
Kanaya terus menatap senang ke arah hasil USG miliknya, dokter mengatakan jika anaknya berjenis kelammin perempuan. Tubuhnya sangat sempurna, bahkan sangat sehat di dalam sana dan membuat Kanaya lega.
"Ini anakku, Lus." Kanaya masih berkaca-kaca menatap hasil USG 4D dari rumah sakit.
"Iya Nona, bayinya juga sangat gemuk." Lusi ikut senang melihat bayi Kanaya tak kenapa-napa, padahal Lusi sempat takut anak itu cacat atau kekurangan sesuatu karena ibunya selalu mengkonsumsi obat keras secara acak meski tak setiap hari.
"Lus, jika nanti aku pergi, tolong rawat anakku seperti kamu merawatku ya?"
Lusi terhenyak mendengar perkataan Kanaya, entah kenapa dia sampai berbicara seperti itu padahal dokter bilang kondisinya mulai sedikit stabil meski hanya sedikit.
"Saya pasti akan menjaga putri Nona, kita rawat bersama-sama dengan tuan dan nyonya," kata Lusi berusaha berpikir positif.
"Iya kalau aku bisa bertahan sampai putriku dewasa, kalau tidak?"
Kanaya melempar senyuman pada Lusi. Sungguh sebenarnya dia sendiri sangat sesak mengatakan semua, tapi dia juga harus bersiap-siap mengikhlaskan semua. Dirinya bagaikan bom waktu, kapanpun bisa meledak jika waktunya telah habis.
"Nona pasti baik-baik saja, yakin sama saya. Buang fikiran negatif, semangat untuk sembuh dan saya yakin Nona bisa melihat putri anda bertumbuh sampai dewasa," kata Lusi lagi.
Kanaya hanya bisa mengangguk kecil, dia kembali menatap hasil USG nya. Ada rasa sedikit kecewa, ketika Kennan tak menjenguknya sebentar, padahal mereka satu rumah sakit. Tapi, Kanaya sadar dia hanya istri sementara jadi sebisa mungkin menepis segala perasaannya.
"Nona jangan sedih, seperti ini nanti saya menjelaskan pada tuan bagaimana? Oh ya, saya lupa memberitahu Nona, jika tuan berangkat ke sini dari siang tadi, mungkin sekarang masih ada di pesawat," ucap Lusi lupa memberitahukan masalah ini pada Kanaya, dia terlalu sibuk mengurus perlengkapan mereka sampai lupa segalanya.
"Ha? Kamu serius, Lus? Kenapa baru bilang sekarang, jelas dari tadi aku hubungi papa selalu centang satu," balasnya sedikit tak percaya.
"Maaf, saya terlalu fokus beres-beres."
__ADS_1
Kanaya terdiam sejenak, jika papanya sudah berangkat otomatis dia harus siap-siap balik ke Indonesia bersama papanya dan meninggalkan Kennan.
"Berarti kita akan kembali ke Indonesia? Secepat itu ya, Lus," lirih Kanaya tersenyum kecut. Baru saja dia merasakan bagaimana rasanya di sayang oleh suami, tapi dia harus segera pergi dari sisi Kennan.
"Iya Nona, sekarang lebih baik kita balik ke hotel. Obatnya juga sudah ditebus kan, jadi ayo kita kembali," ajak Lusi dan Kanaya hanya mengangguk.
Di perjalanan menuju lobby rumah sakit, mata Kanaya seperti mencari-cari seseorang tapi sayang dia tak menemukannya, jadi Kanaya hanya bisa pergi dengan keadaan kecewa.
***
Malam harinya, Kanaya merasakan ada sebuah tangan melingkar erat di perutnya. Dia membuka mata secara cepat dan menoleh kebelakang, berharap itu adalah orang yang sangat dia rindukan sehari penuh ini.
"Kak," lirih Kanaya berusaha mendongak ke atas. Cahaya temaram dari lampu tidur, juga mata yang masih mengantuk membuatnya sulit mengenali orang di depannya.
"Maaf, mengganggu tidurmu," ucap Kennan sangat lirih. Dia juga merapikan anak rambut Kanaya yang bertebaran dimana-mana, agar bisa melihat wajah cantik istrinya.
