Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (63)


__ADS_3

Meski tubuh molek Sarah telah terpampang nyata di hadapannya saat ini. Namun, Zio masih takut untuk menjamah tubuh indah yang membuat adik kecilnya semakin berdenyut.


Rasa gengsi akan perkataan yang pernah dilontarkannya dulu, membuatnya harus meneguk air liur sendiri.


Acara mandi bersama terlewat begitu saja, tidak sesuai dengan rencana yang ada di dalam kepalanya tadi. Zio saat ini benar-benar frustasi, menahan hasrat yang entah sampai kapan menyiksa tubuhnya.


.


.


.


.


Selesai makan malam, Sarah dan Zio kini tengah duduk santai menonton acara TV, sejak tadi, putra Zidan Alvero itu kebanyakan diam dari pada bicara, sekali dia bicara pasti akan terdengar sumbang sebab moodnya saat ini benar-benar sedang tidak baik.


Sarah yang sudah terbiasa menghadapinya, memaklumi sifat bawaan suami yang dari dulu seperti itu padanya.


Merasakan ada getar di paha, Zio pun bergegas merogoh saku celananya, mengeluarkan benda pipih yang saat ini tengah menyala, di sana tertera nama Muklis.


Zio segera bangkit dari duduk, berjalan menjauhi Sarah.


Sarah yang mengira suaminya menerima telepon Carla memilih meninggalkan ruangan itu masuk ke dalam kamar.


"Ya, ada apa Muklis?" tanya Zio.


"Rain, saya sudah mendapatkan identitas pemilik nomor kendaraan yang kamu minta," jawab Muklis di ujung sana.


"Ya, katakan,"


"Namanya Andri Prasetya, mahasiswa kedokteran tingkat akhir, dia sekarang tinggal bersama Kakaknya bernama Citra, kalau tidak salah dia juga tinggal di kompleks yang sama dengan kompleksmu tinggal, Rain,"


'Andri? Apa dia laki-laki brengsek yang pernah mengantarkan Sarah pulang? Berani sekali dia bermain-main denganku. Kebetulan sekali kau mahasiswa kedokteran. Aku mau lihat apa kau bisa mengobati diri kau sendiri,'


Zio menyeringai  dalam hati.


"Rain, apa perlu kami habisi dia?"


"Tidak perlu Muklis, ini masalah pribadiku, aku bisa mengatasinya sendiri,"


"Oh baik lah Rain, satu lagi Rain, Carla tadi menghubungi saya, katanya dia minta maaf, dan meminta kamu menjawab teleponnya,"


"Hm, kau awasi saja dia, laporkan padaku,"


"Baik,Rain,"

__ADS_1


Setelah sambungan berakhir Zio kembali lagi ke ruangan tempat ia dan Sarah tadi menonton TV, namun Sarah sudah tak ada lagi di sana.


Bergegas Zio pergi kekamar mencari keberadaan istrinya. Didalam kamar ia melihat Sarah tengah duduk di atas ranjang tengah tertawa sendiri menatap layar ponsel.


Lantas Zio lansung merebut paksa ponsel itu dari tangan istrinya.


"Abang, apa-apaan sih? Siniin ponsel Sarah," Sarah mendengus kesal.


Zio memeriksa dengan siapa saja istrinya itu berkirim pesan, yang ternyata hanya ada 2 kontak saja nomor dia dan nomor Zia.


"Nih, saya hanya pinjam saja," Zio memberikan kembali ponsel milik istrinya.


"Pinjam saja, pinjam saja. Sini ponsel Abang, Sarah juga mau pinjam,"


"Em, sudahlah, ayo kita kembali ke bawah," ajak Zio mengalihkan permintaan Sarah.


"Gak mau, Sarah mau tidur saja, ngantuk," Sarah kemudian membaringkan tubuhnya, serta menarik selimut sebatas dada.


Zio berdehem-dehem, menanti Sarah mengucapkan kata-kata menawarkan diri untuk melayaninya seperti biasa sebelum istrinya itu tidur.


Puas dia berdehem, namun Sarah tak kunjung bersuara. "Sarah," panggilnya dengan suara berat.


"Apa?" jawab Sarah tanpa berbalik badan.


"I-itu, apa kamu tidak melupakan sesuatu?"


"I-itu, yang biasa kamu ucapkan sebelum tidur,"


.


"Doa mau tidur?" tanya Sarah.


"Bu-bukan?"


"Terus apa?" Alis Sarah terangkat sebelah.


