
Selang satu jam kemudian ponsel Zio kembali berdering.
"Ya Bun," sapa Zio.
"Abang sudah sarapan?" tanya Salsa dari sebrang telepon.
"Udah Bun," jawab Zio.
"Abang jadi kan pulang hari ini? Jangan sampai nggak jadi. Kalau Abang nggak mau Bunda susul kesana." ucap Salsa mengancam.
"Iya Bun, Abang pulang hari ini," balas Zio pasrah.
"Gitu dong. Jam berapa Abang pulang?" tanya Salsa lagi.
"Mungkin agak sore an Bun,"
"Baiklah, Abang hati-hati disana, Bunda tunggu di rumah,"
"Iya Bun," ucap Zio setelah itu sambungan telepon pun ia putuskan.
Zio menghembuskan nafas kasar. Lalu, masuk kembali ke ruang UGD. Tadi dokter juga sudah mengatakan akan mempersiapkan kamar inap untuk Zakir dan Ong.
.
.
"Adek mau kan, ikut Abang ke kota X?" tanya Zio pada Carla yang sedang menyuap kan Zakir bubur.
Carla melihat Zio kemudian mengalihkan pandangan nya pada Zakir.
"Bagai mana dengan Om Zakir dan Bagas? Lagian siapa yang akan bekerja di kios bunga nanti, kalau Adek ikut Abang," ucap Carla seperti nya ia masih enggan meninggalkan kota kelahiran nya itu.
"Om Zakir juga akan ikut, Dek,"
"Iya kan Om? Om mau kan ikut bersama kita," tanya Zio pada Zakir.
Zakir memandang mereka sambil tersenyum lalu ia meminta kertas dan pena.
[Aku ini sudah tua, hanya akan merepotkan kalian saja. Lebih baik tinggalkan saja aku disini.] tulis Zakir di kertas itu.
"Nggak, aku nggak akan ninggalin Om."
"Abang pergi saja, Adek akan tetap tinggal di kota ini bersama Om Zakir. " ucap Carla dengan mata yang berkaca.
Zakir mengusap lembut puncak kepala Carla yang sudah dia anggap seperti putri nya sendiri. kemudian ia kembali menulis di kertas tadi.
[Baiklah, Aku akan ikut dengan kalian jika itu tidak merepotkan.] tulis Zakir.
Zio tersenyum senang mendapat jawaban dari Zakir itu berarti tidak ada masalah lagi untuk ia kembali ke kota X sore ini.
"Om bisa duduk di kursi roda, kan?" tanya Zio.
Zakir mengangguk seraya tersenyum.
Setelah itu Zio mendekati brangkar Ong.
__ADS_1
"Ong, apa kamu bisa jalan?" tanya Zio.
"Bisa, tapi sepertinya aku membutuhkan tongkat untuk melakukan itu." jawab Ong.
"Itu gampang," balas Zio.
Tiba-tiba Heru masuk ke dalam ruangan itu dangan nafas yang terengah-engah.
"Ra... Om..... Kios Bunga mengalami kebakaran. Semua habis terbakar tanpa sisa," ucap Heru memberitahukan dengan nafas yang masih memburu.
"Yang benar kamu Her?!" Carla bangkit dari duduk nya dengan mata yang membola.
"Benaran Ra, buat apa aku bohong. Ayo kita kesana kalau kamu tidak percaya," ujar Heru.
Carla pun meletakkan mangkok yang berisi bubur itu diatas meja, lalu melangkah hendak pergi.
"Adek, jangan pergi." cegah Zio dengan nada dingin nya.
"Abang, Adek harus pergi kesana untuk memastikan nya." ucap Carla.
"Jangan pergi!" ucap Zio tegas, membuat Carla hanya bisa menurut patuh.
Zio menatap Heru dengan tatapan tajam, lalu menarik tangan nya keluar dari ruangan itu.
Buk
Satu pukulan mendarat di perut Heru. Membuat pemuda itu lansung meringkuk kesakitan sambil memegang perut.
"Siapa yang menyuruh kau?!" tanya Zio penuh penekanan.
Kemudian Zio mencengkram leher nya dengan satu tangan.
