
"Siapa nama Mbak?" tanya Zakir.
"Nama ku Niken," jawab wanita itu tampak tersenyum menggoda.
"Mbak Niken," gumam Zakir menyebut nama wanita itu.
"Tidak usah pakai Mbak. Panggil saja aku Niken," balas wanita itu yang masih tersenyum.
"Hem. Baik lah," sahut Zakir merasa salah tingkah sendiri.
.
.
Zakir membawa Niken dan Clara ke toko bunga milik nya, yang memiliki dua lantai. Di lantai atas, biasa ia gunakan untuk ia dan dua orang karyawan nya beristirahat. Tapi sekarang ruangan itu akan ia gunakan untuk menampung Clara dan Niken sementara waktu.
Bagi Niken, semua itu tentu lebih dari cukup. Dari pada dirinya seumur hidup di jalanan, lari dari kejaran orang-orang Zidan.
Ya, semenjak Bobi menculik Zio di rumah sakit. Sejak itulah foto dirinya terpajang hampir di setiap tempat. Bahkan di sana juga tertulis bagi siapa saja yang memberitahukan keberadaan dirinya akan di berikan hadiah 1 M.
Semenjak itu Niken benar-benar merasa ketakutan. Perasaan cemas selalu menghantui pikirannya.
.
.
***
Setelah makan siang. Zio lansung masuk ke dalam kamar nya. Di depan jendela kaca ia berdiri. Menatap taman langit yang jauh diatas sana. Sekelabat bayangan ketika bersama Carla terus membayangi pikirannya, menciptakan kerinduan yang hanya bisa ia tangisi. Sunyi, sepi, di tengah-tengah orang tua kandung yang berkecukupan.
Ketika sendiri seperti ini, ia akan terus menangis sedih. Menangisi kerinduan yang bersarang di hatinya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Kini Zio kecil sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan.
Menatap diri nya di depan cermin besar sambil Merapikan dasi yang melilit di kerah leher kemeja putih nya.
Setelah mengenakan jas, Zio melangkah keluar, menuruni anak tangga hunian mewah.
"Pagi sayang," sapa Salsa yang sudah berdiri di depan meja makan.
Usia wanita itu memang tak muda lagi. Tapi paras nya masih seperti gadis remaja pada umum nya.
"Pagi Bunda," balas Zio tersenyum tipis.
"Pagi Dadd, pagi oma, pagi nenek," sapa Zio ke semua anggota keluarga nya. Setelah itu ia menarik satu kursi di samping Maria.
"Pagi Boy," sahut Zidan yang terlihat sibuk dengan ponsel nya.
"Pagi Bun....... Pagi Daddy..... muach......... muach," sapa Zia yang baru bergabung sambil mencium pipi Salsa dan Zidan.
"Pagi Abang," Zia hendak mencium juga pipi Zio. Namun, Zio menahan wajah Adik nya itu.
Membuat semua yang ada di sana menertawakan nya.
Dengan bibir yang mengerucut, Zia kemudian mencium pipi Maria dan Rita.
"Tumben anak Daddy ceria sekali hari ini?" tanya Zidan penuh selidik.
__ADS_1
"Iya nih, hari ini kelihatan nya Adek happy banget," timpal Salsa.
"Harus dong Bun. Kita itu memang harus terlihat happy. Nggak kaya Anak Bunda yang itu," sindir Zia dengan meruncingkan bibirnya menunjuk Zio.
"Adek!" tegur Salsa.
"He he he. Canda aja Bun. Owya Bun, kapan Abang nikah sama Sarah?" tanya Zia yang lansung mendapat tatapan nyalang dari Salsa.
"Ups! Sorry," Zia lansung menutup mulut nya dengan tangan.
Tapi tidak dangan Zio. Pemuda tampan yang sedang menyantap makanan di piringnya itu seketika tersedak, hingga wajah nya memerah.
Salsa buru-buru bangkit dari duduk nya, mengusap tengkuk dan punggung putra nya.
"Minum dulu sayang," Salsa memberikan gelas yang berisi air putih ke tangan Zio.
Setelah meminum air putih di tangannya. Lantas Zio menatap Salsa dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.
"Apa maksud ucapan Zia tadi, Bun?" tanya Zio penuh selidik.
Salsa menghela nafas panjang sambil mata nya menatap Zidan.
"Jadi begini sayang. Dulu itu Bunda pernah punya niat. Jika Abang kembali, maka Bunda akan menjodohkan Abang dengan Sarah. Tapi itu terserah Abang kok, Bunda nggak akan memaksa Abang," ucap Salsa memasang wajah sedih. Ia sangat tau sekali, jika putra nya itu pasti tidak akan tega melihat nya bersedih.
"Tapi, Bun-" ucapan Zio terhenti, ketika melihat wajah sendu Salsa yang sudah kembali ke tempat duduk nya.
Sreeet
Kursi yang di duduki Zio bergeser kebelakang setelah itu ia berdiri.
