
"Abang, dapurnya di sebelah mana?" tanya Sarah yang telah selesai membereskan kamarnya.
Zio yang masih duduk di sofa sambil membaca pesan dari Carla, menyembunyikan ponselnya sebelum menjawab tanya Sarah. "Di sana!"
Sarah berjalan menuju tempat yang di tunjuk Zio. "Abang, ini bukan dapur!" teriaknya.
"Terus apa, kamar mandi?" sahut Zio.
Sarah keluar dari ruangan tersebut. "Abang, mana ada dapur tanpa ada perabotan sama sekali. Kompor, nggak ada, peralatan masak nggak ada, kulkas nggak ada. Bagaimana caranya Sarah mau masak?"
"Ya kamu tidak perlu masak,"
"Terus kalau Sarah nggak masak, Abang makan apa nanti?" tanyanya sembari duduk di sebelah Zio.
"Kalau kamu lapar, kamu tinggal order saja makanan. Gampangkan! Kamu tidak perlu memikirkan saya,"
Sarah menatap dalam suaminya itu. "Sekarang coba Abang katakan! Apa alasan Sarah nggak memasak? Secara Sarah kan nggak ada kesibukan lain,"
"Cerewet sekali!" Zio mendengus kesal, kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku, setelahnya bangkit dari duduk berjalan keluar.
"Abang mau kemana?" Sarah juga ikut bangkit dari duduknya.
Di depan pintu, Zio menghentikan langkah, lalu menoleh pada Sarah. "Tidak usah banyak tanya?"
"Nggak, Sarah harus tau Abang mau pergi kemana dan untuk urusan apa?"
Zio menghela nafas. "Kamu ingin perabot dapur kan?" dengusnya, kemudian melangkah pergi.
Sarah tersenyum senang sembari berlari mengejar Zio. "Abang, tunggu! Sarah ikut!"
* * *
Setelah membeli perabotan, mereka kembali pulang. Sarah hanya membawa barang-barang kecil saja, seperti perlengkapan mandi serta cemilan dan bahan-bahan makanan. Sementara yang lainnya akan diantar kurir nanti.
"Senangnya bisa belanja sama suami tercinta," gumamnya sembari melangkah masuk kedalam rumah.
Zio yang juga ikut masuk kedalam rumah hanya diam saja.
"Abang gerah nggak?" tanyanya pada Zio yang sudah duduk di sofa.
"Nggak," jawab Zio.
"Tapi, Sarah kok gerah banget," Sarah duduk di sebelah Zio.
"Abang, bagaimana kalau kita mandi bareng?" godanya sembari menggerakkan alis naik turun.
"Ka-kamu mandi saja sendiri,"
"Ya sudah, kalau Abang nggak mau. Sarah mandi sendiri saja," Lalu, Sarah berdiri dari duduknya, "Kalau Abang mau menyusul, pintu kamar mandi nggak Sarah kunci kok," Setelahnya, Sarah pergi meninggalkan Zio.
"Dia itu kenapa selalu saja menggodaku?"
Tubuh Zio saat ini panas dingin membayangkan kejadian di rumah mertuanya.
Akhirnya Zio, memutuskan menyusul Sarah ke kamar mandi.
Ting tong! Ting tong!
Suara bel menghentikan langkah Zio yang hendak menaiki tangga.
"Siapa sih! Mengganggu orang saja!" Zio mendengus kesal.
Cek lek.
Di luar berdiri seorang pria.
"Maaf apa benar ini rumah Ibu Sarah Zulfarida Khasanah?"
"Iya, benar. Ada apa?" tanya Zio balik.
"Kami ingin mengantarkan barang-barang yang di beli Ibu Sarah tadi," jawab pria itu.
"Oo, ya sudah. Bawa masuk!" perintah Zio.
__ADS_1
Sementara itu, Sarah yang berada di dalam kamar mandi sengaja berlama-lama, berharap suaminya akan menyusul. Dua puluh menit sudah ia berada di dalam kamar mandi, namun Zio tak kunjung datang. Akhirnya Sarah memutuskan menyudahi mandinya.
Setelah berpakaian, Sarah kembali kebawah. Di lihatnya semua barang yang dibelinya tadi sudah berada di dalam rumah, terlihat berantakan. Sebagian juga ada barang di teras rumah.
Di lihatnya Zio yang duduk di sofa tengah asyik memainkan gawai, seperti tidak peduli dengan rumah yang berantakan. "Abang, kurir yang mengantar barang-barang ini mana?"
"Sudah pergi," jawab Zio tanpa mengalihkan matanya dari ponsel.
"Terus, siapa yang akan mengangkat kulkas serta lemari pakaian diluar?" tanya Sarah.
"Yang menginginkan barang-barang ini siapa?" Zio balik bertanya.
"Abang! Itu kan berat! Sarah mana kuat mengangkatnya. Lagian Abang kenapa sih tadi nggak minta tolong saja sama kurir untuk membawa masuk?"
"Saya sibuk,"
"Abang!" Sarah meninggikan suaranya
Zio melotot.
"Lebih baik Sarah minta tolong saja sama orang lain!" Kemudian, Sarah menghentakkan kakinya keluar rumah.
"Eh, ada tetangga baru rupanya?" sapa seorang wanita yang kebetulan melintas di depan rumahnya.
Sarah tersenyum sembari berjalan mendekati wanita itu. "Iya Kak, saya baru pindah tadi," ucapnya yang sudah berada di depan wanita itu.
"Pengantin baru ya?" goda wanita itu membuat wajah Sarah merona.
