
Semenjak di dalam mobil, Raka mengajak mengobrol santai putrinya, bercanda hal-hal yang tak begitu penting, hingga tawa renyah mereka cukup nyaring terdengar ketika saling melemparkan candaan. Namun, Raka diam-diam memperhatikan raut kegelisahan di wajah putrinya.
Sebenarnya salah satu alasan Raka mengajak putrinya bertemu, yaitu untuk memastikan putri satu-satunya itu bahagia dengan pernikahannya. Sang istrilah yang memintanya menemui Sarah. Santi yang paham akan sikap Zio pada Sarah, merasa takut jika putrinya tidak bahagia dengan pernikahan mereka.
"Sarah, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu ini?" tanya Raka setelah mereka berada di cafe.
"Hm, sudah pastilah Sarah bahagia. Papa kan tau, ini adalah impian Sarah sejak dulu," jawabnya di sertai sunggingan senyum.
"Syukurlah. Tapi, bagaimana dengan Zio? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"
"Baik, Papa gak usah khawatir,"
30 menit sudah, Raka dan Sarah berada di cafe tersebut menyantap makan siang serta saling melempar canda.
Tiba-tiba, Sarah tersentak kala matanya menangkap dua orang yang baru masuk ke dalam cafe melalui pintu lain. Raka tidak melihat karna posisi duduknya yang saling berhadapan dengan Sarah memunggungi pintu tersebut.
Bohong, jika saat ini Sarah tidak merasa cemburu melihat suaminya di gandeng wanita lain, meski suaminya mengatakan wanita itu adik angkatnya.
Sadar jika disini ada Papanya, Sarah menyembunyikan rasa cemburunya, bersikap biasa saja.
"Pa, kita pulang yuk. Soalnya Sarah mau belanja sedikit untuk keperluan rumah," ajaknya ketika Raka hendak menoleh kebelakang, melihat apa yang sejak tadi di perhatikan Sarah di belakangnya.
Sarah tak ingin Papanya nanti berpikir hal macam-macam ketika melihat suaminya dengan wanita lain.
"Oo ya sudah. Biar Papa antarkan kamu pulang," Lalu Raka berdiri dari duduknya.
"Gak usah, Papa kembali saja ke kantor, nanti Sarah naik ojek saja,"
"Naik ojek?" Satu alis Raka terangkat naik.
"Eh, maksud Sarah. Nanti Sarah pesan taksi," kilahnya kemudian.
"Sarah, coba kamu telpon Zio, siapa tau suamimu tidak sibuk,"
"Iya nanti Sarah telpon Bang Zio. Sudah yuk, Sarah antar Papa sampai ke mobil," Lalu Sarah berdiri, merangkul lengan Raka berjalan keluar dari cafe.
"Sarah, kamu yakin pulang sendiri?" tanya Raka lagi sebelum masuk kedalam mobil.
"Papa, Sarah ini sudah besar. Jadi Papa gak perlu khawatir lagi,"
"Hm, ya sudah. Papa balik ke kantor dulu. Kalau ada apa-apa telepon saja Papa,"
__ADS_1
"Siap, bos?" Sarah memberi hormat.
Raka mengacak rambut putrinya sebelum masuk kedalam mobil.
Setelah memastikan mobil sang Papa menghilang dari pandangannya. Sarah hendak kembali ke cafe menemui suaminya yang datang bersama Carla.
Namun, tiba-tiba kepalanya kembali merasakan sakit yang begitu hebat. Tangannya mencoba menggapai-gapai mobil yang ada di parkiran untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
"Eh, kamu kenapa?" Seorang laki-laki yang kebetulan turun dari motor berlari mendekati Sarah dan dengan cepat laki-laki itu menangkap tubuh Sarah yang hendak jatuh. "Ya Tuhan, Sarah. Kamu kenapa?"
Sarah hanya pasrah ketika laki-laki itu memapah tubuhnya, ia tak tau kemana lelaki itu membawanya. Meski kesadarannya masih ada, namun sakit di kepalanya yang luar biasa membuat tubuhnya seakan hilang tenaga.
*
Jam tujuh malam, setelah mengantar Carla pulang, Zio pun kembali kerumah. Seharian ini ia memang tidak masuk kantor, karna menemani Carla yang sedang berulang tahun.
Sesampai di depan rumah, Zio mendapati rumahnya dalam keadaan gelap. Tak ada satu pun lampu yang menyala. Segera ia membuka pintu pagar dan memarkirkan mobil. Turun dari mobil berkali-kali ia mengetuk pintu rumah sambil memanggil istrinya, namun pintu tak kunjung terbuka. Akhirnya Zio menggunakan kunci serep untuk membuka pintu rumah.
