Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 36


__ADS_3

"Dokter! Mana Dokter, cepat di mana Dokter!" teriak Hans sambil menggendong tubuh Kanaya menuju UGD.


Hans merasa pintu masuk terlalu padat sehingga membutuhkan waktu untuk masuk ke dalam RS, sedangkan Hans tak mau menunggu lama sehingga dia memutuskan menggendong Kanaya masuk dari pintu masuk menuju UGD.


"Kenapa ini?" tanya seorang perawat laki-laki sambil membawa brankar.


"Dia pendarahan, tolong selamatkan nyawa kekasihku!" serunya semakin tak karuan. Tangannya berlumuran darah, sehingga membuat Hans berpikir tidak-tidak.


"Silakan urus pendaftaran, kami akan mengusahakan sekuat tenaga untuk menolongnya," balas Perawat terus mendorong brankar masuk ke dalam.


Begitu juga Andreas, dia juga mengikuti perawat tadi untuk melihat kondisi Kanaya.


"Jefri, tolong urus pendaftaran Kanaya. Aku belum bisa mengurus ini, tanganku dan kakiku begitu lemas!" seru Hans langsung terduduk lemas di lantai.


"Tuan!"


"Jangan hiraukan aku, cepat urus jangan sampai terlewatkan!"


Jefri pun tak bisa menolak, dia terpaksa meninggalkan tuannya dan mengurus administrasi Kanaya. Tak lama setelah itu, keluarga Kanaya datang dengan perasaan khawatir.


"Dimana anakku?" tanya Asloka.


"Dia di dalam, Om," lirih Hans. Kepalanya benar-benar sakit, melihat darah sebanyak itu membuat fobia nya kambuh.


"Kamu masih seperti dulu, Kak? Fobia akan darah, tapi masih memaksakan diri menggendong Naya," ujar Abian sambil membawa tisu basah.


Abian mengelap seluruh sisa-sisa darah adiknya itu, bahkan Abian memberikan minyak kayu putih agar Hans tak terlalu mencium bau darah.


"Kamu masih mengenaliku?" tanya Hans.


"Masih. Kamu adalah orang yang paling Kanaya tunggu dari dulu sebelum ada insiden ini, setiap malam dia selalu menceritakanmu dan selalu memujimu," kata Abian dengan mata berkaca-kaca.


Dia jadi ingat betapa girangnya Kanaya saat bercerita jika Hans akan datang melamarnya kalau urusannya sudah selesai. Setiap tahun adiknya menunggu, tapi sayangnya Hans tak pernah ada kabar.

__ADS_1


"Bahkan fotomu saja masih melekat di lehernya. Bukan hanya di leher, tapi di kamarnya pun masih tersimpan rapi," ucapnya lagi.


Hans langsung merenung mendengar cerita Abian, dia menyesal telah menghilang selama tujuh tahun lamanya. Waktu itu umur Kanaya masih tiga belas tahun, sedangkan untuk menikahinya pun tak mungkin, jadi Hans berjanji akan kembali kalau Kanaya sudah dewasa dan akan menikahinya.


Namun, karena terlalu rumitnya masalah perusahaan, Hans terpaksa mengesampingkan Kanaya dan fokus membangkitkan perusahaan yang hampir bangkrut karena satu masalah.


"Maaf, andai aku datang lebih cepat ...."


"Semua sudah terjadi, aku harap kembalinya kamu menyembuhkan luka adikku."


Hans hanya mengangguk kecil, tak lama setelah itu Andreas keluar dari ruang UGD dan langsung menemui Asloka.


"Bagaimana keadaan Naya, Dre?"


"Tak ada jalan lain, kita harus segera mengeluarkan anaknya. Tapi, kita hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka," kata Andreas.


Shock? Anne dan Asloka pun semakin tak karuan, bagaimana bisa hanya salah satu yang diselamatkan padahal mereka ingin dua-duanya bertahan.


"Kondisi Naya sudah tak memungkinkan, Laka. Kita hanya bisa menyelamatkan salah satunya saja, entah itu anak atau ibunya. Kalian berdoa saja agar ada mujizat sehingga keduanya bisa selamat," jelas Andreas.


Anne semakin histeris, dia memeluk erat Asloka. Otaknya tak bisa membayangkan jika anaknya tak tergolong, hatinya pasti sangat hancur meratapi kepergian Kanaya.


"Selamatkan ibunya!" seru Kennan tiba-tiba muncul entah dari arah mana.


"Mau apa kamu kesini, ha!" Hans langsung berdiri dan mendorong tubuh Kennan agar menjauh dari keluarga Kanaya.


"Aku suaminya!" tegas Kennan.


"Suami? Ha ha ha, jangan lupa jika kamu sudah menceraikannya, bangsaaat!" Hans semakin murka.


"Aku--"


"Stop! Aku papanya dan yang berhak memberikan keputusan adalah aku, kalian semua diam!" teriak Asloka.

__ADS_1


Dia sudah muak dengan drama ini, Asloka akan mencoba ikhlas dan mengikuti apa mau anaknya. Dari awal Kanaya ingin anaknya lah yang selamat, jadi Asloka akan mengabulkan permintaan putrinya.


"Se-selamatkan bayinya!"


"Papa!" seru Abrian dan Abian.


"Laka, apa maksudnya ini?" Anne juga sangat terkejut.


"Om—"


"Ini permintaan terakhirnya, biarkan terwujud. Jangan semakin menyiksanya, cukup, aku nggak mau melihat dia tersakiti lagi," lirih Asloka.


"Tapi nggak begini Asloka! Aku nggak mau anakku--"


"Anne! Jangan memperumit keadaannya! Ndre segera lakukan yang terbaik, aku percaya kamu," putus Asloka tak dapat diganggu gugat.


Meski sangat berat, Asloka akan mencoba tegar. Dia yakin Tuhan tidak tidur, semoga sudah menjadi takdir, jika anaknya memang berumur panjang pasti akan selamat meski dia memilih mempertahankan cucunya.


"Jika itu keputusanmu, tanda tangani surat persetujuan tindakan. Kita tak punya banyak waktu, sebelum semuanya terlambat." Andreas pun meminta salah satu perawat untuk membawa Asloka ke tempat administrasi.


"Lakaa!


...----------------...


Gais emak mau minta maaf ya, jika kemarin ada salah-salah kata. Emak ngomong nya juga nggak dipikir 2x, pemikiran emak emang sama kek kalian. tapi emak cuma nyeritain apa yang di otak Kanaya, intinya emak minta maaf jika sempat menyinggung hal sensitif 🤧🤧🙏🙏🙏


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.


Judulnya Kakak Iparku Cinta Pertamaku Author alya aziz jangan lupa ya 😍😍


__ADS_1


__ADS_2