
Kanaya menangis mendengar pertengkaran di luar sana, hatinya masih belum mau bertemu keluarga Kennan, tapi mendengar jika keadaan mantan suaminya itu kritis membuatnya jadi bingung.
Ada rasa marah yang belum bisa hilang, tapi hati kecilnya masih memiliki perasaan kasihan pada Rita, sehingga kini dia ada di antara dua pilihan memaafkan atau terus membenci.
"Nay, temui Kennan. Jangan membawa dendam dalam hati, Nak. Yang ada nanti kamu sendiri yang sakit, lupakan semua dan berdamailah dengan masa lalu itu," lirih Asloka sambil memegang pundak anaknya.
"Tapi, Pa ...." Kanaya menatap Asloka penuh tatapan kecewa, dia masih ingat betul bagaimana kejamnya mereka dan sekarang malah memohon agar memaafkan Kennan.
"Sayang, bagaimanapun Aileen darah daging Kennan. Darah yang mengalir di tubuh Aileen, juga darah Kennan. Kamu nggak bisa menyangkal hal itu, biarkan mereka bertemu sekali saja dan Mama harap hubungan kalian berakhir baik-baik saja, tanpa ada dendam dalam hati," ucap Anne.
Dia sebenarnya juga sakit hati jika mengingat-ingat masa lalu anaknya, tapi Anne juga tak ingin Kanaya menyimpan dendam yang berakhir menggerogoti hatinya sendiri.
"Kenapa kalian membuat Mamaku menangis lagi! Mama nggak mau bertemu om jahat, kenapa kalian memaksanya," teriak Aileen penuh tatapan tak suka.
"Aileen juga nggak mau bertemu om jahat, jadi jangan memaksa Mama atau Aileen. Sampai kapanpun, Aileen nggak mau bertemu mereka, kecuali kakek Burhan!" serunya sangat menggebu-gebu.
Asloka maupun Anne tak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka hanya diam setelah mendengar ucapan Aileen, namun tak selang beberapa menit Rita masuk dengan cara menerobos. Wanita itu terus memohon agar bisa bertemu Kanaya, sehingga Rita tak peduli dengan hujatan tiga lelaki pelindung Kanaya.
"Naya, aku benar-benar minta maaf Naya, aku mengaku salah dan pantas mendapatkan ini semua, tapi tante mohon temui Kennan sekali saja, hanya sekali sebagai pengantar sakaratul maut nya," teriak Rita.
Hans tak bisa melihat istrinya ketakutan, dia terus menarik tangan Rita dan menendang wanita itu keluar, tapi ternyata tekad Rita sangat kuat sehingga dia terus berusaha melawan Hans.
"Tante akan mencium kakimu, Nay. Kalau perlu jadikan Tante budak, agar bisa menebus semua dosa-dosa masa lalu. Tapi, Tante mohon temui Kennan sebentar saja, Naya!"
Kanaya tak mau mendengar apapun, tangannya terus menutup kedua telinganya dan pergi meninggalkan semua orang begitu saja. Aileen yang merasa marah, segera mendekati Rita penuh tatapan marah.
__ADS_1
"Jangan mencari Mamaku lagi! Kalian orang jahat, kalau mau mati ya mati saja, kenapa harus mencari Mama atau aku!'
"Aileen!" tegur Hans. Dia tak menyangka anaknya ini akan berkata sekasar itu, Hans merasa gagal mendidik Aileen karena hal ini.
Mendapat bentakan dari Hans, mata Aileen mulai berkaca-kaca. Dia tak pernah dibentak selama ini, tapi gara-gara wanita di depannya, Hans berani melukai hati Aileen.
"Papa jahat!"
Aileen segera meninggalkan ruang tamu sambil menangis, dia tak peduli lagi dengan teriakan Hans. Yang Aileen rasakan saat ini sakit hati, karena papa yang selalu dia banggakan mulai tak menyayangi dirinya.
"Ini semua salahmu, cepat pergi dari sini!" bentak Hans.
Setelah mengusir Rita, Hans segera mengejar anaknya, dia tak mau sampai Aileen salah sangka dan membenci dirinya. Dia mengakui kesalahannya, tapi tindakan Aileen juga melebihi batas kesopanan.
"Papa jahat, Aileen nggak mau bertemu Papa!"
Hans semakin frustasi, di satu sisi Aileen ngambek di sisi lain juga Kanaya mengunci dirinya di kamar sebelah. Otak Hans rasanya mau meledak sekarang, membujuk wanita sungguh sulit.
"Aileen, Papa minta maaf ya Sayang. Tapi, Papa melakukan hal itu karena Aileen juga salah, bukankah Papa pernah bilang jika Aileen nggak boleh berani dengan orang tua?" lirih Hans. Dia berharap anaknya itu bisa paham.
"Tapi orang itu jahat, Pa. Apa Aileen nggak boleh marah, dia selalu mengusik dan mengganggu Mama."
Hans semakin tersayat hatinya ketika mendengar isak tangis putri kecilnya, baru kali ini Hans mendengar Aileen menangis pilu padahal sedari bayi Aileen tipe anak yang sangat sulit menangis, kecuali memang dia terluka atau sengaja mengadu agar mendapat perhatian Hans.
"Aileen takut kehilangan Mama, lagi. Aileen sudah mendengar apa kata Opa Andreas dan Aileen takut Mama sakit lagi, Aileen nggak mau itu terjadi, Papa." Tangisan Aileen semakin kencang sampai membuat Kanaya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Kanaya juga merasa sakit luar biasa saat mendengar keluh kesah anaknya, Aileen takut kehilangannya, tapi dia malah terus memikirkan dendam yang berakhir membuat penyakitnya kambuh.
"Aileen nggak mau diejek teman-teman lagi, mereka bilang Aileen anak haram, tak punya Mama dan ... dan ...."
"Aileen, buka pintunya Nak. Mama baik-baik saja, sekarang buka ya pintunya," lirih Kanaya.
Hans terkejut melihat Kanaya ada dibelakangnya, sedangkan Kanaya tersenyum lembut ke arah Hans. "Maafkan aku, Kak. Aku yang salah, karena belum bisa melepas semua dendam itu. Aileen jadi seperti ini juga karenaku, akan aku perbaiki semuanya."
Cklek ....
"Mama!" Aileen segera menghambur ke pelukan Kanaya, dia juga semakin menangis.
"Aileen sayang kan sama Mama?"
Tanpa tunggu lama Aileen mengangguk sangat cepat. "Kalau begitu, kita siap-siap ya, Nak. Kita akan ke rumah sakit menjenguk Papa Aileen, nanti disana Aileen harus jaga sikap, karena mereka juga keluarga Aileen," ucapnya penuh derai air mata.
"Tapi —"
"Mama baik-baik saja, Sayang. Kita coba berdamai dengan masa lalu, perasaan dendam nggak baik untuk diri sendiri. Contohnya lihat mereka, keluarganya menjadi hancur berkeping-keping, jadi Aileen nggak boleh jadi seperti mereka ya? Kita maafkan semua kesalahannya, setelah itu memulai kehidupan baru, apa Aileen mau?"
Aileen tak langsung menjawab, dia menatap Hans dan Kanaya bergantian. Setelah lama berpikir, akhirnya Aileen menganggukkan kepalanya. "Baik, Ma."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1