Bergegas ia masuk ke dalam rumah memeriksa semua ruangan yang ada. Tapi ia tak menemukan keberadaan Sarah di dalam rumah.
"Kenapa dia tidak ada di rumah? Apa dia pulang kerumah Mama?" monolognya dalam hati sembari mengeluarkan ponsel, mencari nomor Sarah. Namun, tak ia temukan nomor istrinya di sana.
"Kenapa nomornya tidak ada?" batinnya merasa heran. Padahal dia ingat sekali tidak pernah menghapus nomor istrinya. Kemudian Zio menghempaskan bokongmya di sofa sembari berpikir harus melakukan apa. Ingin menelpon mertuanya menanyakan keberadaan Sarah, ia takut jika Sarah tidak ada di rumah yang ada mertuanya pasti akan bertanya kembali padanya.
Mendengar mesin kendaraan berhenti diluar. Zio segera berlari keluar, berharap istrinya yang pulang. Ternyata benar, ia melihat Sarah yang baru keluar dari taksi bersama seorang lelaki.
Seketika amarah Zio meledak melihat laki-laki itu berdiri di samping Sarah.
Dengan dada yang naik turun Zio berjalan mendekati laki-laki itu.
"Abang, jangan, Abang!" Sarah merentangkan kedua tangannya takut suaminya akan memukul orang yang telah menolongnya.
"Sarah! Minggir!" sentak Zio berusah menyingkirkan tubuh Sarah yang melindungi laki-laki itu.
"Sarah, biarkan saja? Apa yang mau di lakukannya," cegah lelaki itu.
"Andri, tolong kamu pulang sekarang," ucap Sarah yang masih merentangkan kedua tangannya menghalangi Zio.
"Hm, baiklah. Ini obatmu jangan lupa di minum,"
Amarah Zio semakin membuncah, menyaksikan lelaki itu memberikan kantong kresek pada Sarah.
__ADS_1
"Sampai ketemu bro," ucap Andri kemudian sembari melambaikan tangan pada Zio.
"Bajingan! Awas kau! Sekali lagi aku lihat kau mendekati istriku. Ku bunuh kau!" ancamnya berapi-api.
"Abang, sudah! Ayo kita masuk," ajak Sarah sembari menarik tangan Zio masuk kedalam rumah.
"Dari mana kamu sama dia!" sentak Zio setelah berada di dalam rumah.
Sarah menghela nafas besar. "Tadi Sarah pusing, terus Andri membawa Sarah kerumah sakit," Sebenarnya Sarah tak ingin mengatakan jika dirinya baru saja dari rumah sakit. Akan tetapi ia juga takut, jika suaminya berpikiran macam-macam nantinya.
"Tadi pagi saya ajak kerumah sakit kenapa kamu tidak mau?"
"Hmm, Abang sudah makan belum?" Sarah mengalihkan pembicaraan.
"Belum, kamu masak lah! Saya lapar," ucap Zio ketus.
"Baiklah, Sarah ganti baju dulu ya," ucapnya, lalu pergi.
Tidak lama Sarah kembali kebawah setelah berganti pakaian.
"Tidak usah masak, saya sudah pesan makanan. Kelamaan kalau menunggu kamu," ucap Zio ketika Sarah hendak pergi kedapur. "Duduk sini," imbuhnya melihat Sarah yang masih berdiri.
Sarah menurut, duduk di sebelah suaminya. "Kenapa kamu tidak menelpon Abang tadi kalau ingin kerumah sakit?" tanya Zio ketus.
Sarah tersenyum sinis. "Pasti ponsel Abang rusak kan?" Bukannya menjawab Sarah malahan ikut bertanya.
"Tidak, ponsel Abang tidak rusak," jawab Zio.
Sarah menggeleng. "Kalau begitu Abang tanyakan lah sama orang yang tadi siang bersama Abang?" sindirnya.
Zio mengernyit. "Maksud kamu?"
"Gak, gak ada maksud apa-apa kok,"
"Lalu, kenapa kamu bisa bertemu dengan si brengsek itu?" tanya Zio yang masih belum puas hati.
"Maksud Abang, sama Andri?" Sarah meyakinkan.
"Ya, kenapa kamu bisa bersama dia?"
"Abang, kan tadi sudah Sarah bilang. Sarah tiba-tiba pusing dan kebetulan Andri ada disana. Lalu Andri lah yang membawa Sarah kerumah sakit,"
__ADS_1
Wajah Zio terlihat memerah menahan amarah.
"Memang kenapa? Abang cemburu?" tanya Sarah kemudian.