
Kanaya membuka mata dengan sangat perlahan, dia melirik kanan dan kirinya tidak ada siapa-siapa. Kanaya merasa seperti orang yang dibuang, di saat seperti ini tidak ada orang yang menemaninya.
Sejenak dia melihat tangannya, dua-duanya ditusuk jarum infus serta slang khusus kantong darah. "Begini lagi," keluh Kanaya.
Tak lama setelah itu, seorang suster masuk ke dalam sambil membawa peralatan medis. "Selamat Malam, Bu Kanaya? Ibu sudah bangun, hari ini ada jadwal pemeriksaan kandungan, apa suami ibu bisa dihubungi sebentar untuk menemani pemeriksaan?" tanya Suster.
"Maaf Sus, sepertinya suami saya tidak bisa β"
"Bisa Sus, kalau boleh tau jam berapa ya?"
Suara Kennan pun memenuhi ruangan Kanaya, dia langsung melirik ke sampai dan melihat suaminya berdiri tegak dengan nafas tak beraturan.
"Sebentar lagi, Pak. Ini saya disuruh menjemput bu Kanaya dan membawanya ke ruang pemeriksaan," balas suster.
Kanaya sangat tercengang melihat Kennan, sikapnya kali ini benar-benar lembut. Ingin sekali dia menanyakan perubahan sikap itu, tapi ingatanya dalam beberapa hari lalu kembali teringat. 'Hanya sandiwara, iya ini hanya sandiwara,' batin Kanaya.
"Permisi, mari saya bantu duduk di atas kursi roda," ucap suster sangat lembut.
"Terima kasih sebelumnya, Sus."
Mereka bertiga pun bergegas menuju ruang pemeriksaan, setelah sampai Kanaya segera ditangani dan melakukan pengecekan. Terlihat dokter menjelaskan apa saja yang harus dilakukan selanjutnya, sambil terus memantau layar monitor.
Sedangkan jantung Kennan terasa berdebar-debar ketika melihat calon anaknya di layar kecil itu, terlihat sangat lincah juga sangat sehat. Sedetik kemudian, air matanya menetes tapi dengan cepat Kennan menghapusnya agar Kanaya tak melihat kejadian tadi.
"Bayinya sangat kuat, tapi untuk kondisi ibunya sangat tidak memungkinkan melanjutkan kehamilan. Jadi saya sarankan untuk melakukan kelahiran prematur, agar bu Kanaya bisa menjalani pengobatan," kata Dokter.
"Kelahiran prematur? Apakah tidak bahaya dok, apalagi usia kandungan istri saya masih sangat kecil," kata Kennan sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Secara dia masih ingat betul, kalau tidak salah usia kehamilan istrinya masih 19 minggu.
__ADS_1
"Bahaya itu pasti, kemungkinan untuk bertahan hidup juga sangat kecil. Hanya saja β"
"Dokter, saya tidak mau melahirkan prematur. Saya masih kuat sampai waktunya tiba, tolong jangan mengatakan hal-hal itu lagi." Kanaya memotong telak usul dari dokter.
Siapa yang tega melihat anaknya yang belum tentu sempurna di paksa lahir, apalagi melihat berapa lincahnya sang bayi membuat Kanaya semakin ingin mempertahankan kandungannya.
"Tapi, jika ini terus berlanjut maka kesehatan anda yang akan menurun dan bisa-bisa bu Kanaya hanya bertahan sampai beberapa bulan saja," ucap dokter semakin menekan Kanaya untuk memikirkan ulang.
"Dokter, dia juga berusaha untuk hidup di dalam sini. Anak ini masih memiliki masa depan panjang, sedangkan saya? Untuk sembuh pun hanya 30β kan, jadi biarkan bayi ini hidup sampai waktunya lahir." Kekehnya sekali lagi.
Dokter akhirnya tak bisa berkata-kata lagi, keputusan Kanaya ingin anaknya tetap bertahan dan membiarkan hidupnya sendiri dalam bahasa. Selanjutnya dokter hanya bisa memberikan resep, agar daya tahan tubuh Kanaya bisa pulih walau bukan sepenuhnya.
