
Hans berjalan memasuki rumah sakit sambil menggendong Aileen, dadanya begitu sesak saat membayangkan bagaimana reaksi putrinya jika melihat Kanaya terbaring lemah di rumah sakit.
Hatinya sudah menangis duluan, merasa tak tega dan ingin kembali saja. Namun, karena dorongan kuat dari papanya tega tak tega Hans harus mempertemukan mereka.
"Papa, kok nangis?" tanya Aileen sambil menghapus air mata di pipi Hans.
"Papa nggak nangis, Sayang," lirih Hans mencium lembut pipi gembul Aileen.
"Papa bohong, kata Oma bohong itu dosa. Papa jangan nangis lagi ya, kita kan mau bertemu mama. Harusnya papa bahagia," oceh Aileen semakin membuat Hans menangis.
Sungguh dia sangat menyayangi Aileen, bahkan menganggapnya sebagai anak sendiri. Hans sempat takut, jika suatu hari nanti Kennan tahu Aileen masih hidup dan membawanya pergi.
"Aileen sayang sama Papa?" tanya Hans berlinang air mata.
"Sangat sayang! Papa selalu ada di hati Aileen, nggak ada yang bisa menggantikan Papa selama-lamanya," jelas Aileen dan Hans pun tertawa.
"Jika suatu hari nanti ada yang ingin membawa Aileen pergi jauh dan tak bisa bertemu Papa lagi, apa Aileen akan tetap ikut?" tanya Hans lagi. Meski sakit, tapi Hans ingin tau jawaban anaknya.
"No, Papa! Aileen hanya mau Papa dan sampai kapanpun Aileen milik Papa, siapa sih yang mau ambil Aileen, sini bilang nanti Aileen hukum!" serunya membuat hati Hans sedikit tenang.
"Kamu memang anak Papa, Sayang." Hans mencubit gemas hidung mancung Aileen. Semakin hari Aileen semakin mirip dengan Kennan dan ini yang membuatnya bimbang, dulu waktu bayi anaknya sangat mirip Kanaya, tapi semakin besar Aileen malah semakin mirip Kennan. Seperti Kennan versi perempuan.
"Kita sudah sampai di ruangan mama, nanti Aileen pakai baju ganti dulu agar steril, setelah itu baru kita bertemu mama," jelas Hans.
"Horeee, akhirnya Aileen bisa bertemu mama!"
Sorak gembira dari Aileen semakin membuat Hans yakin jika anaknya tak akan kenapa-napa setelah melihat Kanaya dan Hans berusaha menyingkirkan rasa parno dalam hati, sehingga dia mantap membawa masuk Aileen tanpa rasa ragu.
__ADS_1
Perlahan-lahan, Hans masuk ke dalam sambil menuntun Aileen. Dia kembali sedih saat melihat Kanaya masih belum juga mau membuka matanya, alat alat medis yang jadi penunjang Kanaya juga membuat Hans teriris perih membayangkan bagaimana sakitnya ketika alat-alat itu menusuk tubuh kurus wanita pujaan hatinya.
Hans mendekati ranjang pesakitan Kanaya. Setelah itu dia menarik nafas panjang dan langsung mencium kening Kanaya sangat lama, tanpa sadar air matanya lagi-lagi menetes sampai sesegukan.
"Sayang, aku datang membawa anak kita. Dia sudah besar sekarang, bahkan sangat cerewet dan memaksa ingin bertemu denganmu," lirihnya terbata-bata.
"Dia mirip sekali dengan Kennan, apa kamu nggak mau bangun dan melihatnya?" tanya Hans. Jangan tanya bagaimana perasaannya saat ini ketika mengatakan semua, rasanya sangat sakit, tapi Hans lakukan barangkali bisa membuat Kanaya sadar.
"Sayang, kemarilah. Sini Naik ke atas kursi, biar kamu bisa melihat mama," ujar Hans dan Aileen langsung merentangkan tangannya agar Hans cepat membantunya naik ke atas kursi.
