Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 68


__ADS_3

"NABILA!!!"


Rita berteriak kencang tatkala melihat menantunya tergantung kaku di atas, tubuhnya seketika bergetar hebat dan tak percaya akan keputusan Nabila. Kaki Rita mendadak lemas, sehingga dia hanya bisa terduduk sambil menangis memanggil-manggil nama Nabila. 


"Kenapa kamu lakukan ini, Nabila! Ya Tuhan, kenapa seperti ini kamu Nak!"


Burhan yang mendengar teriakan istrinya segera naik ke atas melihat keadaan, namun begitu terkejutnya Burhan ketika melihat Nabila mengakhiri dirinya dengan cara seperti ini. 


Dengan cepat Burhan memeluk erat istrinya dan meminta Febrian untuk menelepon pihak kepolisian, karena serta menelepon ambulans sampai beberapa menit kemudian banyak sekali polisi datang melihat kejadian. 


Berita pun yebar luas ke seluruh kota, Asloka dan Anne mendengar kejadian itu segera menuju rumah Rita. Anne juga menyemangati mantan besannya agar bisa melewati semua. 


Drrtt! Drrtt! Drrtt! 


Hans yang saat ini masih tidur berusaha meraba-raba nakas ketika mendengar ponselnya berbunyi, sedangkan Kanaya semakin erat memeluk Hans, tubuhnya terasa kedinginan sehingga mencari kehangatan dari tubuh sang suami. 


"Halo, ada apa?" Hans masih belum sadar siapa yang menelepon, dia hanya membuka panggilan tanpa melihat nama si penelepon. 


'Hans, melakukan bunuh diri, sekarang jenazahnya masih ada di rumah sakit untuk melakukan prosedur pemakaman, kalian bisa pulang sekarang'

__ADS_1


Deg!


Mendengar itu kesadaran Hans langsung pulih, dia melirik ke samping ternyata Kanaya belum mendengarnya karena posisi wanita itu masih terpejam dan memeluknya erat. 


"Bisa, Pa. Mungkin beberapa jam lagi aku datang, semoga saja jalanan nggak macet," balas Hans. 


Setelah itu, Hans mengakhiri panggilan mereka. Dia tak langsung memberitahu istrinya, Hans lebih memilih beres-beres koper, saat semua sudah selesai barulah membangunkan istrinya. 


"Nay, bangun Sayang," lirih Hans sangat hati-hati takut jika cara membangunkannya terlalu berlebihan. 


"Uuuhhh ...." Kanaya hanya menggeliatkan badannya, dia kembali menarik selimut agar bisa kembali tidur. 


"Sayang, ayo bangun kita harus kembali ke Jakarta sekarang juga," bidik Hans berhasil membuat Kanaya membuka mata. 


"Ish, Kak! Katanya sepuluh hari, kemarin baru sampai masa sekarang pulang sih!" rajuk Kanaya. 


"Keadaan sangat mendadak dan tak direncanakan, Sayang. Barang-barang sudah aku bereskan, sekarang cepat mandi setelah itu pulang." 


Kanaya tak menjawab lagi, dia segera beranjak dari atas tempat tidur, akan tetapi baru melangkah dia merasakan nyeri di area  sensitifnya, tapi karena terlalu kesal jadi Kanaya mengabaikan semua dan segera masuk kamar mandi. 

__ADS_1


***


Kanaya menatap tak percaya berita di televisi hari ini, setelah selesai mandi dia sengaja menyalakan benda tabung itu dan betapa terkejutnya Kanaya mendengar Nabila melakukan tindakan bunuh diri. Jelas suaminya meminta pulang, ternyata karena kabar duka dari mantan mertua. 


"Kak, apa ini benar?" tanya Kanaya pada Hans yang baru saja masuk ke dalam kamar. 


Hans seketika diam, dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Melihat istrinya limbung dengan cepat Hans menangkap tubuh kecil istrinya, dan langsung memeluk erat Kanaya. 


"Kenapa kak Nabila melakukan ini, Kak? Padahal Aileen juga membutuhkan dia, tapi kenapa malah mengambil jalan ini?" Kanaya meraung-raung. 


"Kamu harus tenang, Nay. Mungkin pemikiran Nabila terlalu pendek, sekarang hapus air matamu dan kita segera kembali ke Jakarta." 


Kanaya hanya menganggukkan kepala, setelah itu dia menghapus air matanya dan segera meninggalkan kota Bandung. Untung saja kondisi jalanan tidak terlalu macet, sehingga mereka bisa sampai tepat waktu sebelum pemakaman dilakukan. 


Isak tangis seluruh keluarga mengiringi kepergian Nabila, bahkan kedua orang tua Nabila juga sangat menyesal karena tak memperhatikan anaknya akhir-akhir ini. 


"Selamat jalan, Kak. Semoga kamu tenang di sana dan bisa bertemu kak Kennan, maaf jika selama ini aku membuat kehidupan kalian berantakan, sungguh maafkan aku ...." 


Hans hanya bisa memberikan semangat untuk istrinya, setelah selesai pemakaman mereka segera meninggalkan tempat itu bersama rombongan. 

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2