
"Astaga, Hans!"
Dinda benar-benar tak habis pikir melihat keadaan di dalam kamar anaknya, dia sangat shock ketika Hans berdandan ala-ala siluman serigala.
"Mama, nggak boleh lihat!" Kanaya segera menutupi tubuh Hans dengan tubuhnya, tapi karena perbedaan tubuh mereka, mau ditutupi seperti apapun akan tetap terlihat oleh Dinda.
"Mama, kenapa nggak ketuk pintu dulu sih!" seru Hans berlari kecil ke arah ranjang untuk mengambil selimut. Dengan segera Hans melilitkan selimut itu ke seluruh tubuhnya.
"Mama itu sudah berkali-kali mengetuk pintu, bahkan memanggil kalian, tapi tak ada sahutan, jadi Mama langsung masuk saja," ujar Dinda.
"Kami tidak mendengar apapun, lagian tumben Mama kemari, kan belum weekend?" tanya Hans lagi, sedangkan Kanaya tak bicara sepatah kata pun, dia terlalu malu untuk menatap mertuanya.
"Mama rindu Aileen, memangnya nggak boleh! Dasar anak nggak tahu diri, ada orang tua kesini kok dibilang tumben," oceh Dinda.
Suasana pun sempat hening sejenak, sampai akhirnya Dinda ingat dengan kondisi pakaian anaknya, dia sangat penasaran sehingga ingin bertanya pada mereka.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa berpakaian seperti ini, Hans?" tanya Dinda.
Kanaya tiba-tiba jadi salah tingkah, dia bahkan hanya bisa tersenyum kikuk sambil garuk-garuk kepala. "Ini semua permintaan Naya, Ma. Tadi aku sempat melarangnya makan permen asam terus menerus, eh dia marah dan ingin menghukumku dengan cara seperti ini." Jujur Hans.
Malu? Jelas Kanaya sangat malu, dia sampai tak berani menatap mertuanya karena takut kena marah atau teguran.
"Permen asam?" Dinda mengulang perkataan Hans.
__ADS_1
"Iya, Ma. Dari dia bangun tidur itu sudah makan dua, masuk kamar mandi ambil lagi, keluar pun sama sampai akhirnya di meja makan aku marah, bukan nggak memperbolehkan tapi, aku nggak mau lambung Naya bermasalah," jelas Hans sangat detail.
Namun, penjelasan itu membuat Dinda tersenyum senang, dia merasa menantunya itu memiliki tanda-tanda kehamilan dan jika tak salah tebak, Kanaya saat ini tengah hamil.
"Sayang, apa lidahmu sangat pahit?" tanya Dinda tak menghiraukan Hans lagi.
Perlahan-lahan Kanaya mendongak, dia menatap sang mertua sambil berkata, "iya, Ma. Air liurku sangat pahit, hanya dengan makan permen asam semuanya jadi hilang."
Dinda semakin melebarkan senyumnya, "itu, apa kamu pusing, mual, lemas, emosi naik turun dan ... dan telat datang bulan?" Dinda sangat semangat mengatakan semua itu.
Kanaya terdiam, dia mulai mencerna ucapan Dinda. Apa yang ditanyakan memang benar semua, tapi karena itulah Kanaya mulai menyadari sesuatu.
"Astaga, Ma! Aku sudah tak halangan tiga bulan ini, apa itu tandanya ...."
"Aahhhh!! Akhirnya aku mau punya cucu lagi, kamu harus segera periksa kalau perlu sekarang ayo Mama antar, mumpung masih siang!" Sorak Dinda.
"Nanti kamu tahu sendiri, cepat ganti pakaianmu dan Mama tunggu dibawa, kalau lima menit nggak segera keluar, jangan protes kalau ditinggal!" serunya segera mengajak Kanaya pergi.
Meski bingung, tapi Hans akhirnya menurut. Dia segera berganti pakaian, setelah selesai barulah Hans turun menghampiri mama dan istrinya.
***
Hans masih tak percaya mendengar perkataan dokter barusan, dia seperti sedang terkena prank atau bermimpi di siang bolong. Namun, semua keraguan itu seketika sirna saat sebuah layar monitor kecil dihadapannya menunjukkan dia bulatan kecil sambil bergerak-gerak dan detak jantung sangat kencang.
__ADS_1
Dug! Dug! Dug! Dug! (Suara detak jantung bayi)
Seketika air mata Hans menetes, mulutnya tak bisa berkata-kata, hanya air matanya saja yang bisa menjawab semua perasaannya saat ini. Sesekali, Hans menatap istrinya dengan senyuman bahagia.
"Jadi cucu saya ada dua, Dok?" Dinda memilih membuka suara, daripada saling diam.
"Iya, disini ada dua kantung janin. Bayinya juga sangat sehat, usianya memasuki 12 minggu, sekali lagi selamat ya," balas Dokter sambil meletakkan alat USG ke tempatnya kembali. Dokter segera mencetak hasil USG Kanaya dan langsung memberikannya pada Hans.
"Ini anak saya, Dok?" Hans masih tak percaya.
"Iya, Bapak. Itu anak anda, selamat ya sebentar lagi jadi orang tua dari dua bayi sekaligus," balasnya sambil tersenyum.
"Dok, saya pernah memiliki riwayat kanker darah, apakah ini akan berbahaya bagi mereka?" Kanaya tiba-tiba menanyakan hal itu, dia sangat ingat ketika hamil Aileen, dokter selalu menyarankan untuk menggugurkan kandungannya.
"Saya rasa tidak akan melukai mereka, apalagi dokter sudah menyatakan anda sembuh. Yakin, semua akan berjalan dengan lancar, selalu berpikir positif agar semua hal menjadi positif."
Mendengar penjelasan Dokter Kanaya merasa sangat lega. Setelah selesai pemeriksaan, mereka segera pulang dan memberi kabar bahagia ini pada seluruh keluarganya.
Mereka semua sangat senang, akhirnya pernikahan Hans dan juga Kanaya bisa lengkap dengan adanya anak kandung di antara mereka berdua.
Kasih sayang Hans juga menjadi berlipat-lipat ganda, setiap hari dia akan memanjakan istrinya tanpa henti, dia ingin menjadi suami siaga sampai akhirnya nanti tiba.
__ADS_1
Kanaya sendiri juga merasa bahagia karena akhirnya dia bisa merasakan diperhatikan ketika hamil, dulu saat mengandung Aileen sedikitpun Kanaya tak pernah merasakan kebahagiaan, namun sekarang dia malah kelebihan kasih sayang sampai membuat Kanaya semakin pulih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...