
"Ya sudah, kalau Abang nggak mau, biar Adek pulang sendiri," Carla menghentakkan kaki nya pergi.
"Tunggu Dek," Zio mengejar Carla lalu berjongkok di depan nya.
Carla tersenyum senang kemudian mengalungkan kedua tangan nya di leher Zio dari belakang.
"Sudah, jalan," ucap Carla seraya menepuk pundak Zio.
"Baiklah Tuan putri,"
Zio lalu bangkit dan mulai melangkah.
Selama dalam perjalanan Zio banyak bercerita dengan Carla. Bercerita hal-hal konyol yang mengundang gelak tawa mereka.
Entah kenapa dengan Carla dia begitu terbuka, bahkan dia terlihat seperti lelaki humoris. Tak ada sifat dingin dan kaku terlihat dalam dirinya. Sungguh, ia bukan seperti Zio yang di kenal orang orang. Namun satu hal yang tidak Zio ceritakan pada Carla status mereka, yang bukan saudara kandung. Karna sampai detik ini Carla tidak mengetahui jika mereka bukan lah saudara.
.
.
Ketika melihat sebuah toko ponsel, Zio mengarahkan langkah nya kesana.
"Bukan kesini jalan nya Bang, tapi kesana," Carla menunjuk arah jalan kerumah nya. Tapi Zio tetap melangkah mendekati toko ponsel.
"Adek, turun dululah," titah Zio setelah berada di depan toko ponsel. Pemuda itu sedikit merasa malu karna di lihat karyawan toko.
"Abang, kita ngapain kesini?" Carla menahan lengan Zio yang akan masuk kedalam toko.
"Adek nggak punya ponsel, kan?" tanya Zio setengah berbisik.
"Buat apa? Adek juga nggak butuh ponsel kok. Jika ada uang pun, mending Adek gunakan buat beli obat Om Zakir," jawab Carla.
"Nanti kita beli juga obat untuk Om Zakir,"
"Tapi Bang, Adek benar-benar nggak butuh ponsel. Lagian kalau Adek punya ponsel, pasti tante Niken nanti memberikannya pada Bagas," ujar Carla menolak.
"Ya sudah, belikan juga buat bagas sekalian," ucap Zio membuat mata Carla membola.
"Abang, kalau punya uang itu di tabung, jangan digunakan untuk membeli barang yang tidak penting," tutur Carla menesehati nya.
Zio tersenyum tipis. Lalu menarik pelan bibir Carla yang sejak tadi terus saja mengoceh menesehatinya.
"Iiih, sakit lah," ringis Carla memegang bibir nya.
Zio hanya tersenyum lalu melangkah masuk kedalam toko ponsel seraya menarik tangan Carla.
"Selamat malam Abang, Kakak. Silahkan mau cari ponsel apa?" sapa pelayan toko menawarkan.
"Adek mau yang mana?" tanya Zio.
Carla mengedarkan pandangan nya melihat bandrol harga yang tertulis di kotak ponsel. Ia mencari harga yang paling murah, tanpa mengetahui jenis ponsel nya.
"Yang itu saja," Carla menunjuk sebuah ponsel android dengan harga delapan ratus ribu.
__ADS_1
Karyawan toko lalu mengambil ponsel yang masih berada dalam kotak yang di tunjuk Carla.
"Ini kak," ucap karyawan toko meletakkan ponsel itu diatas kaca etelase di depan Carla.
Zio mengambil dan melihat gambar yang ada di kotak ponsel itu.
"Jangan yang ini Dek," ucap Zio.
"Kenapa?" tanya Carla.
"Nggak bagus," jawab Zio.
"Ambilkan yang itu," pinta Zio menunjuk ponsel berlogo buah apel.
"Itu harganya lima belas juta Bang," ucap karyawan toko sinis.
"Aku tidak menanyakan harganya. Bawa saja kemari," ucap Zio dingin.
"Abang. Itu lima belas juta, bukan lima belas ribu," bisik Carla memperingatkan.
Zio hanya tersenyum tipis.
"Ini Bang, tapi segel nya tidak bisa di buka sebelum di bayar." ucap Karyawan toko seraya meletakkan ponsel itu diatas kaca etelase.
"Ambil kan satu lagi," ucap Zio lalu menyerah kan kartu hitam nya.
Carla segera menarik tangan Zio menjauh dari karyawan toko itu.