"Zio, mau kemana? Habiskan dulu sarapan nya," titah Maria.
.
.
Saat ini Zio diminta Zidan untuk mengelola perusahaannya. Meski baru belajar. Namun, beberapa tender sudah pernah ia menangkan, tanpa campur tangan orang lain. Dibalik sikap dingin dan pendiamnya. Zio sangat lah rajin dan kompeten, tegas dan berwibawa. Zio selalu menjalankan pekerjaan nya dengan penuh tanggung jawab, tidak pernah main-main dengan pekerjaan nya.
Namun, di balik itu semua ia juga memiliki sikap yang kejam. Siapa pun yang berani mengganggu dan ber main-main dengannya akan ia hancurkan.
Zio juga merupakan pemimpin Gangster yang terkenal di kota ini. Sewaktu sekolah dulu secara diam-diam dia mengumpulkan anak-anak jalanan yang terlantar. Hingga ketika ia memasuki usia dewasa. kelompok itu semakin berkembang dan sangat kuat. Dan kini kelompok itu sudah di kenal dan ditakuti di kalangan dunia bawah tanah.
Namun, di kalangan dunia bawah tanah, tidak ada yang mengetahui siapa Zio. Karna ia menyembunyikan identitas diri, agar tidak menyeret keluarga nantinya. Zio hanya bekerja di balik layar jika ada tugas ia akan memerintah kan anak buahnya untuk mengurus semua itu.
Bahkan Zidan pun tidak mencium, jika putra nya adalah seorang ketua Gangster yang terkenal di kota itu. Yang mereka tau putranya adalah anak yang pendiam dan penurut, rajin dan pekerja keras.
.
.
Dalam perjalanan, Zio masih memikirkan permintaan sang Bunda untuk menikah dengan Sarah.
Kenapa harus sarah? Arrrrrrgh. Sial!"
umpat nya merasa kesal sendiri nya memukul stir mobil.
Tiga puluh menit kemudian. Mobil berlogo Mercedez-Benz tiba di kantor, Ziro Company. Seorang laki-laki yang memang sengaja menunggu kedatangan mobil itu pun segera berdiri di samping pintu mobil.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan," sapa laki-laki itu dengan setengah membungkuk memberi hormat.
Zio berdecak kesal, menatap tajam pria yang berumur lebih tua dari nya itu.
"Ong. sudah berapa kali ku katakan. Jangan pernah panggil aku dengan sebutan menjijikan itu!" ucap Zio penuh penekanan.
"Maaf Rain," ralat Ong.
"Sudah lah, ayo kita masuk," ajak Zio.
Lalu mereka berdua berjalan memasuki lobi kantor.
Sampai di pintu lift, mereka masuk dan menekan nomor, menuju lantai paling atas.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Zio dan Ong melangkah menuju ruang kerja nya.
"Selamat pagi tuan muda," sapa Raka saat berpapasan dengan nya.
"Om," Zio menatap Raka dengan tatapan penuh arti.
"Oke, Zio. Om minta maaf," sesal Raka.
Zio memang tidak pernah suka jika orang memanggil nya dengan sebutan Tuan. Bahkan kata itu terdengar begitu menjijikan baginya.
"Zio, apa Deddy mu hari ini datang ke kantor?" tanya Raka.
"Mungkin nggak," jawab Zio singkat.
"Oo, ya sudah, Om masuk ke ruang kerja dulu," ucap Raka berlalu pergi.
Setelah itu Zio dan Ong pun masuk ke ruang kerja mereka masing-masing.
Baru saja Zio membuka leptop kerja nya. Ponsel dalam saku nya berdering.
Dreet....... Dreet...
Zio mengambil ponsel itu, lalu melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel. Muklis, ada perlu apa dia menelpon ku?
Tanpa menebak-nebak Zio lansung menggeser panah hijau di layar ponsel.
"Ada apa?" tanya Zio.
"Maaf Rain, ada hal penting yang ingin saya sampaikan," jawab Muklis.
"Ya, cepat katakan ada apa? Jika sampai tidak penting maka kau akan Terima akibatnya," ancam Zio.
Mendengar ancaman Tuan nya, membuat Muklis bergidik ngeri.
"Maaf Tuan. Eh salah, maaf Rain. Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa ada pihak lain yang menyusup ke markas kita saat ini. Tapi saya sudah menangkapnya. Hanya saja dia tetap tidak mau mengakui siapa orang yang menyuruh nya," tutur Muklis menjelaskan.
"Kenapa tidak kau potong saja sekalian lidah nya. Hal sepele itu saja kau tidak bisa menanganinya. Dasar payah," gerutu Zio kesal.
"Baik Rain, akan saya lakukan," ucap Muklis.
__ADS_1
"Eh, tunggu! Seperti nya aku berubah pikiran. Biar aku yang melakukan nya nanti, " ucap Zio.