
Tiga hari berlalu, Kennan tak pernah ada kabar sedikitpun. Kondisi kesehatan Kanaya juga semakin hari semakin memburuk, sehingga membuat Asloka maupun Anne khawatir.
Seluruh keluarganya juga sudah berkonsultasi dengan Andreas dan jalan satu-satunya Kanaya harus melahirkan prematur agar proses pengobatannya segera dilakukan. Namun, disini kendalanya ada pada Kanaya.
Dia tak mau melakukan tindakan itu, Kanaya ingin melahirkan secara normal, karena dia tak mungkin mendapatkan kesempatan lagi untuk melahirkan nantinya. Semua keluarganya sudah membujuknya, tapi pendirian Kanaya sama sekali tak bisa digetarkan.
"Dre, ini bagaimana? Aku semakin tak tega melihat anakku seperti ini, kamu ada cara lain biar Kanaya bisa dibawa ke rumah sakit segera?" Asloka mulai putus asa pada keadaan anaknya.
"Kita bisa membiusnya dari rumah, tapi ini beresiko tinggi jika dia menolak disuntik. Kamu tau sendiri kan, sebelum aku memberikan suntikan pasti dia tanya terus dan tak percaya dengan apa yang ku lakukan," jawab Andreas.
Memang Kanaya sudah tak percaya lagi dengan Andreas semenjak kejadian beberapa bulan lalu, jadi apapun tindakan Andreas Kanaya selalu bertanya.
"Tapi adikku nggak mungkin seperti ini terus, Om!" Brian jadi kesal sendiri melihat semua orang tak bisa melakukan apa-apa, bahkan Abrian berusaha menghubungi Kennan, tapi sayang lelaki bajingann itu tak mau menjawab.
"Jalan satu-satunya coba hubungi Kennan sekali lagi, mungkin hatinya bisa tergerak sedikit agar mau membujuk Kanaya," usul Andreas langsung direspon senyuman sinis oleh Asloka.
"Tanpa kamu suruh kita sudah berusaha menghubungi bedebah itu! Dia memang sengaja tidak mengangkat panggilanku, entah lagi apa dia tapi yang jelas Kennan seperti bajingann tengik!" seru Asloka penuh amarah.
Jujur, dia ingin sekali membunuh Kennan tapi Asloka tak mau sampai berurusan dengan hukum dalam keadaan seperti ini. Anaknya butuh support, istrinya pun juga. Semenjak kondisi Kanaya semakin buruk, Anne juga ikut sakit.
Anne bahkan sampai tak selera makan, tiap hari hanya duduk diam si sampai Kanaya sambil terus membelai lembut wajah Putrinya. Menangis itu andalan Anne, tapi siapapun pasti akan sedih jika melihat putri semata wayangnya terbaring lemah di atas ranjang.
__ADS_1
"Tuan, di luar ada pak Kennan," ucap Lusi membuat semua orang di dalam kamar terkejut.
"Apa kamu serius?" tanya Asloka memastikan.
"Iya, Tuan. Tapi ...."
"Tapi apa? Bicara yang jelas, jangan membuat penasaran!" seru Asloka.
Tapi, belum juga Lusi bicara Anne langsung melewati suami dan pembantunya itu. Anne terlihat sangat marah, kesal, seperti ingin membunuh Kennan. Cukup dia diam selama ini, bagi Anne menantunya benar-benar keterlaluan.
"Dimana dia, ha? Dimana dia!" teriak Anne kesetanan. Air matanya terus berderai, sebagai seorang ibu Anne benar-benar dibuat sakit hati. Raganya terasa lepas saat melihat Kanaya semakin terpuruk, sedangkan Kennan selalu datang dan pergi seenaknya.
"An, jaga emosimu. Ingat kata Dokter, tensi mu terlalu tinggi dan itu nggak baik untuk kesehatan," cegah Asloka.
"Aku tau, aku juga sakit An. Tapi tolong, mengerti juga keadaanmu. Jangan sampai kamu sendiri tumbang, di saat kondisi Kanaya seperti ini," jelas Laka berusaha menenangkan istrinya.
"Aku harus apa, Laka?" lirih Anne sampai tersendat-sendat. "Aku takut kehilangan Naya, tolong cari jalan keluar aku mohon, bantu anakku," mohon Anne semakin melemas.
Dengan sigap Asloka menopang tubuh istrinya, mulutnya tak berhenti-henti menguatkan Anne. Jujur saja, dia sebenarnya juga sangat lemah tapi Asloka harus berusaha tegar. Mau jadi apa nantinya kalau semua lemah.
"Dijah, tolong jaga mamamu sebentar. Papa mau nemuin Kennan, kamu bisa kan Nak?" Asloka menatap menantunya.
__ADS_1
"Bisa, Pa."
Khadijah langsung mendekati Anne, dia mengambil alih mertuanya dan berusaha menyejukkan hati Anne. Khadijah juga sangat sedih melihat keluarga suaminya seperti ini, tapi dia tak berani ikut campur dalam masalah mereka. Hanya motivasi saja yang mampu Khadijah berikan, juga membantu mertuanya untuk beristighfar.
"Ma, Mama yang tabah Ya. Yakinlah, ini semua sudah menjadi takdir Allah," kata Khadijah.
"Mama nggak bisa hidup tanpa Naya, Dijah. Mama nggak bisa," lirih Anne mulai sedikit tenang.
"Dijah paham perasaan, Mama. Tapi, kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Semua makhluk hidup pasti akan kembali pada sang pencipta, jadi Dijah mohon, lebih baik do'akan Kanaya daripada harus membuang-buang tenang untuk orang tak penting," ucap Khadijah sekali lagi.
Anne hanya mengangguk, dia kembali memeluk erat menantunya sambil menunggu kabar dari Asloka. Dia penasaran kenapa Kennan datang, jika kemarin-kemarin menghilang tanpa kabar.
Bagi Anne, sikap Kennan sama sekali tak bisa di tebak. Bisa dibilang plin-plan, sekarang A besoknya B dan kembali lagi ke A.
'Aku bersumpah, jika sampai terjadi sesuatu pada anakku, jangan harap kamu memohon ampunan Kennan! Sampai matipun aku nggak akan ikhlas memaafkanmu, jika putriku kenapa-napa!'
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya PEMILIK KEHORMATANKU Author Mayya_zha jangan lupa ya 😍😍