Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 56


__ADS_3

"Mama ... Aileen pulang," teriak bocah itu terus meronta-ronta ingin diturunkan.


Dengan terpaksa Hans menurunkan anaknya itu dan tanpa tunggu lama, Aileen berlari ke arah Kanaya yang sedari tadi menunggu di depan pintu rumah.


"Mama Aileen rindu, Mama!" serunya segera naik ke atas pangkuan Kanaya.


"Mama juga sangat merindukan, Aileen. Kamu baik-baik saja kan, Nak? Nggak ada yang —"


Seketika Kanaya terdiam seribu bahasa saat melihat luka memar di kening anaknya. "Ini kenapa, Nak?" Kanaya terlihat amat panik.


"Kak, kenapa kening Aileen memar? Siapa yang melakukan ini, siapa Kak!" Kanaya mulai tak bisa kontrol emosi lagi. Seperti biasa, Kanaya selalu merasa menggebu-gebu dalam suatu masalah.


"Sayang, kamu turun ya. Kasian Mama, terus kamu bisa masuk sebentar? Papa mau bicara rahasia dengan Mama," ucap Hans sambil mengacak-acak rambut Aileen.


"Baik Papa." Aileen menurut begitu saja. Begitu juga dengan Lusi, dia segera menyusul Aileen masuk ke dalam dan membiarkan mereka berdua bicara empat mata.


"Nay, ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu," ucap Hans.


"Kak, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi loh! Siapa yang membuat Aileen memar seperti tadi?" Kanaya masih terlihat penasaran dengan pelaku kekerasan pada anaknya.


"Tanpa aku jawab harusnya kamu tau siapa orang itu, Nay," balas Hans malas sekali menyebut nama wanita tua menyebalkan itu.


"Ternyata dia masih belum berubah, jika yang di sakiti aku, okelah nggak masalah tapi ini Aileen cucu kandungnya sendiri," ucap Kanaya langsung tau siapa orangnya. Jujur, hatinya kali ini benar-benar sakit melihat memar di kening Aileen.


"Sudahlah jangan bahas ini lagi, lagian wanita jelek itu sudah mendapat balasan setimpal." Hans jadi geram kembali jika mengingat Rita. Ingin sekali dia membunuhnya, tapi Hans tahan karena masih ingin hidup bersama dua wanita tercinta.

__ADS_1


"Ada hal yang lebih penting yang harus aku bahas, ini juga menyangkut hak asuh Aileen," sambungnya lagi.


Mendengar kata hak asuh Aileen, Kanaya tiba-tiba berubah expresi wajah nya dan menatap penuh tanya pada Hans. "Apa itu kak?"


"Sebelum datang ke rumah sakit, aku terlebih dulu menemui pengacara khusus keluargaku, disana kita saling membicarakan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi setelah Kennan tahu anaknya masih hidup," jelas Hans.


"Terus kak?" Kanaya semakin penasaran, dia ingin sekali tahu pembahasan mereka mengenai Aileen.


"Kita harus segera menikah, Nay. Kalau bisa dalam waktu tiga hari ini kita sudah sah menjadi suami istri. Kennan tak akan tinggal diam, dia pasti memakai jalur hukum untuk mendapatkanmu juga Aileen," sambung Hans. Sejenak dia mengambil nafas, agar emosinya tak terlalu menggebu-gebu.


"Jika kita menikah, kemungkinan besar hak asuh Aileen bersama kita, tapi jika tidak maka akan jatuh ke Kennan. Semua bukti kekerasan juga sudah aku siapkan, kita pasti menang kalau bisa mengikuti alur pengacaraku."


Penjelasan Hans sangat detail pada Kanaya, bahkan semua ucapan pengacaranya tak ada yang terlewat sedikitpun. Sehingga membuat Kanaya gampang mencerna ucapan itu dan segera mengambil keputusan.


"Jika memang itu yang harus dilakukan, maka aku siap menikah denganmu kapanpun, Kak." Kanaya langsung memberikan jawaban tanpa berpikir terlalu lama.


"Aku serius, Kak. Mungkin memang ini sudah waktunya untuk kita bersatu bukan? Meski tanpa Aileen, dari dulu kamu berjanji untuk menikahiku, maka tepati janji itu dan aku juga ingin menghabiskan waktu ini bertiga dengan kalian."


Hans sangat bahagia mendengar jawaban Kanaya, dengan sangat bahagia Hans memeluk erat Kanaya sampai sampai wanita di dalam dekapannya itu kehabisan nafas.


"Kak, aku nggak bisa nafas!" teriak Kanaya.


Spontan Hans melepaskan pelukannya, dia juga meminta maaf karena terlalu bahagia. Bahkan kini air matanya sampai menetes, saking bahagia mendengar jawaban calon istrinya.


"Aku pasti membahagiakanmu, Nay. Seluruh dunia akan ku berikan, asalkan kamu dan Aileen bahagia," ucap Hans sambil mengecupp lembut bibir Kanaya. Baru kali ini dia bertindak diluar batas, menciumm Kanaya yang statusnya masih calon istri.

__ADS_1


"Aku menanti janjimu itu." Kanaya membalas ciumann Hans, mereka berdua saling terhanyut sampai tak mempedulikan situasi di luar sana.


"Bagus ya! Cium-cium anak orang di luar rumah, dasar anak nggak ada akhlak sama sekali! Nikah dulu baru boleh sosor sampai nggak bisa nafas," ucap Dinda entah dari mana, tapi yang jelas Dinda segera menjewer telinga Hans agar menyudahi hal terlarang itu.


"Aduh, Ma. Sakit, ampun!"


Sungguh Kanaya amat sangat malu, tapi yang mau gimana lagi dia juga tak bisa menahan tawa ketika Hans di jewer seperti itu oleh mamanya.


Namun, tawaan dari Kanaya membuat semua keluarganya saling pandang. Awalnya mereka keluar karena mendengar jeritan Hans, tapi setelah diluar mereka semua melihat pemandangan sangat langkah.


Kanaya bisa tertawa lepas, lebih dari 6 tahun semenjak kejadian waktu itu, Kanaya tak pernah tertawa lagi. Mereka semua sangat terharu, kehadiran Hans benar-benar membawa perubahan yang amat besar.


"Papa, lihatlah Kanaya tertawa lepas," Abrian berkata sangat lirih.


"Jangan ngomong lagi, papa dari tadi juga sudah melihat." Suara Asloka sangat serak sekali sehingga membuat kedua anaknya menoleh ke Asloka.


"Papa menangis?" tanya Abian.


"Siapa yang menangis, huaaa ...." Asloka segera memeluk istrinya, dia menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan Anne.


"Jangan menangis, nanti Naya mendengar dan dia jadi sedih lagi." Anne berusaha menenangkan suaminya itu. Dia sendiri juga menangis, tapi tak sampai bersuara seperti Asloka.


"Hatiku tenang sekali, An. Sangat tenang, melihat Naya tertawa seperti itu," balasnya tak bisa berhenti menangis.


Karena tak ingin Kanaya mendengar semua, maka Anne memutuskan membawa suaminya masuk dan memberikan waktu untuk Asloka menangis sepuasnya di dalam kamar.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2