
"Lus, aku titip Naya sebentar ya. Aku ada keperluan di luar, kamu harus memperhatikan Kanaya, jangan sampai dia kecapean," kata Kennan bersiap pergi.
Setelah mendengar kabar mertuanya akan menghubunginya, Kennan memilih pergi dan menyelesaikan masalah di luar hotel. Dia tak mau Kanaya mendengar perdebatannya nanti.
Cukup, kemarin Kanaya mendapatkan penghinaan dari dia dan keluarganya tidak dengan keluarga Nabila. Jadi, jalan satu-satunya Kennan harus keluar untuk menyelesaikan masalah ini.
"Tanpa anda suruh, saya akan menjaga nona Kanaya. Tuan Asloka mempercayai saya untuk menjaganya, jadi jangan khawatir," balas Lusi sedikit sensi dengan Kennan.
Entahlah, tapi Lusi masih tidak percaya seratus persen dengan Kennan. Dia merasa Kennan hanya merasa bersalah saja, tidak tulus dari hatinya. Tapi, Lusi juga senang jika akhirnya suami nonanya ini berusaha adil, meski belum sepenuhnya.
"Iya tau, intinya aku titip Naya."
Lusi hanya mengangguk, setelah Kennan mengambil dompet dan juga kunci mobilnya. Dia berjalan dengan langkah berat, seperti tak ingin meninggalkan Kanaya, tapi dia harus menyelesaikan masalahnya bersama Nabila.
"Ck, baru saja masuk lift, mama sudah menelpon," gerutunya saat melihat nama sang mertua yang terlihat di layar ponsel. Tak mau membuang-buang waktu, Kennan mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Ma."
'Masih punya nyali kamu memanggilku Mama?'
Kennan mengusap wajahnya kasar, dia tak tau apa yang dikatakan Nabila sampai nada bicara mertuanya sangat tinggi dan terlihat sangat murka.
'Tega kamu ya sama anakku, mana janjimu mau membahagiakan dia meski tak bisa memiliki anak? Kenapa sekarang malah Nabila kamu campakkan demi wanita ular!'
"Ma, Kanaya bukan wanita seperti itu!" tegas Kennan.
'Oh jadi Kanaya wanita yang menjadi duri dalam rumah tangga kalian, bahkan sampai membutakan matamu! Lihat saja pembalasan Mama, Kanaya akan menjadi wanita terlalu sedunia karena tega merebut suami orang!'
Kennan terperangah mendengar ucapan mertuanya, dia memang salah telah menelantarkan Nabila, tapi dia hanya ingin istrinya intropeksi diri apa kesalahannya, bukan malah memperkeruh dan semakin memojokkan Kanaya.
__ADS_1
"Aku memang salah, Ma. Tapi Nabila lebih salah dalam masalah ini, dia yang menjebak kami sehingga menghadapi masalah serumit dan serunyam ini. Jadi —"
'Kamu menyalahkan, Nabila!'
Diam, Kennan hanya diam. Tapi tak lama setelah itu dia berani berbicara dan mengatakan jika istrinya memang salah. "Iya, Nabila memang salah. Karena egonya, dia berani mengorbankan Kanaya wanita baik dan sepolos Kanaya."
***
Kanaya membuka mata dengan perlahan, tangannya meraba-raba samping mencari seseorang yang tadinya ada di sebelahnya. Tapi, sayang setelah mendapati suaminya tak ada, perasaan kecewa langsung merasuk dalam relungnya.
"Nona sudah bangun? Mau makan sesuatu, nanti saya pesankan," ucap Lusi sangat bersemangat.
"Kak Kennan mana?"
Malah Kennan yang ditanyakan Kanaya. Terlihat sekali Lusi menjadi muram, dia takut Kanaya terlalu bergantung pada Kennan tapi akhirnya akan di jatuhkan ke jurang paling dalam.
"Pak Kennan masih ada urusan dan akan kembali beberapa jam lagi, nona mau apa? Barangkali ingin sesuatu?" tanya Lusi sekali lagi.
"Nona, bukan saya mengatur hidup anda. Tapi, saya harap nona tidak terlalu berharap lebih dari pak Kennan," kata Lusi tak tau apakah dia sudah kelewat batas, tapi dia hanya ingin Kanaya menjaga hati saja.
Namun, Lusi tak tau ucapannya barusan membuat Kanaya tertampar hebat. Dia merasa menjadi wanita murahan yang begitu mudah luluh, hanya dengan kata-kata manis Kennan.
Tak terasa air matanya jatuh, hatinya sangat sakit membayangkan jika perlakuan Kennan hanya formalitas belakang saja. "Iya aku mengerti," lirih Kanaya menahan tangis.
Sebenarnya Lusi tak tega, tapi demi jaga-jaga dia harus keras dengan Kanaya agar majikannya ini tak menjadi orang gampang luluh bahwa termakan rayuan seorang Kennan.
"Oh ya, tuan Asloka akan datang dalam satu minggu kedepan menjemput nona. Untuk saat ini beliau sedang mempersiapkan pernikahan tuan Abrian," ucap Lusi seperti penyemangat bagi Kanaya.
Dia terduduk sambil menatap Lusi, terlihat sekali Kanaya sangat senang mendengar kabar Asloka. "Papa mau menjemputku?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, Nona."
"Papa sudah nggak marah lagi, Lus?"
"Sebenarnya tuan tidak pernah marah, Nona. Beliau hanya kecewa dengan keputusan nona, tapi di balik kekecewaan, tuan tak pernah melewatkan perkembangan nona setiap waktu," jelas Lusi semakin membuat Kanaya menangis.
Kanaya sangat merindukan papanya, merindukan semua keluarganya juga. Dia ingin kembali seperti dulu, menjadi Kanaya anak yang paling di manja mereka.
"Aku ingin menghubungi papa, apa boleh?" tanyanya dengan suara gemetar.
"Tentu saja boleh, Nona. Tunggu sebentar saya akan hubungi tuan."
Kanaya mengangguk patuh, dia menunggu Lusi melakukan panggilan video. Setelah beberapa menit, barulah Asloka mengangkat panggilan Lusi dan langsung menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Ada apa, apa Naya baik-baik saja? Keadaannya sekarang bagaimana, cepat katakan!" seru Asloka terlihat sangat kesal karena Lusi tak kunjung menjawab.
"Lusi!" Asloka semakin kesal, tapi tak lama setelah itu Lusi membalikkan ponselnya dan memperlihatkan wajah Kanaya.
"Papa ...." Tangis Kanaya langsung pecah saat melihat Asloka. Dia tak bisa berkata-kata lagi, hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.
"Naya, ini benar kamu nak?" Kanaya mengangguk pelan, dia tak bisa menghentikan air matanya. Rasa rindu beberapa bulan ini akhirnya bisa terobati.
"Kamu kurus sekali, Nak. Apa Kennan selalu menyakitimu, tunggu papa, setelah pernikahan Brian papa akan menjemputmu," ucap Asloka ikut menangis.
"Iya, Pa. Naya tunggu papa disini, Naya sangat merindukan kalian. Maaf, jika selama ini Naya belum bisa menjadi anak yang berbakti. Sekali lagi maafkan anakmu ini, Pa."
Lusi tak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia ikut menangis melihat anak dan bapak itu saling meminta maaf. Dia memilih keluar membiarkan Kanaya leluasa mengungkapkan kerinduannya, cukup hanya mereka berdua yang tahu.
...****************...
__ADS_1
dikejar duda maaf ilang, masih ku tanyakan sama editor kenapa ilang. emak juga kaget kok musnah 😭😭