
Hans berjalan memasuki rumah sakit dengan langkah cepat, setelah mengetahui keberadaan Aileen dia segera meluncur ke sana dan tak mau membuang-buang waktu lagi.
Dia sudah bertekad akan merebut Aileen bagaimanapun juga, meski harus melewati jalur hukum. Sebelum Hans ke rumah sakit, dia sempat berkonsultasi dengan seorang pengacara terhebat di Jakarta dan orang itu mengatakan jika Hans bisa menang dalam hak asuh apalagi Kanaya mendukungnya kali ini.
"Dimana ruangannya?" tanya Hans pada Lusi.
"Ada disini, Pak. Non Aileen juga sedang tidur," balas Lusi.
Setelah mendapat telepon dari Asloka, Lusi segera menuju rumah sakit, dia ingin membawa Aileen tapi Burhan melarangnya dengan alasan ingin menghabiskan waktu bersama cucunya sebelum Hans datang menjemput Aileen.
Lusi tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa diam dan mengikuti kemana saja Burhan mengajak Aileen pergi.
"Terima kasih sudah menjaga Aileen selama aku belum datang," ucap Hans dan Lusi hanya menganggukkan kepala.
Hans segera masuk ke dalam ruangan Kennan dan matanya langsung melihat pemandangan menyakitkan hati, dimana Kennan tidur memeluk putrinya dengan erat.
Hatinya sangat sakit, tapi Hans tak bisa berbuat apa-apa takut jika Aileen terbangun dan kaget dengan sikapnya.
"Hans, kamu sudah datang," lirih Burhan saat menyadari kedatangan Hans.
"Aku mau bawa pulang anakku, tolong bangunkan dia atau aku yang akan menyeret lelaki bajingann itu agar melepas pelukannya pada Aileen!" seru Hans masih menahan amarahnya.
"Hans, tolong beri Kennan waktu sebentar saja setidaknya sampai besok, biar Kennan mengobati rasa rindunya pada Aileen," ucap Nabila Tiba-tiba muncul dari belakang Hans.
Dia tadi ingin mencari makanan ringan di bawah, tapi setelah melihat Hans datang Nabila mengurungkan niatnya dan kembali ke atas.
"Dia nggak ada hak merindukan Aileen, dari awal Kennan tak menginginkan anaknya, jadi sekarang jangan menyesal," tegas Hans mulai memanas.
"Dia papa kandungnya, Hans!" Nabila sedikit meninggikan ucapannya.
"Dan kamu lupa, jika Kennan sudah memutuskan hubungannya dengan Aileen jauh sebelum dia lahir!"
Hans tak sabar lagi, dia langsung menghampiri ranjang khusus penunggu pasien. Dengan perlahan Hans membelai lembut pipi gembul anaknya sambil berkata, "Sayang, Papa sudah datang. Bangun, Nak. Ayo kita pulang."
Meski suaranya sangat lirih, tapi itu bisa membangunkan Aileen yang tertidur lelap. Bocah itu mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menggeliat kecil.
__ADS_1
"Sayang, ini Papa. Ayo kita pulang, mama sudah nungguin di rumah," lirih Hans lagi.
Seketika kesadaran Aileen pulih sepenuhnya, matanya langsung terbuka lebar dan memandang Hans dengan penuh bahagia.
"Papa!" Aileen terduduk langsung dan tak menyadari pergerakannya membuat Kennan meringis sakit, sampai ikut terbangun.
"Aduh."
"Kenapa Om Jahat ada disini, minggir Aileen nggak mau disentuh Om Jahat!" Aileen segera mendorong Kennan agar tangannya menyingkir.
"Papa, gendong Aileen!"
Dengan cepat Hans menggendong Aileen, dia peluk erat anaknya dan mencium pipinya berkali-kali. "Papa sangat merindukanmu, Nak."
"Aileen juga, ayo kita pergi dari sini. Aileen nggak mau bertemu mereka lagi," ajak Aileen semakin erat memeluk Hans.
Hans mengangguk, dia bergegas pergi dari sana tapi Kennan mencegahnya dan melarang Hans membawa Aileen.
"Jangan bawa anakku, Hans! Kamu nggak ada hak dengan Aileen, dia putriku!"
Sungguh Hans rasanya ingin membunuh Kennan, tapi dia sadar emosinya harus ditahan apalagi di depan Aileen.
Mendengar namanya disebut, emisinya langsung naik, tapi baru saja mulutnya akan bersuara Burhan segera menahan istrinya agar tak membuat masalah dengan Hans.