"Iya, tadi Nabila sedikit mengalami komplikasi jadi lama saat melakukan pemeriksaan. Maaf, seharian penuh nggak memberi kabar kamu." Kennan menciuum lembut bibir Kanaya.
Namun, Kennan sedikit kaget ketikan Kanaya membalas ciiuman nya dan menahan kepala Kennan agar tak mengakhiri semua.
Kennan terbawa suasana, dia akhirnya merubah posisi tubuhnya menjadi di atas Kanaya, sedangkan tangan Kanaya melingkar di leher Kennan sehingga mereka berdua saling menikmati cumbuaan satu sama lain.
Tangan Kennan pun mulai tak bisa diam, dia berusaha membuka baju tidur yang dikenakan istrinya sampai berhasil memperlihatkan dua gundukan milik Kanaya. Dengan mata yang diselimuti hasrat, Kennan mendaratkan bibirnya di puncak buah dadaa Kanaya.
"Emm, Kak!" Kanaya merasa tubuhnya tersengat listrik, seluruh badannya menjadi merinding ketika Kennan terus memainkan puncak dadaa nya.
__ADS_1
Dia hanya bisa meracau, meremass rambut Kennan sebagai penyaluran rasa yang diberikan Kennan. Tak berhenti disitu saja, Kennan juga menjelajahi lehernya sampai meninggalkan beberapa tanda kemerahan yang nantinya pasti akan berbekas.
"Nay, kamu serius mau melakukanya?" tanya Kennan memastikan, mumpung dia masih waras dan bisa menahan, jika sudah di ubun-ubun mungkin Kennan tak akan pernah bisa berhenti.
"Iya."
Hanya itu yang keluar dari mulut Kanaya, dia terlanjur malu untuk banyak bicara, sungguh baru kali ini dia seintimm ini dengan suaminya. Awalnya dia hanya ingin memberikan kenang-kenangan terakhir, sebelum akhirnya Asloka datang dan membawa Kanaya pergi.
"Aku nggak mau kamu melakukan semua karena terpaksa, jadi aku tanya sekali lagi, apa kamu sungguh-sungguh mau melakukannya sampai tuntas?" Kennan terus menatapnya, sehingga Kanaya reflek mendorong wajahnya sampai mendongak ke atas.
"Iya, aku sudah bilang iya. Jangan terlalu menatapku seperti itu, sumpah aku malu banget tau nggak kak!"
Kennan tertawa melihat tingkah laku Kanaya, dia pun menyingkirkan tangan istrinya dan kembali mencium bibir Kanaya. "Baiklah, kalau kamu merasa sakit atau nggak nyaman bilang ya, aku akan berusaha pelan-pelan tapi nggak untuk berhenti," birik Kennan semakin membuat Kanaya bimbang.
Dia ingin mengurungkan niatnya, tapi semua percuma karena Kennan sudah mulai kembali mencumbuu dirinya sampai mereka berdua sudah tak memakai apapun. Kennan, berusaha membuat Kanaya rileks agar tidak takut, mengingat ini kali kedua mereka melakukan hubungan lebih jauh.
"Kak, jangan kasar-kasar ya." Kanaya mewanti-wanti suaminya. Takut, jika kejadian dulu terulang kembali, dimana Kennan terus memaksa melayaninya, padahal saat itu dia sudah merasakan sakit luar biasa.
"Kamu tenang saja, Nay. Aku sekarang sadar seratus persen, jadi akan ku lakukan secara perlahan."
Kanaya percaya sepenuhnya pada Kennan, dia juga hanya bisa menerima perlakuan suaminya. Dia mulai merasakan rileks, apalagi Kennan sangat pintar mengalihkan rasa kegugupannya.
Meski awalnya dia merasa sakit, saat benda tumpull memasukinya, tapi semua tak berlangsung lama karena Kennan begitu hati-hati melakukannya sampai mereka berdua sama-sama menikmati surga dunia.
...****************...
__ADS_1
Hai emak kembali lagi, jangan lupa tinggal kan kesan dan pesan kalian di kolom komentar 😉
Banyak kata dobel, demi lolos Riview. Tapi jika masuk meja editor, ya lama 🤠update jam 21:10 tanggal 1, lolosnya entah kapan.