
"Abang...."
Zio menoleh, ketika mendengar suara yang begitu ia kenal memanggilnya. Mata nya berbinar menatap gadis yang berlari menuruni anak tangga.
"Abang..." Carla berhambur memeluk Zio, yang berdiri di hadapan pria paruh baya.
"Abang, Adek takut," isak tangis Carla semakin menjadi di pelukan Zio.
Zio mengusap punggung gadis itu, menenangkannya.
Di ambang pintu masuk, Raka berdiri menatap menantunya yang di peluk Carla.
Seketika Zio berusaha melerai pelukan Carla, saat menyadari ada Raka di belakang nya. Dirinya tidak ingin membuat mertuanya itu salah paham.
"Raka. Kebetulan sekali kamu datang!" Pria paruh baya yang masih berdiri di hadapan Zio berucap lantang.
"Tuan Daniel," Mata Raka menatap tubuh Ong, yang tergeletak di lantai. Kemudian melangkah masuk kedalam rumah itu.
Zio terlihat gelagapan, antara takut dan tak enak hati dengan mertuanya, karna Carla masih memeluk nya.
Zio memberi kode pada Muklis, agar membawa Carla keluar.
Namun Carla enggan untuk pergi dengan muklis, malah tangannya semakin mempererat pelukan di lengan Zio.
"Adek, keluar dulu dengan teman Abang, ya. Nanti Abang susul," bisik Zio, sambil berusaha melepaskan tangan Carla yang memeluk lengan nya.
Carla menggeleng. "Adek nggak mau, Adek takut," Carla merengek manja, menyandarkan kepalanya di lengan Zio.
"Adek, percaya sama Abang, tolong pergi dulu ya," Zio berusaha membujuk.
"Tapi, Abang jangan lama,"
"Iya, Abang nggak lama kok," Carla pun akhirnya melepaskan pelukan nya di lengan Zio, lalu pergi bersama Muklis.
Semua itu tak luput dari perhatian Raka, yang sejak tadi memperhatikan Zio. Tentu Raka bertanya-tanya. Ada hubungan Apa menantunya dengan gadis yang barusan pergi?
"Om," Zio menyapa lirih, sungguh dirinya saat ini merasa canggung melihat keberadaan Raka.
Sesaat Raka menatap Zio yang menunduk kan kepala. Sebelum beralih menatap pria paruh baya yang berdiri menahan emosi.
"Apa yang terjadi, tuan Daniel?" tanya Raka.
__ADS_1
"Apa anak ingusan ini putra Zidan Alvero, Raka?" Bukan menjawab tuan Daniel malahan ikut bertanya.
"Benar, nama nya Zio Alfahrizi patra Alvero." jawab Raka membenarkan, melirik sekilas laki-laki yang kini sudah menjadi menantunya, masih menundukkan kepala.
"Kelau begitu, saya ingin kamu menyampaikan pada Zidan. Saya meminta pertanggung jawaban, karna anak ingusan ini telah membunuh keponakan saya," Tuan Daniel menatap sinis Zio yang masih menunduk. Baru sebentar ini dia mendengar putra dari Zidan Alvero itu berkata angkuh padanya. Tapi kenapa sekarang anak yang dikatakan nya ingusan itu malah menunduk seperti ketakutan?
Raka mengedarkan pandangan, sambil melangkah pelan mengitari ruangan itu. "Saya yang akan bertanggung jawab. Karna saya yakin, tuan muda Zio tidak akan melakukan hal itu tanpa alasan."
Zio tersentak, bukan karna Raka mengatakan akan bertanggung jawab. Tapi ia kaget karna Raka menyebut nya tuan muda. Pikirnya, pasti mertuanya itu marah padanya, karna melihat Carla tadi. Dirinya takut jika masalah itu sampai ke telinga Salsa.
"Tuan muda, pulang lah. Biar saya yang menyelesaikan masalah ini," ujar Raka, tanpa melihat Zio.
Zio memberanikan diri mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Pulang? Pulang kemana yang di maksud mertuanya tadi? Apa mertuanya menyuruh nya pulang ke mension? Dan tak lagi mengizinkan dirinya tinggal di rumah Santi. Bukan kah itu sama saja membongkar rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
"Raka! Saya ingin bocah ingusan itu yang bertanggung jawab," tekan tuan Daniel menunjuk Zio.