Burhan tau bagaimana Hans, jika barangnya disentuh sedikit saja yang ada hanya kehancuran. Cukup anaknya saja, jangan sampai istrinya menjadi korban Hans juga.
"Sayang, kamu sama Mbak Lusi dulu ya. Papa masih ada urusan sama mereka, kamu tunggu Papa di mobil," ucap Hans segera menyerahkan anaknya pada Lusi.
Dia bahkan tak memperdulikan teriakan Kennan yang melarangnya untuk membawa Aileen. Setelah Lusi benar-benar keluar, barulah Hans menampilkan senyuman devil ke arah Rita.
"Apa? Kamu kira aku takut denganmu, dasar lelaki aneh! Bawa pergi anak sialan itu, jangan pernah kamu bawa dia ke hadapanku lag—"
Belum juga Rita menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Hans berjalan cepat ke arahnya dan langsung mencekik lehernya sangat kuat.
"Kamu gila!" teriak Rita berusaha melepaskan tangan Hans.
__ADS_1
"Hans, jangan bertindak gegabah," ucap Burhan ikut panik, bagaimanapun juga Rita itu istrinya, jadi meski posisinya salah Burhan akan berusaha melindunginya.
"Berani sekali kamu menyentuh anakku!" serunya tak mau mendengarkan Burhan. Hans kepalang kesal dengan perlakuan Rita, dia pikir Rita akan bersikap baik dengan Aileen nyatanya tidak sama sekali.
"Anak haram itu tak pantas untuk—"
Brakkk!
Tanpa diduga Hans membanting tubuh Rita tanpa ada rasa takut, semua orang di sana sangat terkejut dan tak menyangka Hans akan seberani itu pada wanita.
"Hans!" Burhan menarik tangan Hans agar tidak melanjutkan semuanya.
"Aku mewakili keluargaku untuk meminta maaf pada semua kesalahan anak istriku, tolong jangan seperti ini, yang ada nanti kamu mendapatkan masalah, Hans," ucap Burhan sangat-sangat memohon.
"Kalian pikir aku akan takut? Jika itu menyangkut Aileen, aku berani menaruhkan nyawaku! Mulut busuknya menyebut anakku Haram, apa otaknya lupa jika yang menciptakan keharaman itu adalah anaknya sendiri. Cih, keluarga kalian benar-benar menjijikkan!" serunya tak bisa mengontrol emosi lagi.
"Dan kamu, Kennan!" Hans ingin mendekati Kennan, tapi dengan cepat Nabila menghadang Hans tanpa rasa takut.
"Lihatlah istrimu, dia sangat mencintaimu bahkan berani menghadang ku tanpa rasa takut, harusnya otakmu berpikir, daripada mengejar calon istri orang lebih baik bahagiakan istrimu sendiri," ucap Hans berhasil membuat Kennan terdiam, dia kehabisan kata-kata jika berhadapan dengan Hans.
"Masalah Aileen, jika kamu terus inginkan dia, maka aku siap maju ke pengadilan. Aku yakin seratus persen, kamu akan kalah. Mulai dari nasab Aileen, hubungan tanpa cinta, perceraian bahkan keinginan mereka ada padaku bukan padamu, jadi daripada buang-buang tenaga lepaskan semua, terima nasib, hiduplah dengan duniamu sendiri dan jangan ganggu kami!" seru Hans sekali lagi.
Setelah puas memaki-maki mereka, Hans segera meninggalkan ruangan Kennan. Dia tak ingin berlama-lama di sana, karena urusannya sudah selesai. Sedangkan Kennan, dia hanya terduduk diam mencerna ucapan Hans.
"Lihatlah Kennan, Hans lebih mencintai mereka daripada dirimu. Lepaskan mereka dan jangan membuat masalah lagi, jika kamu terus nekat, papa tak akan mendukungmu sedikitpun," ucap Burhan semakin melukai hati Kennan.
Kennan merasa sangat menyesal telah menyia-nyiakan Kanaya dulu, jika tau akhirnya seperti ini dia tak akan pernah menuruti permintaan Nabila.
"Mas ...."
"Ini semua salahmu, Bil. Ini semua salahmu, jika aku tak sebodoh itu mungkin mereka ada disini sekarang, semua kare — akhhh!"
Kennan mendadak merasakan sakit luar biasa di perutnya, keringat dingin mulai bercucuran dan membuat Kennan tersiksa. Semua orang panik, kecuali Burhan, lelaki itu hanya diam menyaksikan penderitaan anaknya.
Bukan dia tak memiliki hati, tapi Burhan sangat kecewa pada anaknya yang belum bisa sadar akan kesalahannya dan malah menyalahkan orang lain akan kejadian ini.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...