Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 32


__ADS_3

"Sus, bagaimana keadaan istri Saya?"


Kennan langsung bertanya ketika melihat dokter keluar dari dalam. Dia sangat khawatir pada kondisi Nabila, apalagi ini kali pertama istrinya nekat melukai diri sendiri.


"Istri Bapak kehilangan banyak darah, dan sekarang membutuhkan dua kantong darah. Hanya saja untuk golongan AB sedang kosong, kalau ada dari kalian yang cocok dimohon segera melakukan tes," kata Dokter.


"Ambil darah saya, Dok! Saya mamanya, ambil semua selagi itu bisa menyelamatkan Nabila!" Selli langsung mendorong Kennan ke samping untuk bicara dengan dokter.


"Kalau begitu mari ikuti suster Dias, dia akan menunjukkan tempat pengambilan sampel dan pengambilan darah."


Selli mengangguk paham, dia segera mengikuti suster Dias. Sedangkan Kennan lebih memilih diam di depan pintu UGD, dia sangat takut kehilangan Nabila saat ini.


"Kenapa semakin rumit, Tuhan!" seru Kennan. Tak lama kemudian, Kennan merasa ada sebuah tangan yang menepuk pundaknya. Dia mendongak ke atas, ternyata dokter jantung Nabila lah yang berdiri hadapannya.


"Dokter Jerk!"


"Kebetulan sekali kita bertemu disini, dari tadi saya menghubungi istri anda, tapi tak ada jawaban sama sekali," kata Dokter Jerk.


"Maaf, Dok. Istri saya sekarang masih di UGD, jadi ponselnya ketinggalan di rumah," balas Kennan sangat menyesal karena melewatkan panggilan dari dokter Jerk. Padahal dokter ini sangat sulit dihubungi, kecuali memang dia ingin.


"Apa jantungnya kambuh?" tanya Dokter Jerk.


"Bukan, Dok. Istri saya mencoba bunuh diri dengan cara melukai pergelangan tangannya, sekarang dia masih di dalam," jelas Kennan.


Terlihat dokter Jerk sangat terkejut, tapi dia tak mau membahas ini dulu karena ada hal penting yang harus disampaikan sebelum semua terlambat.


"Saya turut berduka cita, tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan. Apa anda punya waktu sebentar untuk membicarakan hal ini?" tanya Dokter Jerk.


"Tentu saja bisa, Dok. Kita bicara dimana? Disini atau di tempat lain?" Kennan langsung mengiyakan perkataan dokter Jerk.


"Disini saja, agar kalau ada apa-apa tidak saling cari mencari."

__ADS_1


Kennan mengangguk, mereka pun duduk bersama di ruang tunggu. Setelah itu dokter Jerk mengeluarkan beberapa lembar kertas dan memberikannya pada Kennan agar dia membacanya sampai tuntas.


"Pihak rumah sakit sudah menemukan pendonor untuk istri anda, dari beberapa hari lalu. Orangnya masih hidup, kita juga sudah melakukan tes dan hasilnya memang sangat cocok. Tapi, orang ini menginginkan imbalan uang lima miliar untuk melunasi hutang-hutangnya," jelas Dokter Jerk.


Kennan terlihat sangat shock mendengar perkataan dokter Jerk, dia tak memiliki uang sebanyak itu untuk saat ini, apalagi biaya pengobatan istrinya juga sangat mahal, bahkan Kennan sedikit mengambil dana perusahaan agar istrinya bisa mendapatkan yang terbaik.


"Saya sudah informasikan semua ini pada istri anda, tapi saat itu bu Nabila menolak dan memilih untuk menunggu ajal menjemputnya. Saya paham ini sangat berat, tapi mendapatkan donor jantung secara cepat itu langkah," kata Dokter Jerk sekali lagi.


"Lakukan yang terbaik saja, Dok. Beri saya waktu lima hari untuk mencari imbalan untuk orang itu, setelah itu baru melakukan pencangkokan," balas Kennan. Meski sangat berat, dia akan mencari uang tersebut. Baginya uang tak jadi masalah, masih bisa dicari sedangkan nyawa tak mungkin datang dua kali.


"Kalau begitu, silahkan tanda tangan disini. Biar saya bisa mendaftarkan jadwal operasi bu Nabila secepatnya."