"Tuan mau minta pertanggung jawaban apa?" Raka menatap tubuh Ong yang tergeletak di lantai. Kemudian berjalan mendekati tuan Daniel. "Ini salah tuan, yang membiarkan Ong menuntut balas atas apa yang menimpa Rendi. Bukankah jika tuan melarang nya semua ini tidak akan terjadi," bisik Raka, kemudian melangkah mendekati Zio.
"Harus nya saya menyadari semua itu lebih awal. Tapi saya tidak tau jika Ong ini adalah keponakan, tuan." lanjut Raka seraya menepuk pundak Zio. "Tuan muda pulang lah, serah kan semua ini pada saya. Sarah sejak tadi menunggu tuan dirumah,"
Zio mengangkat kepalanya, menatap Raka yang sedikit menyunggingkan senyum padanya.
Tiba di luar, Carla berlari mendekati Zio. Tapi, tangan Zio lebih dulu memegang kedua bahu Carla yang hendak memeluk nya.
"Adek, pulang sama Muklis, ya. Abang harus segera pulang,"
"Nggak mau, Adek mau pulang sama Abang. Pokok nya Adek nggak mau lagi Abang tinggal. Adek takut," Carla merengek di sertai bibir nya yang bergetar.
"Adek, Abang harus segera pulang. Besok Abang temani Adek, ya," Zio membujuk, disertai sorot mata meyakin kan.
"Abang janji," Carla akhirnya pasrah.
"Iya, Abang janji,"
"Bang, Om Zakir baik-baik saja, kan?"
Zio menghela nafas nya kasar. Bagaimana cara nya dia akan mengatakan jika Zakir sudah meninggal.
"Adek, nanti Abang cerita, ya. Sekarang, Abang harus pulang." kata Zio, seraya menoleh ke arah rumah mewah yang di masuki nya tadi. Dia takut, jika nanti Raka tiba-tiba keluar, pastinya mertua nya itu akan melihat keberadaan nya bersama Carla. Karna posisi nya berdiri saat ini tepat berada di depan rumah tuan Daniel.
"Tapi Bang, Adek nggak mau pulang kerumah itu lagi, Adek takut." Carla menangis, teringat kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu. Mungkin semua itu masih menyisakan trauma baginya.
__ADS_1
"Besok kita cari rumah lain ya. Malam ini Adek tidur di hotel dulu, ya. Muklis akan mengantar kan Adek kesana,"
"Ya," lirih Carla, pasrah.
"Kalau begitu, Abang pulang dulu ya." Zio mempertegas tangan nya di bahu Carla.
Carla mengangguk pelan. Raut wajah gadis itu terlihat begitu sedih.
Zio melepaskan tangan nya dari bahu Carla, berjalan mendekati Muklis. "Muklis, antar Carla ke hotel. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan nya. Kau paham!" bisik Zio penuh penekanan.
"Iya, Rain," balas Muklis.
Kemudian Zio melangkah kan kaki nya pergi.
Tidak jauh kaki Zio melangkah. Carla berlari mengejar nya, memeluk tubuh nya dari belakang.
"Adek mau peluk Abang sebentar," lirih Carla meluapkan rasa di hati nya.
Zio pasrah, membiarkan gadis itu memeluk nya.
* * *
Pukul 2 dini hari. Zio sudah berada di rumah Santi. Di coba nya memutar pelan gagang pintu rumah itu. Tapi terkunci. Tak ingin membangunkan penghuni rumah. Zio duduk di kursi yang ada di teras rumah, menyandarkan kepalanya di sana, merilekskan pikiran.
Tidak lama berselang, ia mendengar suara gagang pintu rumah, di sertai derit pintu terbuka.
"Abang.... Abang dari mana saja?" Sarah mendekati suami nya.
Zio bangkit dari duduk nya.
"Ayo kita masuk, Sarah dari tadi menungu Abang pulang." Sarah merangkul lengan Zio membawa nya masuk kedalam rumah.
"Abang, ayo," Sarah menarik tangan Zio yang berdiri diambang pintu kamar nya.
Zio berjalan mendekati sofa yang ada di ruangan itu, menghempaskan duduk nya di sofa panjang itu
Sarah mengikutinya, membaringkan tubuh nya di sebelah suaminya, menjadikan kedua paha Zio sebagai bantal.
Tubuh Zio panas dingin. Dirinya yang tidak biasa dengan perempuan terlihat begitu gugup. "E-eh, Sa-Sarah. Ka-kamu ngapain?" Zio berusaha mengangkat kepala Sarah di pahanya.
"Abang, Sarah ini sudah menjadi istri Abang. Jadi tak haram lagi kita bersentuhan,"
__ADS_1