
Merasakan ponsel didalam saku celananya bergetar. Zio pun meminta izin ke kamarnya.
"Bun, Abang istrahat ke kamar dulu ya," ucap Zio lalu melangkah menaiki tangga sembari mengeluarkan kan ponsel nya dari dalam saku celana.
"Ya, Ada apa Muklis?" tanya Zio terus mengayunkan langkah menaiki anak tangga.
"Rain, Saya sudah menemukan penghianat itu," jawab Muklis dari seberang telepon.
"Bagus! Jangan kau apa-apa kan dia, biar aku yang memberinya pelajaran," ucap Zio di sertai seringai di wajah nya.
"Baik Rain," sahut Muklis.
"Muklis, aku punya tugas baru untuk kau," ujar Zio yang sudah berada di dalam kamar nya.
"Katakan saja, akan ku lakukan," balas Muklis.
"Cari informasi lengkap bandar narkoba yang ada di kota B, nama nya Rusdi.
Dan satu lagi, kirim detektif untuk mencari keberadaan wanita bernama Niken. nanti ku kirimkan fotonya," ucap Zio memberikan perintah
"Gampang itu," balas Muklis
"Hmm. Kerjakan cepat," Setelah itu sambungan terputus, Zio lalu mengirimkan foto Niken yang diambil nya sewaktu berada di rumah Zakir.
.
.
.
.
Di rumah Santi.
Sarah terlihat uring-uringan di dalam kamarnya. Berbaring diatas ranjang sesekali ia mendekatkan ponsel ke telinganya, menelpon seseorang namun, tak pernah terhubung.
Tok
Tok
Tok
"Sar.... Sarah.... Mama boleh masuk nggak?" terdengar suara Santi dari balik pintu kamar.
"Ya, masuk aja Ma," sahut Sarah lalu duduk bersila di atas ranjang.
Ceklek
Pintu terbuka, Santi melangkah mendekati putri nya dengan dahi yang berkerut.
"Kamu kenapa Sar? Wajah kok kusut gitu? Bukan nya kamu senang, sebentar lagi akan bertunangan dengan Zio," tanya Santi seraya duduk di pinggir ranjang.
Sarah mengambil boneka panda, meletak kan diatas kedua paha nya. Tangan nya masih memegang ponsel dengan wallpapers foto Zio.
Santi tertawa kecil memandang wajah putrinya yang sedang galau itu.
"Tuh kan Mama, datang kesini cuma mau menertawakan ku," dengus Sarah.
"Habisnya kamu sih, bikin Mama heran aja. Kemarin ngotot membujuk Bunda mu agar bisa bertunangan dengan Zio. Tiba waktunya malah tidak bersemangat," sindir Santi.
"Udah deh, mending Mama keluar aja. Bukan nya ngasih solusi malah ngetawain," sungut Sarah.
__ADS_1
"Iya deh, Mama nggak ngetawain lagi. Sekarang cerita ke Mama, ada apa?" bujuk Santi.
Sarah menghela nafas.
"Ma, Sebenar nya Bang Zio cinta nggak sih, sama aku?" tanya Sarah mengungkapkan apa yang di rasakan nya.
"Menurut mu sendiri gimana? Kan kamu yang menjalani nya."
Sarah menggeleng lemah dengan bibir mengerucut.
"Seperti nya hanya aku yang ter gila-gila dengan Bang Zio, Ma. Bang Zio sendiri mah cuek aja. Malahan nomor ponsel ku sekarang di blokir nya. Kasihan sekali hidup ku, Ma," Sarah merengek kencang.
Santi tersenyum kecil, mendengar ungkapan putrinya itu. Ia teringat kisah cinta nya bersama Raka dulu.
"Kamu tau engga Nak, dulu Mama sama Papa mu juga begitu. Malahan awal nya Papa mu terang-terangan mengatakan tidak akan pernah menyukai Mama. Eh tau nya dia sendiri yang mengejar-ngejar Mama," tutur Santi.
"Tapi ini beda Ma. Bang Zio itu sama sekali nggak pernah merespon aku selama ini. Padahal kami sudah bertahun-tahun kenal. Dan pertunangan ini pun kalau bukan Bunda yang menyuruh, pasti Bang Zio nggak bakalan mau, " rengek Sarah frustasi.
"Mungkin belum waktunya saja. Percaya deh sama Mama, jika jodoh itu nggak akan kemana. Dia akan datang sendiri padamu. Jadi nggak usah baperan dulu sebelum menikah. Yang ada nanti kamu sakit hati, ketika harapan mu tidak sesuai dengan kenyataan," tutur Santi.