Kennan mengangguk, dia segera menandatangani surat pernyataan dari dokter Jerk. Setelah menyelesaikan semua, kini dia harus memikirkan cara bagaimana mendapatkan uang lima miliar beserta biaya operasi istrinya nanti.


"Pras, aku mau jual perusahaan. Kalau bisa dalam lima hari ini sudah terjual, aku butuh banyak uang untuk pengobatan istriku," kata Kennan.


Dia tak punya pilihan lain, mau tak mau dia harus menjual perusahaannya dan memulai semua dari Nol. Kennan yakin, harta masih bisa dicari kalau memang itu sudah rezekinya.


'Apa ini maksudnya, Pak? Perusahaan sedang maju pesat, tapi bapak—'


'Tapi Pak, jika memang perlu uang kita bisa mengajukan pinjaman ke bank. Apa nggak sayang, Pak dengan usaha kita selama ini?'


Kennan terdiam, dia paham apa maksud Pras. Tapi Kennan takut waktunya terlalu lama saat pencairan dana, ditambah Kennan takut tak bisa melunasi semua, apalagi dia masih ada tanggungan di bank.


"Lakukan saja yang ku perintah, setelah itu segera kirim uang ke rekening pribadiku."


Tut!


Panggilan pun Kennan akhiri secara sepihak, dia tak ingin Pras terus membujuknya dan berakhir mengurungkan niatnya. Intinya saat ini keselamatan Nabila lebih utama, setelah semua beres baru memikirkan cara membangun anak perusahaannya yang lain.


***

__ADS_1


"Tuan, semua sudah seperti yang Anda inginkan. ** grup telah mengumumkan akan dijual dan saya langsung membelinya, sekarang semua aset di perusahaan ** milik anda."


Seorang lelaki yang kini tengah duduk di balkon pun mengangguk paham. "Kerja bagus! Sekarang pantau orang yang ingin mendonorkan jantungnya ke Nabila, pastikan dia mau menerima uang lima miliar itu. Jangan sampai Kennan tahu jika keluarga pendonor, tak meminta imbalan."


"Baik Tuan."


"Oh ya satu lagi, ubah nama kepemilikan perusahaan BL menjadi milik Kanaya sekaligus merubah nama PT menjadi KH grup," jelasnya sekali lagi.


"Baik, Tuan."


"Kamu boleh pergi," titahnya. Setelah itu dia kembali melamun sambil menikmati pemandangan di atas balkon.


Tak lama setelah itu, dia mendengar suara langkah kaki seseorang masuk. Tanpa menoleh pun dia paham siapa yang datang menemuinya, jika bukan paman tercintanya — Jerk.


"Hasn! Paman sudah mengatakan semua yang kamu inginkan pada Kennan, tapi ini benar-benar melanggar kode etik seorang dokter!"


Hans pun tersenyum mendengar ocehan sang paman. "Semua nggak akan ketahuan jika paman diam, lagian Hans hanya minta paman berbohong masalah imbalan. Sedangkan yang lain kan nggak," balas Hans sambil terkekeh.


"Ih, kamu nggak paham Hans. Lagian kenapa bisa kamu memiliki masalah dengan dia sih? Apa kesalahan nya, sampai kamu ingin dia bangkrut?" tanya Jerk sangat bingung.


Hans tak menjawab langsung, dia lebih memilih menyalakan sebatang rokok dan menikmatinya sesaat. "Dia telah menyiksa batin kekasihku, Paman. Aku rasa ini sangat sepadan dengan perlakuannya, apalagi keluarga istrinya, mulut mereka sangat busuk! Jadi jangan salahkan Hans jika mereka semua jatuh ke titik nol, inilah akibat dari perbuatan mereka sendiri."


Jerk hanya geleng-geleng kepala, selama delapan tahun ini dia tak pernah melihat keponakannya sekejam sekarang, tapi hanya karena seorang wanita Hans berubah menjadi lelaki kejam tak berperasaan.


"Om nggak melarangmu membalaskan dendam Kanaya, tapi kamu juga harus memikirkan perasaan dia. Waktu delapan tahun bisa merubah segalanya, Hans. Bisa saja Kanaya sudah melupakanmu," kata Jerk.


"Lupa atau tidaknya Kanaya, itu nggak jadi masalah. Sekarang aku sudah kembali, aku pastikan dia akan bahagia berada di sisiku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.

__ADS_1


Judulnya CONTRACT WEDDING 30 DAYS WITH CEO Author Morata jangan lupa ya 😍😍



__ADS_2