"Katakan, siapa yang menyuruh kau?" tanya Zio lagi dengan sorot mata nyalang.
"Apa yang Abang lakukan? Lepas kan Bang, dia temanku," Tiba-tiba Carla sudah berada di sana, ia berusaha melepaskan tangan Zio yang mencengkram leher Heru.
"Uhuk..... Uhuk..... " Heru lansung jatuh ke lantai, ketika Zio melepas kan cengkraman tangan nya.
Carla ikut berjongkok mensejajar kan tinggi tubuh nya dengan Heru. "Kamu nggak apa-apa kan Her?" tanya Carla cemas.
"Adek, masuk," Zio menarik tangan Carla masuk kedalam ruang UGD.
Di luar, Heru bergegas meninggalkan rumah sakit.
"Abang kenapa sih? Marah-marah nggak jelas. Kalau kenapa-napa dengan teman aku gimana? " sungut Carla kesal.
"Simpan buat nanti omelan nya Dek. Abang mau ke resepsionis dulu. Tunggu di sini, jangan kemana-mana." ucap Zio lalu ia pergi keluar.
Firasat Zio tidak enak dengan rentetan kejadian dalam waktu semalam tadi, di mulai dari pingsan nya Carla, hingga tertembak nya Ong. Di tambah pagi ini ia mendengar kabar dari Heru jika kios Bunga Zakir habis terbakar.
Mungkin yang diucapkan Zakir benar, Ia memang harus segera meninggalkan kota ini sementara waktu demi keselamatan Carla. Dan ia akan kembali lagi setelah urusan nya dengan sang Bunda selesai
Setelah selesai mengurusi semua administrasi rumah sakit, Zio membawa Zakir, Carla dan Ong ke restorannya terlebih dulu, karna helikopter nya ada di sana.
Tiba di restoran, mereka di sambut Yudi menejer baru yang menggantikan Karin.
__ADS_1
Setelah menyantap makan siang di restoran itu. Tanpa membuang waktu lagi Zio mengajak mereka, segera naik ke helikopter.
Kali ini Zio sendiri lah yang menjadi pilot menerbangkan capung raksasa itu.
.
.
***
Lebih kurang satu jam, capung raksasa itu sudah mendarat di bandara pribadi keluarga Alvero.
Setelah itu Zio mengajak mereka naik ke mobil yang ada di sana.
Terlebih dulu Zio mengantarkan Ong ka apartemen nya.
Setelah itu, ia membawa Zakir ke rumah sakit yang ada di kota X untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi.
"Abang mau kemana?" tanya Carla melihat Zio yang seperti hendak pergi.
"Adek disini dulu ya, tungguin Om Zakir. Nanti malam Abang kesini lagi. Kalau Adek butuh apa-apa telpon saja Abang," jawab Zio.
Lagi, Carla hanya bisa menurut patuh. Karna tidak mungkin ia bisa ikut. Tentu Zakir tidak ada yang menjaga,
"Benar ya, nanti malam Abang datang lagi,"
"Iya, Abang pasti datang,"
Sebelum pergi, tak lupa Zio meninggalkan beberapa lembar uang Cash untuk pegangan Carla di sana.
Zio juga menelpon muklis, meminta orang kepercayaan nya itu, mengirimkan 2 orang anggota terbaik untuk berjaga di rumah sakit.
.
.
***
Pukul 16.00, Zio sudah tiba di mension, yang di sambut hangat oleh semua keluarga nya.
"Abang, mana oleh-oleh buat Adek," rengak Zia menampung kan tangan nya.
Zio menyipitkan mata. "Memang nya Adek ada nitip sesuatu?" tanya Zio.
"Abang, harus nya tampa di bilang pun, Abang harus belikan lah." rajuk Zia.
Zio menghela nafas.
"Adek, biarkan Abang istrahat dulu," ucap Salsa menyela.
"Nggak pa-pa Bun, Abang nggak capek kok,
Adek mau apa? Biar Abang belikan sekarang," ucap Zio.
"Iiih.. Abang ini lah nggak paham paham, kalau Abang beli disini itu nama nya bukan oleh-oleh," sungut Zia.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti kalau Abang pergi keluar kota lagi Abang belikan," ucap Zio.