Hans tersenyum lembut, dia mengangkat Aileen dan menaruhnya ke atas kursi. Tak lama setelah itu Hans melihat Aileen tersenyum lembut, sambil menyentuh sudut mata Kanaya.
"Mama juga menangis, Pa?" Aileen memberitahu Hans.
"Mungkin mama tau kalau Aileen datang, hanya saja mama belum bisa membuka matanya," jawab Hans.
Aileen mengangguk, setelah itu dia mencium pipi Kanaya. Ingin sekali Aileen memeluk mamanya, tapi sayang dia tak bisa melakukan itu.
Hans merasa aneh dengan semua ini, dia memutuskan untuk menemui dokter yang merawat Kanaya. Sementara Hans menitipkan Aileen pada suster, dia senja tak membawa anaknya agar motorik Kanaya bisa menangkap keberadaan Aileen.
***
Di sisi lain, Nabila menatap kesal pada suaminya yang baru saja pulang. Dia paham betul dari mana Kennan, karena hampir setiap hari suaminya itu selalu mampir ke makan Kanaya sampai larut malam.
Bukan dia tak mengizinkan, tapi Nabila merasa perhatian Kennan benar-benar hilang untuknya semenjak kematian wanita itu.
"Ingat pulang kamu, Mas?" tanya Nabila penuh emosi.
__ADS_1
"Jangan cari ribut, aku capek mau istirahat!" balas Kennan tak menatap Nabila sedikitpun.
"Capek darimana? Kamu seharian ini nggak kerja hanya ada di makam Naya dan anakmu itu, mau sampai kapan kamu seperti ini, Mas!"
"DIAM!"
Kennan langsung membentak Nabila, dia bahkan hampir menampar wajah istrinya. "Kenapa berhenti? Tampar, tampar aku Mas, jika itu membuatmu bahagia! Jika akhirnya seperti ini kenapa kamu memilihku, seharusnya biarkan aku ma--"
Plakk!
"Jaga mulutmu, Nabila! Seharusnya kamu bersyukur masih bisa hidup, jangan dikit-dikit bilang mati, mati, mati!" bentak Kennan semakin memanas.
Hilang sudah kesabarannya, berkali-kali Nabila selalu mengatakan kematian. Bagi Kennan ucapan itu sangat tak pantas diucapkan, apalagi Nabila termasuk orang yang beruntung karena lolos dari kematian berkat orang lain.
"Bagaimana aku mau bersyukur, Mas. Jika selama enam tahun aku hidup dengan suami yang tak bisa lepas dari bayang-bayang mantan istri keduanya, bagaimana bisa Mas?" Nabila pun menangis.
Dia merasa suaminya bukanlah suaminya lagi, mereka memang serumah tapi selama enam tahun Kennan tak pernah mau menyentuhnya lagi. Bahkan sekedar bersantai menikmati hidup saja tak bisa, jadi bagaimana dia bisa bersyukur.
"Aku capek, Bil. Aku capek, jangan bahas ini lagi. Stop mempermasalahkan hal yang tak perlu dipermasalahkan, sekarang fokuslah pada hidupmu sendiri. Tapi, jika kamu minta aku untuk seperti dulu nggak bisa, perasaan bersalahku pada Kanaya sangat besar melebihi apapun. Demi mengikuti permintaanmu, aku sampai melakukan kesalahan fatal sampai kehilangan anak yang sangat ku nanti-nanti," ucap Kennan bergegas pergi.
Nabila semakin menangis, dia tak bisa terus seperti ini. Selama ini Nabila juga selalu berkorban dan makan hati, jika memang Kennan sudah tak bisa digenggam terus buat apa masih bertahan.
"Mas, kita bercerai saja."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya BETWEEN QATAR AND JOGJA Author Yanktie Ino jangan lupa ya 😍😍