***
Kennan masih menatap penuh arti pada Kanaya, dia juga bingung kenapa istrinya ini kekeh ingin mempertahankan bayinya daripada nyawanya sendiri. Sempat ada pikiran jelek saat dokter berkata seperti tadi, tapi pikiran itu langsung ditentang habis-habisan oleh Kanaya.
"Apa, Kak?" Kanaya menatap Kennan penuh pertanyaan.
"Emm ... kenapa kamu ingin mempertahankan anak ini? Bukannya lebih penting kesehatanmu ya?" Kennan tak berani menatap ke arah Kanaya, dia fokus melihat perut buncit istrinya dan seperti ada tarikan ingin membelai lembut perut itu.
"Apa perlu dijelaskan, jika Kakak sudah tau jawabannya. Tapi, jika ingin tau semua maka akan aku jelaskan. Dulu papa dan mama mendapatkan anak itu sangat sulit, perlu berobat kesana-kemari demi mendapatkan keturunan. Lantas kenapa aku yang dikasih cepat, harus membunuhnya?"
Kennan seketika diam seribu bahasa, dia sangat malu karena sempat berpikir ingin membunuh anaknya secara diam-diam. Untung saja, Kennan belum melakukan semua karena kesibukannya terlalu padat.
"Kak, aku tau sikapku sangat egois. Bahkan sampai menentang orang tuaku, tapi siapapun pasti nggak akan mau membunuh anaknya sendiri demi mementingkan nyawanya. Kenapa aku memutuskan menikah dengan Kakak, juga agar nanti kakak bisa merasakan memiliki seorang anak, karena setelah aku pergi mungkin papa tak akan mengizinkan siapapun mengambil cucunya," jelas Kanaya.
Jujur, Kennan merasa bingung dengan ucapan Kanaya yang terakhir. Kenapa harus pergi dan melarang siapapun mengambil anaknya, padahal itu anaknya kenapa tidak boleh.
__ADS_1
"Kamu ingin pergi?" tanya Kennan sangat terlihat bodoh.
Kanaya tersenyum kecut, "Kamu nggak mendengar kata dokter tadi, Kak? Usiaku mungkin nggak lama lagi, sebab itulah aku ingin mempertahankan anakku. Karena dari awal, om Andreas sudah bilang usiaku nggak mungkin sampai satu setengah tahun. Tapiβ"
"Nay, jangan mendahului Tuhan!" seru Kennan begitu kesal. Mendengar ucapan Kanaya seperti itu, membuat hatinya sakit.
"Aku nggak mendahului, Kak. Tapi, sewaktu-waktu mungkin Tuhan mengambil nyawaku. Sudahlah Kak, jangan bahas ini lagi. Oh ya, dimana kak Nabila? Dari Tadi aku belum melihatnya," ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Kanaya tak mau terus membahas ini, dia takut akan terbawa suasana yang akhirnya membuat dia takut karena takut akan kematian.
"Nabila ada di ruang ICU, keadaan tiba-tiba kritis setelah kamu pingsan. Oh ya, Nay. Mungkin beberapa hari ini aku nggak bisa menemanimu, tapi sudah ada perawat khusus dan Lusi yang akan merawatmu sampai aku selesai dengan urusan Nabila," kata Kennan sambil mengelus lembut pipi Kanaya.
"Lusi ada disini?" Terlihat sekali Kanaya sangat senang mendengar nama Lusi.
"Iya, dia baru saja sampai dan untungnya sebelum berangkat aku ada bilang sama orang rumah kalau kalian masuk rumah sakit," balas Kennan.
"Kalau seperti itu, bisakah kakak panggil dia kesini? Aku membutuhkan Lusi," pintanya sangat berbinar-binar.
"Baiklah, akan ku panggil dia."
Kennan bersiap-siap pergi, tapi dicegah oleh Kanaya. "Kak, apa kamu sangat mencintai kak Nabila?"
Pertanyaan yang aneh bagi Kennan, tapi dia tetap menjawabnya. "Iya, aku sangat mencintai Nabila. Jika dia kenapa-napa, lebih baik aku yang pergi."
...****************...
Yeah update lagi, semoga suka. πππ
__ADS_1