
"Masih ingat kamu ada istri disini? Aku kira kamu sudah lupa dan bersenang-senang di luar sana," sindir Asloka ketika melihat menantunya duduk di ruang tamu.
Tangannya sangat gatal sekali ingin meninju wajah Kennan, tapi dia tahan agar tak menimbulkan keributan yang berakhir membuat Kanaya bangun.
"Aku ada perlu dengan Naya, Om."
Asloka benar-benar terkejut mendengar Kennan memanggilnya om dan bukan papa lagi. Firasat Asloka sudah tak enak, pasti ada hal yang akan diucapkan Kennan setelah ini.
"Ck, Om! Apa kamu ingin menceraikan anakku?" tanyanya sambil menahan emosi.
"Bisakah aku bertemu Naya? Ini sangat penting dan mendesak, waktuku nggak banyak lagi, aku mohon izinkan aku bertemu istriku," ujar Kennan.
Pasalnya dia sudah tak memiliki banyak waktu, sebentar lagi Nabila akan menjalani pencangkokan jantung, namun Nabila bersikeras akan melakukannya jika Kennan benar-benar menuruti semua keinginannya.
"Iya benar, dia istrimu. Tanpa minta izin pun kamu bisa menemuinya kapanpun, tapi kamu juga harus ingat Kennan, Kanaya hanya istri bayanganmu saja, istri yang tak pernah kau anggap!"
Brakk!!
Habis sudah kesabaran Asloka, dia mendekati menantunya dan menarik kerah baju Kennan. Muak sekali Asloka menatap wajah munafik seorang Kennan, apalagi sikap plin-plannya yang selalu membuat Kanaya terluka.
"Om, aku nggak ada waktu bertengkar!"
"Aku juga nggak punya waktu meladenimu, Bajingann! Kamu tau apa yang di alami anakku setelah pulang dari Australia, ha? Apa kamu tau KENNAN!" teriak Asloka semakin membuat suasana di dalam rumah tegang.
"Om—"
"Kanaya kondisinya memburuk, Kennan. Sangat buruk dan bisa-bisanya kamu melupakan dia dalam sekejap." Tubuh Asloka langsung merosot ke bawah.
Abrian yang melihat itu pun segera mendekati papanya, tapi Asloka melarang siapapun mendekatinya.
"Dia menunggumu Kennan, Naya menginginkan kamu di dekatnya. Aku memohon padamu Kennan, beradalah di sisi Kanaya untuk terakhir kalinya. Aku sebagai papanya sangat memohon padamu, Kennan." Asloka bersujud di kaki Kennan, dia berharap menantunya ini luluh.
__ADS_1
"Papa jangan rendahkan diri papa, Abrian mohon jangan seperti ini."
"Tolong Kennan, penuhi permintaan terakhir putriku. Dia hanya ingin bersamamu di masa-masa terakhirnya, aku mohon Kennan." Asloka benar-benar tak memperdulikan larangan Abrian.
Sedangkan Khadijah maupun Anne hanya bisa menangis melihat Asloka seperti ini, baru kali ini mereka melihat Asloka meredakan dirinya hanya untuk putri semata wayangnya.
"Pa-pa, ja-jangan la-kukan ini ...."
Deg!!
Semua orang pun terdiam kaku setelah mendengar suara lemah Kanaya. Asloka yang tadinya fokus bersujud kini menoleh kebelakang.
"Naya, kamu sudah siuman Nak!" Asloka berlari ke arah putrinya yang digendong Abian. Sedangkan Andreas hanya bisa pasrah ketika Kanaya memaksa untuk keluar tanpa memakai kursi roda.
"Pa-pa, ja-ngan meren-dahkan diri pa-pa han-ya un-tuk Naya," lirihnya sangat terbata-bata.
"Kennan sudah ada disini, Nak. Kamu sudah senang kan, dia ada disini. Lihatlah Kennan sudah disini," ucap Asloka mengambil alih Kanaya dari gendongan Abian. Setelah itu Asloka bawa Kanaya ke depan Kennan, dia berharap dengan bertemunya mereka kondisi anaknya bisa stabil.
Satu sisi ada Nabila yang harus segera menjalani operasi, di sisi lain kondisi Kanaya yang sangat memburuk. Kennan bingung harus seperti apa saat ini.
"Kak," lirih Kanaya ingin meraih tangan Kennan tapi tak sampai.
"Pa, turun-kan ak-u," pinta Kanaya.
"Tapi, Nay."
"Ak-ku kua-t," balas Kanaya.
Meski ragu Asloka akhirnya menurunkan Kanaya, tapi Asloka tetap menjaga anaknya agar tidak terhuyung-huyung.
"Kak," lirihnya lagi. Kali ini Kanaya bisa menggenggam erat jemari-jemari suaminya, rasa rindunya pun juga terobati meski hanya sedikit saja.
__ADS_1
"Nay, Maaf ...."
"Jangan katakan apapun, Kak. Aku hanya ingin memelukmu untuk terakhir kali saja, boleh kan?" tanyanya sambil tersenyum. (Anggap saja terbata-bata)
"Aku nggak ada waktu—"
"Sebentar saja, nggak sampai satu menit."
Tanpa menunggu jawaban Kennan, dia langsung memeluk suaminya sendiri. Kanaya hidup kuat-kuat aroma tubuh suaminya, pelukannya juga semakin erat seakan-akan dia tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Naya, aku ceraikan kamu. Aku bebaskan kamu dari pernikahan penuh luka ini, maaf belum bisa menjadi suami yang sempurna untukmu."
Duaar!!
Bagaikan tersambar petir di siang bolong itulah yang mereka rasakan, ucapan Kennan barusan membuat mereka shock dan tak menyangka jika Kennan akan menceraikan Kanaya.
"Bajingann!"
Brakkk!!
Belum juga Asloka menonjok Kennan, mereka sudah dikejutkan dengan pingsannya Kanaya. Semua orang sangat panik apalagi Kanaya langsung mengalami pendarahan setelah mendengar talak dari Kennan.
"Kanaya!"
Asloka pun terpental jauh ketika seorang lelaki datang dan langsung menyingkirkan tubuhnya. Otaknya masih kosong, dia tak mengenali siapa orang di depannya tapi Asloka tak mau mempermasalahkan semua, yang dia mau segera membawa anaknya ke rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya DENDAM CINTA SANG CASANOVA Author Neng Syantik jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1