Zio menghembuskan nafas besar. "Ya sudahlah kamu tidur sana," pasrahnya.


Mata Sarah memicing melihat wajah suaminya yang memelas.


"Abang, Sarah minta maaf jika hari ini banyak berbuat salah pada Abang," Sarah memandang suaminya yang masih duduk dipinggir ranjang.


"Hm, ya," sahut Zio lirih.


Beberapa jenak hening, Sarah masih memandang wajah suaminya yang masih saja duduk di pinggir ranjang.

__ADS_1


"Abang,"


Diam, Zio tak menyahut.


"Malam ini, Abang mau itu gak?"


Seketika wajah Zio berbinar, Kata-kata yang sejak tadi di nantikannya akhirnya keluar juga dari mulut manis sang istri.


Beberapa kali Zio berdehem melegakan tenggorokannya. "Baiklah, kalau kamu memaksa," ucapnya kemudian.


"Eh, mana ada Sarah memaksa!" Sarah lantas duduk bersila diatas ranjang, meletakkan satu bantal diatas pahanya. "Kalau Abang sudah siap, itu artinya Abang sudah mau menerima Sarah sebagai istri Abang, itu berarti Abang juga sudah mencintai Sarah sepenuhnya, tidak ada wanita lain di hati Abang selain Sarah. Karna Sarah hanya akan melakukan ini dengan pasangan yang sudah halal untuk Sarah cintai dan orang itu juga mencintai Sarah,"


Zio tertegun diam.


"Sekarang Sarah tanya, apa Abang sudah mencintai Sarah?"


Zio mengangguk pelan, memutar bola mata melirik istrinya.


"Abang, katakan kalau Abang mencintai Sarah, jangan hanya mengangguk saja," rengeknya sembari mendekat ke arah Zio.


Sarah memutar bahu Zio menghadap padanya, serta mengangkat wajah suaminya yang sejak tadi hanya menunduk.


"Sekarang Abang katakan Abang mencintai Sarah," Sarah menyelami bola mata suaminya, dari sana ia sudah bisa lihat jika Zio juga mencintainya.


Diam, Zio saat ini tak mampu menggerakan bibirnya kala pandangan mereka bertemu.


Sarah mencondongkan wajah, mencecahkan bibirnya ke bibir suaminya dengan lembut.


Mata Zio membola sempurna merasakan kali pertama bibirnya bersentuhan dengan bibir lawan jenis, tubuhnya bagai tersengat aliran listrik, ada rasa deg-deg-an yang tak bisa ia tepis begitu saja.


Dengan menepiskan rasa malu dan canggung perlahan Sarah ******* sedikit bibir suaminya, tangannya pun kini melingkar di tengkuk leher Zio. Tak bisa ia pungkiri dirinya pun begitu mendamba adegan seintim ini dengan suami yang begitu ia cintai.


Sarah tau, ini adalah bentuk cinta yang akan menyempurnakan pernikahannya, tak akan ada rasa sesal di kemudian hari melepas sesuatu yang ia jaga selama ini untuk laki-laki yang sudah halal untuknya.


Kini Zio telah bisa mengimbangi ciuman Sarah, lidahnya terkadang manyapu deretan gigi Sarah, seperti tengah menghitung berapa banyak gigi yang berbaris di sana.


Detik berikutnya Zio perlahan mendorong tubuh Sarah agar terlentang tanpa melepaskan tautan bebirnya. Instingnya sebagai laki-laki untuk memuaskan menyala, kini kedua tangannya juga ikut bekerja sama, membuka satu persatu kancing piama yang di kenakan Sarah. Bibirnya tetap saja beradu dengan bibir Sarah, di dalam sana lidah mereka juga saling membelit bertukar saliva dengan rakus.


Zio menyingkapkan baju piama istrinya, tanngannya lansung mecakup buah pepaya yang masih di lindungi kain berbusa, bibirnyanya pun kini merambat turun kebawah.


.


.


.

__ADS_1


Menit berikutnya pasutri itu benar-benar telah terlepas dari segala benang yang melekat di tubuh mereka. Sarah menutup mata kala matanya melihat ada benda besar yang tengah mengangguk-angguk menunjuknya.


Zio kembali mencondongkan tubuhnya, menindih tubuh polos Sarah, menyingkirkan kedua tangan Sarah dan kembali mencium bibirnya, di bawah sana adik kecilnya juga tengah mematuk matuk inti tubuh Sarah membuat pinggul Sarah bergerak dengan sendirinya.


__ADS_2