"Nama Kakak Citra," Wanita itu memperkenalka diri.
"Nama saya Sarah, Kak," Sarah juga memperkenalkan dirinya.
"Senang bisa berkenalan dengan Sarah. Kakak tinggal di sana!" Wanita itu menunjuk sebuah rumah. "Kalau Sarah butuh apa-apa, jangan sungkan datang kerumah, ya,"
"Sebenarnya saat ini Sarah memang lagi butuh bantuan, Kak," ujarnya malu-malu.
"Bantuan apa? Siapa tau Kakak bisa bantu,"
"Eh, mengangkat itu Kakak juga nggak kuat lah," Wanita itu terkekeh. "Mungkin Andri bisa melakukannya, tapi tadi dia belum pulang sih. Begini saja, nanti kalau Andri sudah pulang. Kakak suruh dia kesini,"
"Wah! Terimakasih sekali, Kak. Beruntung Sarah punya tetangga sebaik Kakak,"
"Tidak usah berlebihan begitu. Ya sudah, Kakak pulang dulu. Nanti kalau Andri ada di rumah, Kakak suruh dia kesini," ujar wanita itu.
"Sekali lagi terimakasih ya, Kak,"
"Iya, sama-sama Sarah. Kakak pulang ya,"
"Iya, Kak,"
Setelah wanita itu pergi, Sarah kembali masuk ke dalam rumah. Menata barang-barang yang bisa ia angkat sendiri, tanpa meminta tolong pada suaminya.
Ting tong!
Ting tong!
Ting tong!
Zio bangkit dari duduknya, berjalan membuka pintu.
Cek lek.
Seketika wajah Zio berubah merah melihat seseorang yang berdiri di depan rumahnya.
"Maaf, tadi Kakak gue bilang lo butuh bantuan, ya?" tanya orang itu.
"Abang! Siapa yang datang?" Sarah berjalan mendekati Zio yang berdiri di depan pintu.
Namun, Zio lansung menutup pintu rumahnya.
"Abang, tadi siapa yang datang?" tanya Sarah lagi.
"Orang gila," jawab Zio ketus.
__ADS_1
Sarah mengernyit menatap suaminya.
Ting tong! Ting tong!
Suara bel kembali terdengar.
"Tidak usah di buka!" larang Zio.
"Lho, kenapa?" tanya Sarah.
"Kamu lanjutkan saja beberes!" Zio mendengus.
Ting tong!
Suara bel di luar masih saja terdengar.
"Abang, buka pintunya!" desak Sarah sembari menarik gagang pintu.
Cek lek.
"Hai," sapa seseorang yang berdiri diambang pintu, sembari melambaikan tangannya pada Sarah.
Sarah menoleh melihat wajah suaminya yang terlihat kesal.
"Aku tadi di suruh Kakakku datang kesini. Katanya kamu butuh bantuan?" ucap lelaki yang berdiri di depan pintu, membuat emosi Zio semakin meledak-ledak, mendengar nada bicaranya terdengar berbeda saat bicara dengan Sarah.
"Sarah! Masuk!" perintah Zio tegas.
"Tapi....?" Melihat tatapan suaminya yang begitu tajam, Sarah tidak melanjutkan kalimatnya, ia memilih masuk kedalam rumah.
Braak!
Zio menutup pintu dengan kasar.
"Abang ini serba salah! Orang datang mau membantu malah marah-marah. Terus, sekarang siapa yang akan membawa masuk lemari serta kulkas itu masuk?" gerutu Sarah kesal.
Zio tidak melayani ocehan Sarah, ia menelpon Muklis, menyuruh mengirim dua orang anak buahnya datang kerumah.
"Sudah, kamu bereskan saja pekerjaanmu. Nanti saya yang memasukkan barang-barang itu," ucap Zio.
Sarah menurut, ia pergi kedapur, memasak untuk makan malam dengan bahan yang ia beli tadi.
Selagi Sarah berada di dapur anak buah Zio datang kerumah. Segera Zio memerintahkan mereka membawa masuk lemari pakaian serta kulkas ke dalam rumahnya.
* * *
Malam harinya, Zio sudah terlihat rapi dengan pakaiannya, bersiap pergi memenuhi janjinya makan malam bersama Carla.
"Abang mau kemana? Kok rapi banget?" tanya Sarah.
"Mau pergi makan malam," jawab Zio sembari melangkah menuruni anak tangga.
"Kenapa Abang nggak bilang dari tadi kalau mau mengajak Sarah makan malam di luar. Tau gitu, Sarah nggak perlu masak tadi,"
Zio menghentikan langkahnya. Menatap Sarah lekat. "Saya memang tidak mengajak kamu,"
"Terus, Abang mau makan malam dengan siapa?"
"Tidak usah banyak tanya. Saya pergi dulu," pamitnya.
"Ya, pergilah. Paling nanti Sarah akan telepon Bunda. Sarah akan bilang, kalau Abang ninggalin Sarah sendiri di rumah. Bunda pasti bakalan marah banget sama Abang, karna ninggalin Sarah malam-malam,"
"Sarah! Tolong biarkan saya pergi kali ini,"
"Ya, Sarah akan izinkan, kalau Abang bawa Sarah juga,"
Zio berpikir sejenak. "Baiklah," ucapnya kemudian.
Sarah tersenyum senang. "Abang tunggu sebentar, ya. Sarah mau siap-siap dulu," ucapnya seraya berlari kecil menaiki tangga.
"Cepat!"
"Iya,"
__ADS_1