantu," putus Kanaya agar mereka tak bertengkar. Kanaya ingin ketenangan, jadi untuk kali ini dia akan mengalah.


"Tapi —"


"Lusi!" Kanaya langsung memelototi Lusi.


"Baiklah jika itu maunya Nona. Tapi, biarkan saya ikut barangkali membutuhkan bantuan," jelas Lusi dan di iyakan Kanaya.


Mendengar itu, Rita semakin sewot. Dia sangat kesal saat Kanaya selalu dibela, jika bukan karena Febrian mungkin yang jadi menantunya saat ini adalah model cantik pilihannya.


"Cih, banyak drama!" seru Rita sebelum akhirnya dia keluar meninggalkan kamar Kanaya.


"Nona yang sabar, ya." Lusi berkata penuh raut kekesalan akibat ulat Rita.


"Selalu, Lus. Inilah jalan yang ku inginkan, jadi bagaimanapun terjalnya rintangan pasti akan ku hadapi."


***


Di sisi lain, Kennan sibuk menata semua baju-bajunya ke dalam koper. Malam ini juga Kennan akan membawa Nabila berobat ke luar negeri agar penyakit istrinya cepat sembuh, dan sehat seperti dulu.


"Mas, kamu serius mau membawaku ke luar negeri?" tanya Nabila.


"Yakin, semua sudah aku rencanakan sejak pertama kali mengetahui penyakitmu. Kata dokter masih bisa disembuhkan, jadi lebih baik kita berobat saja keluar negeri," jelas Kennan.


"Terus Kanaya bagaimana? Dari pagi kita belum melihat dia loh, bagaimanapun sekarang Naya istrimu loh, Mas," balas Nabila sampai membuat Kennan menatap tajamnya.


"Apa ada yang salah?" Nabila sedikit takut.


"Kenapa sih kamu selalu membahas Naya? Aku mau menikahinya itu karena permintaanmu, jadi jangan harap aku memikirkannya. Bagiku, kamu yang terpenting melebihi apapun!"


Nabila yang mendengar itu menjadi terharu, sempat dia memiliki pemikiran jika Kennan menyukai Kanaya. Tapi, segera melihat perilaku Kennan, Nabila semakin yakin jika malam itu hanya sebuah kecelakaan biasa.


"Tapi dia mengandung anakmu, Mas. Hanya Naya yang bisa memberimu keturunan, sedangkan aku? Sudah tak punya rahim, penyakitnya pula." Nabila seketika tertunduk sedih, jika mengingat kejadian beberapa tahun lalu hatinya sangat sakit.


Karena kecerobohannya, dia dan Cahaya kecelakaan sehingga Nabila harus kehilangan rahim serta anak semata wayangnya. Sangat miris sekali jalan takdirnya, tapi sayangnya dia tak bisa merubah keadaan.

__ADS_1


"Nabila, aku nggak mau membahas itu! Memangnya kenapa kalau dia hamil anakku, toh aku nggak menginginkannya. Jadi, jangan pernah merasa sedih karena tak bisa memberiku anak. Apa itu anak? Hanya merepotkan saja, cih menjijikkan!" Bohongnya.


Padahal jauh dalam lubuk hatinya dia ingin sekali memiliki anak, tapi demi menghormati perasaan sang istri Kennan berpura-pura membenci seorang anak.


"Mulutmu berkata benci, tapi sorot matamu menginginkannya bahkan mendambakan seorang anak, Mas," batin Nabila.


"Sudah jangan bahas ini lagi, lebih baik cepat siap-siap nanti malam kita berangkat." Kennan bersiap untuk pergi, tapi langsung di cekal oleh Nabila.


"Mas, aku mau pergi jika Naya ikut. Dia juga istrimu sekarang, meski pernikahan ini tak kamu inginkan tapi Naya statusnya istrimu," pinta Nabila.


Namun, permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Kennan. Dia tak mau membawa beban dan akhirnya merepotkan dia saat di sana, tidak Kennan tak mau mengajak Kanaya.


"Jangan sembarangan, Bil! Sekali nggak ya nggak," tolak Kennan lagi.


"Ya sudah, lebih baik kita berobat disini saja. Sudah sana pergi, jangan harap aku mau pergi!" Nabila pun mendorong suaminya keluar, meski Kennan menahan perbuatan Nabila, tapi dia tetap mengalah karena tak mau membuat energi istrinya terkuras sampai membuat jantungnya kambuh.


Brakk!!


"Jangan pernah masuk ke dalam belum berubah pikiran!" teriak Nabila dari dalam. Setelah itu, dia memegang dadanya sangat erat.


Ternyata Nabila sengaja mengusir Kennan agar suaminya itu tidak tau kalau penyakitnya kambuh, nafas Nabila mulai sesak dan sangat sakit sekali ketika dia menarik nafas. Nabila tidak kuat, sampai akhirnya dia merangkak mencari obat yang biasanya dia minum.


"Tuhan, sakit sekali!"


Dengan cepat dia meminum obatnya, tapi baru saja Nabila memakan obatnya, rasa mual langsung menyerang sehingga dia memuntahkan darah segar, walaupun sedikit tapi itu bisa membuat siapapun yang melihat panik.


"Darah," lirih Nabila dengan tangan gemetar. Dia tak mau sampai Kennan melihat semua ini, secepat mungkin Nabila berdiri dan membersihkan semuanya.


"Kennan nggak boleh tau semua ini, maaf Mas. Semua ini aku rahasiakan, agar kamu nggak menganggapku lemah."


...****************...


Hai, emak kembali lagi. Mau kasih tau aja sedikit sih, disini emang emak buat Kanaya lembek, keras kepala, juga sedikit lemah nggak mau nentang siapapun. Tapi, nanti ada waktunya Kanaya bangkit dan selalu menentang keluarga Kennan, jadi di moon bersabar ya buk ibuk 🤣🤣


Pembaca : Ih kenapa di bocorin mak.

__ADS_1


emak : sedikit saja kok, nanti kalau dah sampai ending pasti kejang-kejang 🤣 (canda) 😇


__ADS_2