
"Bagaimana kondisimu, Nak?"
Kanaya tersenyum lembut ke arah Asloka, dia genggam erat jemari-jemari keriput Asloka dan sesekali menciumnya.
"Aku baik, Pa. Lebih baik dari sebelumnya," balas Kanaya.
"Syukurlah jika kondisimu lebih baik dari sebelumnya, sungguh Papa sangat hancur saat melihat kondisimu benar-benar drop dan diambang kematian," kata Asloka terus membelai lembut wajah Kanaya.
Dia masih ingat betapa hancurnya dia tau kalau anak dan cucunya tidak selamat, dunianya benar-benar gelap gulita, tak ada warna sama sekali, sampai Anne pun sempat drop beberapa kali.
Namun, kegelapan itu tiba-tiba musnah ketika Andreas memberikan kabar jika Kanaya dan Cucunya selamat hanya saja Hans membawanya pergi jauh untuk berobat dan jauh dari Kennan.
Rasanya sangat lega, apalagi ketika Hans mengirimkan beberapa video cucunya semakin hari semakin tumbuh besar bersama orang-orang yang tepat. Asloka banyak berhutang budi pada keluarga Hans, jika tidak ada mereka mungkin Kanaya masih menjadi boneka Kennan.
"Nay, Hans sepertinya sangat menyayangi Aileen. Bahkan dia rela menunggu mu bertahun-tahun, tanpa melirik orang lain, apa kamu nggak pernah berpikir untuk membalas cintanya?" tanya Asloka sungguh penasaran.
Tapi, beberapa menit kemudian Asloka sangat menyesal karena membahas hal ini. Karena ucapannya barusan, Kanaya langsung terdiam bahkan tak ada senyum sedikitpun di wajah cantiknya.
"Lupakan, anggap saja Papa nggak pernah mengatakan hal itu," ujar Asloka terus mengusap kepala anaknya.
"Pa ...."
"Iya, Nak? Jangan jadikan beban ucapan Papa tadi, seharusnya Papa minta maaf karena —"
"Pa, apa Naya pantas untuk Hans?" tanyanya langsung memotong ucapan Asloka.
"Lihatlah tubuhku, Pa. Tubuhku tak secantik dulu, sedangkan kak Hans orang yang sangat tampan, banyak wanita mengidam-idamkan dia. Kenapa harus bersama denganku, wanita jelek dan berpenyakitan?" tanyanya lagi mampu membuat Asloka terbungkam.
__ADS_1
Dia jadi ikut memikirkan ucapan anaknya. Asloka takut banyak wanita-wanita tak terima dengan keputusan Hans, yang akibat buruk pada anaknya nanti.
"Harus ku katakan berapa kali, Nay? Kalau aku nggak peduli bentuk tubuhmu, cintaku tulus dari hati tak memandang apapun, Nay."
Seketika Naya dan Asloka menoleh ke belakang, mereka berdua sangat terkejut melihat Hans ada di belakang mereka bahkan sampai mendengar percakapan mereka berdua.
"Kak, lebih baik kamu pikir ulang tentang semua. Aku takut kamu menyesal nantinya, bahkan mungkin aku sudah nggak bisa memberikan anak nantinya," ucap Kanaya mulai berkaca-kaca.
"Aku nggak akan menyesal, Nay. Kita ada Aileen, nggak perlu nambah anak dia sudah cukup bagiku," sangkal Hans langsung duduk di hadapan Kanaya.
"Nay, tolong buang jauh-jauh pikiran negatifmu. Jika seribu wanita datang menghampiri, pilihanku tetap satu yaitu kamu Naya," ucap Hans terus meyakinkan Kanaya.
"Apa yang kamu lihat dariku, Kak?" tanyanya sesegukan.
"Masa depan, Nay. Setiap aku memandangmu, bayangan-bayangan masa depanku bersamamu terlihat sangat indah. Menjalani pernikahan harmonis, membesarkan Aileen sampai dia menikah dan masih banyak lagi Nay," balas Hans semakin membuat Kanaya menangis.
Mungkinkah dia bisa hidup bahagia seperti angan-angan Hans? Dia sangat takut, takut jika dia tak bisa melihat Aileen tumbuh dewasa sampai menikah. Mengingat penyakit yang dia derita, meski dikatakan sembuh tapi besar kemungkinan bisa kambuh kapanpun itu.
"Kak, jangan seperti ini," lirih Kanaya.
Hans benar-benar tak memperdulikan ucapan Kanaya, dia terus pada posisinya dan Asloka terharu melihat kegigihan Hans. Jarang sekali seorang lelaki mau menerima atau tetap mencintai wanita berpenyakitan seperti anaknya.
"Pikirkan orang tuamu, Kak. Dia mungkin tak akan setuju memiliki menantu sepertiku, mereka butuh penerus dan aku —"
"Kata siapa kami nggak setuju?"
Kanaya sangat terkejut mendengar suara orang tua Hans. Mereka berdua kini berdiri di depan pintu, sambil menggendong Aileen.
__ADS_1
"Asal kamu tau Nay, kami sudah memaksa dia untuk menikahi wanita lain tapi Hans menolak, sampai akhirnya anak nakal ini pulang-pulang bawa bayi dan bilang Aileen adalah anak kalian berdua," ucap Dinda langsung menjewer telinga Hans.
"Aduh, Sakit Ma." Hans pun berdiri.
"Mama sempat shock, sampai nggak makan lima hari. Bisa-bisanya buat cucu nggak bilang-bilang, tapi saat itu Hans sudah menceritakan segalanya dan bagiku Aileen tetap cucu kesayangan sekaligus pewaris keluarga kami," kata Dinda sambil menghampiri Kanaya.
"Nay, Tante tau kamu mungkin masih mencintai mantan suamimu. Tapi, dia bukan jodohmu Nak. Cukup sudah kamu disakiti orang itu, lihatlah Hans dia sampai umur 40 masih menunggu, kalau terus kamu gantung lama-lama dia bisa memiliki predikat bujang lapuk," kata Dinda sedikit bercanda.
Kanaya pun tertawa, tapi air matanya masih mengalir. Dia masih belum bisa menjawab sampai akhirnya Aileen memecahkan keheningan setelah Dinda bicara.
"Uhh, orang dewasa memang rumit!" seru Aileen sambil menepuk kepalanya.
"Mama, kamu harus menikahi Papa kalau nggak banyak wanita tersakiti dan di tolak mentah-mentah sama Papa. Seperti nasib Calra, dia sampai malu karena Papa menolaknya di muka umum. Jadi, terima Papa ya," ucapnya minta turun dari gendongan Aslan.
Aileen menghampiri Hans dan menarik tangannya, setelah itu mereka berdua mendekat ke arah Kanaya. "Mama, mau ya menikah sama Papa."
Aileen meletakkan tangan Hans ke atas punggung tangan Kanaya. Tanpa tunggu lama, Hans langsung menggenggam erat jemari-jemari wanita tercintanya.
"Nay, bagaimana jawabanmu? Maukah kamu menikah denganku dan menghabiskan sisa waktu bersamaku?" tanya Hans penuh harap.
Kanaya tak bisa menjawab, dia menatap Asloka meminta petunjuk untuk semua, jujur Kanaya masih sangat trauma. Tapi melihat semua orang begitu ingin dia bersama Hans, membuat hatinya goyang.
"Iya, aku mau. Aku mau menikah denganmu, Kak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya perjuangan seorang anak Author lenni jangan lupa ya 😍😍