"Terus, pertunangan ini gimana Ma? Apa aku batalin saja," tanya Sarah.
"Ya jangan, nanti Bunda mu marah, kan semua keluarga sudah menyetujui hubungan kalian." jawab Santi.
"Sekarang mending kamu bantu Mama memasak deh. Emang kamu ngga mau memasak makanan untuk Abang Zio tercinta," imbuh Santi menggoda nya.
Seketika wajah Sarah berbinar.
"Ayo Ma," ucap Sarah penuh semangat segera bangkit dari ranjang.
Santi hanya menggeleng kepala melihat tingkah putri nya itu.
.
.
.
Malam pun tiba.
5 mobil mewah terparkir di halaman rumah orang tua Santi, dua diantara nya membawa para pengawal.
Di teras rumah mereka di sambut oleh Edi, Wati, Raka, Santi dan Saka.
"Akhir nya Mama bisa bertemu juga dengan calon menantu yang super sibuk ini," ucap Santi. Dia memang sudah lama sekali tidak berjumpa Zio.
Zio hanya tersenyum tipis menanggapi, lalu mencium punggung tangan Santi serta keluarganya. Semua itu hasil didikan Salsa yang memang selalu ia praktek kan.
"Kalau anak Mama yang cantik ini kapan menikahnya," ucap Santi menggoda Zia.
"Ssssst." Zia menempelkan telunjuk nya di bibir meminta Santi agar tidak menanyakan hal itu padanya.
"Selamat malam Bos," sapa Raka membuat semua orang di sana menatap padanya.
Zidan juga ikut menatap orang kepercayaan nya itu dengan dahi berkerut.
"Coba kau ulang lagi Raka," pinta Zidan.
"Selamat malam Bos," ucap Raka patuh.
Membuat semua yang ada di sana menjadi tertawa.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan menjadi besan Raka. Kenapa kau masih memanggil ku dengan sebutan itu? Seperti nya aku harus memecat kau Raka," gerutu Zidan.
"Jangan Bos, jangan lakukan itu," ucap Raka memohon.
"Mulai besok, jangan pernah lagi datang ke kantor ku Raka," ucap Zidan.
"Sa-saya di pecat Bos," tanya Raka seakan tak percaya, di sertai wajah nya berubah sedih.
"Hm..." Zidan mengangguk.
.
.
.
Acara pertunangan itu tidak di rayakan secara besar-besaran, hanya di hadiri dua keluarga besar mereka saja. Sekilas acara itu terlihat seperti makan malam biasa.
Sarah keluar dari kamarnya dengan balutan gaun berwarna putih. Beberapa jenak mata Zio tidak berkedip, memandang Sarah yang malam itu terlihat sangat cantik di matanya.
Cantik. batin Zio tanpa ekspresi kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
Dreeeet...... Dreeeet...... Dreeeet.....
Zio meraih ponsel dari dalam saku nya yang bergetar, setelah itu bergegas melangkah keluar setelah melihat nama Carla yang tertera di layar.
Tanpa Zio ketahui, Sarah yang melihat nya secara diam diam mengikuti nya keluar.
"Ya Dek," sapa Zio ketika sambungan telepon nya terhubung.
"Abang jadi kesini kan? Adek lapar..." ucap Carla.
"Adek pergi keluar sekarang, disana ada dua orang laki-laki. Mereka itu teman teman Abang, Adek minta tolong saja sama mereka untuk membelikan makanan," ucap Zio.
"Nggak mau, Adek maunya makan sama Abang," rengek Carla.
"Iya, sebentar lagi Abang kesana ya,"
"Benar ya Bang, Jangan lama. Adek bosan di sini sendiri," ujar Carla.
"Iya... "
"Adek tunggu ya, kalau Abang nggak datang Adek nggak mau makan,"
"Iya, Abang pasti datang. Udah ya Abang tutup telepon nya dulu," ucap Zio lalu memutuskan sambungan telepon. Setelah itu ia kembali lagi masuk ke dalam rumah.
Tanpa Zio ketahui Sarah yang bersembunyi, mencuri dengar semua pembicaraan nya.
Siapa yang menelpon Bang Zio tadi? Kenapa nada bicaranya begitu lembut? Apa dia pacar nya?
tanya Sarah dalam hati.
.
.
.
Setelah saling bertukar cincin, acara selanjutnya nya adalah makan malam bersama.
Di meja makan Zio terlihat mulai resah sesekali melihat jam di pergelangan tangan nya.
__ADS_1
"Bunda, acaranya sudah selesai kan? Abang pamit duluan ya," bisik Zio.