"Abang, itu harga nya lima belas juta," Carla menekan setiap kata yang di ucap kan nya.
"Iiih, Abang ini. Buat apa beli ponsel semahal itu?" ketus Carla.
"Bang, Apa ponsel nya mau diaktifkan sekarang?" karyawan toko bertanya begitu ramah.
"Ya," jawab Zio singkat.
***
Setelah dari toko ponsel mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka kerumah Zakir. Zio ingin sekali melihat keadaan lelaki yang dulu menjadi penyelamat nya. Sekalian ia juga ingin menanyakan tentang masa lalu nya. Ia ingin menyelidiki siapa orang yang telah menculik nya dulu dan apa tujuan nya.
"Dek, mana rumah nya? Masih jauh ya?" tanya Zio tidak sabar dan juga lelah karna Carla masih bergayut di punggungnya.
"Nggak jauh lagi kok, itu di depan." Jawab Carla.
Tiba-tiba sebuah motor bebek berhenti di depan mereka, membuat langkah Zio terhenti.
"Carla." Heru turun dari motor lalu berjalan mendekati mereka.
"Eh, Heru," balas Carla yang masih bergayut di punggung Zio.
"Kamu dari mana saja Ra? Dan dia siapa?" tanya Heru memandang Zio dengan pandangan tidak suka.
"Kenalin Her, ini Abang aku, yang sering aku ceritain," jawab Carla lalu turun dari punggung Zio.
__ADS_1
"Ooo, aku kira siapa tadi? Kenalin aku Heru Bang," ucap Heru seraya mengulurkan tangan nya mengajak bersalaman.
"Ayo dek," Zio menarik tangan Carla tanpa menyambut uluran tangan Heru.
"Her, aku pulang duluan ya," teriak Carla terpaksa mengikuti langkah Zio.
"Iya Ra," sahut Heru merasa heran dengan sikap Zio.
"Abang, jalan nya pelan-pelan saja," ucap Carla yang tak di hiraukan Zio. Pemuda itu terus saja melangkah cepat menarik tangan Carla.
.
.
Tiba di rumah Zakir. Carla mengetuk pintu yang sudah terkunci rapat itu. Berdiri di depan pintu dengan perasaan cemas. Tentu ia sangat tau sekali hukuman apa yang akan ia Terima nanti dari Niken karna terlambat pulang. Sedangkan Zio berdiri membelakangi pintu.
Ceklek.
Pintu di buka. Terlihat wajah merah Niken yang penuh emosi ketika melihat Carla yang berdiri di depan pintu.
"Hebat kau sekarang ya! Sudah berani keluyuran pulang malam. Apa kau lupa dengan pekerjaan kau di rumah ini?!" bentak Niken dengan mata melotot seperti hendak menelan Carla.
Namun, ketika Zio berbalik badan. Wajah Niken seketika berubah pucat.
"A-ampun Zi, aku minta maaf," Niken histeris seraya melangkah mundur.
Kedua alis Zio bertaut melihat ekspresi Niken, yang seperti orang ketakutan.
Kenapa dengan wanita ini? Apa dia mengenal Daddy? Tapi kenapa dia seperti ketakutan? Apa dia punya masalah dengan Daddy?
batin Zio merasa curiga.
"Tante, tante kenapa?" tanya Carla mendekatinya. Tapi, Niken malah berbalik badan dan masuk kedalam kamarnya.
"Siapa dia Dek?" tanya Zio.
"Dia tante Niken," jawab Carla.
"Aneh? Kenapa dia ketakutan melihat Abang?" tanya Zio merasa heran.
"Nggak tau,"jawab Carla seraya mengangkat kedua bahunya.
"Masuk Bang," imbuh nya mempersilahkan Zio masuk.
Zio pun melangkah masuk, mengedarkan pandangan nya di dalam rumah sederhana itu.
"Di mana Om Zakir?" tanya Zio.
"Ada, Mari," Clara berjalan mengajak Zio kebelakang, Dan tepat di depan sebuah pintu Clara membuka dan masuk ke dalam.
Klik
Clara menyala kan lampu di ruangan itu dan terlihat lah seorang pria paruh baya yang berbaring di ranjang dengan tubuh kurus tak terawat.
__ADS_1
Zio yang masih berdiri di depan pintu, dapat mencium bau ruangan itu yang begitu menyengat.