Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 29


__ADS_3

Kanaya menatap bingung pada wanita yang sedang mencarinya. Dia merasa tak kenal dengannya, tapi kenapa wanita ini mencarinya sampai datang ke hotel dan meminta agar mereka bicara sebentar di salah satu coffee shop.


Sebenarnya, Lusi sudah memperingatinya dan melarangnya pergi, tapi karena Kanaya penasaran jadi dia menyetujui ajakan wanita di depannya ini.


"Maaf, ada keperluan apa mencari saya?" tanya Kanaya masih bingung.


"Jadi kamu yang namanya Kanaya? Wanita penyakitan, yang bisanya merebut suami orang!"


Deg!!


Jantungnya berdetak sangat kencang ketika kata-kata wanita itu keluar begitu sinis dari mulutnya, ada rasa sakit luar biasa saat harga dirinya diinjak-injak. Air matanya mulai menetes dengan sendirinya.


"Eh, punya mulut dijaga ya Bu! Nona saya wanita terhormat," marah Lusi.


"Terhormat apanya? Terhormat kok merebut suami orang, inikah yang namanya wanita terhormat? Cih, malu-maluin kaum wanita saja!" seru wanita itu semakin menyakiti hati Kanaya.


"And --" Lusi tak melanjutkan ucapannya setelah Kanaya mencegahnya bersuara.


"Jangan berdebat, Lus."


"Tapi orang ini sangat keterlaluan, Nona!"


"Biarkan dia berkata apa, sesuka hatinya. Dia punya hak berpenduduk, Lus," balas Kanaya semakin membuat Lusi jengkel.


"Nona terlalu baik sama orang, membuat saya kesal saja!" rajuk Lusi.


Kanaya terus memberikan pengertian pada Lusi agar dia tak terbawa emosi, meski sakit tapi Kanaya tidak mau sama jahatnya seperti mereka.


"Sebelumnya saya minta maaf, tapi anda siapa sampai bicara seperti itu? Merebut suami orang, apa yang dimaksud kak Kennan? Jika iya, maka anda salah besar," jelas Kanaya terlihat sangat tenang.

__ADS_1


"Cih! Salah apa? Jelas-jelas kamu merebut suami anakku, karena kamu juga Nabila jadi menderita! Kenapa nggak mati sekalian kamu, dasar penyakitan!"


Jleb!


Kanaya seketika memejamkan matanya, dia tarik nafas panjang agar rasa sakit itu perlahan hilang. Sungguh ucapan orang ini sangat tajam, melebihi belati.


"Jadi anda orang tua kak Nabila?" tanyanya masih sangat sopan.


"Iya! Kenapa? Masalah buat kamu?"


"Nggak masalah sama sekali, itu malah wajar karena kak Nabila anak Tante. Tapi Tante juga harus tau satu hal, disini saya bukan merebut suami kak Nabila. Tapi, dia sendiri yang memaksa saya menikah dengan suaminya, begitu juga kejadian kelam malam itu semua rencana putri Tente!" serunya sambil mengepalkan tangan.


Dia mendadak kesal jika ingat semua ini adalah rencana Nabila, hatinya masih belum bisa menerima dan sangat kesal. Karena keegoisan Nabila, dia harus menanggung cacian dari banyak orang.


"Jangan membalikkan semua kesalahan pada putriku!"


Gelegar suara Asloka pun menggema di seluruh ruangan Coffee shop, dia merasa sangat murka ketika melihat sendiri wanita itu memaki anaknya. Dia tak terima, untung saja Lusi sudah memberitahu keberadaan dan kondisi Kanaya saat ini.


"Papa!" seru Kanaya penuh kebahagiaan. Dia sangat merindukan papanya, sampai tak bisa membendung kerinduannya dan berusaha berdiri meski sangat sulit.


"Jangan banyak bergerak, Sayang." Dengan cepat Asloka menghampiri anaknya dan langsung memeluknya sangat erat.


"Papa aku sangat merindukanmu," lirinya sampai sesegukan.


"Papa juga, Nak. Sudah jangan menangis, Papa disini, nggak ada yang bisa menyakitimu lagi sekarang," balas Asloka penuh kelembutan.


"Ck, drama!"


Asloka pun menatap tajam wanita itu, rasanya ingin sekali Asloka menyumpal mulut orang itu, tapi dia pantang melakukan kekerasan pada wanita.

__ADS_1


"Yang drama adalah putrimu sendiri, Selli! Kamu ibunya tapi sama sekali tak tau watak asli anakmu, ibu macam apa kamu?" Sindir Asloka.


Sedangkan Selli langsung terbelalak saat Asloka tahu namanya, padahal mereka tak pernah bertemu tapi Asloka tau namanya. "Darimana kamu tau namaku?"


"Mengetahui namamu bukanlah hal sulit, Selli! Aku hanya ingin memperingatimu saja, sekali mengganggu atau menghina anakku, maka siap-siap menjadi gembel!" serunya seperti nada ancaman bagi Selli.


"Beraninya kamu!"


"Buat apa takut dengan orang modelan sepertimu? Bagiku, keluarga kalian nggak sebanding keluargaku!"


Tak mau meladeni Selli, Asloka langsung mendorong kursi roda putrinya dan mengajak Lusi pergi. Tak ada gunanya mendengarkan orang bodoh seperti Selli, buang-buang waktu saja baginya.


"Awas kalian! Lihat saja, kamu akan mendapatkan balasan setimpal dariku!"


Tak lama setelah itu, Selli mendapatkan telepon dari suaminya dengan perasaan kesal dia mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa, Pa?"


'Aku kembali ke tanah air dulu, perusahaan mengalami penurunan secara drastis dan kalau nggak segera ditangani kita bisa bangkrut.'


"Apa!"


Tubuh Selli seketika lemas, dia masih tak percaya dengan ucapan suaminya. Dia berusaha mencubit lengannya sendiri dan rasanya sakit, ini semua kenyataan bukan mimpi.


"Siapa sebenarnya orang tua Kanaya? Kenapa bisa kebetulan seperti ini, astaga Nabila berurusan dengan orang berbahaya, aku harus memperingati dia!"


Dengan perasaan campur aduk, Selli mencoba tenang dan segera menemui anaknya. Dia tak mau Nabila terlalu jauh masuk ke dalam masalah ini, kalau tidak pasti akan ada masalah lebih banyak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2