
Zio bangkit dari sofa, berjalan menuju ranjang yang di taburi kelopak bunga mawar di atasnya.
"Abang...." Sarah pun segera bangkit.
Zio menghentikan langkah. Menoleh pada Sarah yang ingin menyusul.
"Berhenti, Sarah!" Zio mengarahkan satu telapak tangannya pada Sarah.
Langkah Sarah yang ingin menyusul suami nya pun terhenti.
"Kamu tidur di sofa atau di ranjang?" tanya Zio memberi pilihan.
"Abang, Sarah ini kan sekarang sudah jadi istri Abang. Ya, mulai sekarang Sarah tidur nya dengan Abang lah." jawab Sarah sedikit malu-malu.
"Ti-tidur dengan sa-saya?" tanya Zio meyakin kan. Dari dulu dirinya memang selalu menggunakan kata-kata formal bila bicara dengan Sarah.
"Abang nggak usah takut gitu lah, Sarah pun bukan hantu yang akan menakut-nakuti Abang, atau pun harimau yang akan mencabik-cabik daging Abang. Sarah ini istri Abang," balas Sarah seraya melangkah kan kaki nya mendekati Zio.
"Stop..... Berhenti sarah!" sentak Zio.
Entah lah, lelaki berwajah dingin itu semakin merasa ketakutan saja saat ini.
"Abang kenapa, sih?" tanya Sarah heran.
"Ka-kamu mau tidur di ranjang atau di sofa?" ulang Zio bertanya.
Melihat ekspresi Zio yang semakin gelagapan, membuat Sarah tersenyum sendiri. Ide jahil pun muncul di kepalanya. Kebetulan pakain tidur yang di gunakan nya mendukung untuk melakukan itu. Pakaian tidur jenis kimono dengan bahan satin tipis sedikit menerawang.
Sarah sedikit menyibak kan bagian dada pakaian nya, sebelum mulai berjalan mendekati Zio dengan ekspresi menggoda.
Beberapa saat Zio terpana, mata nya tak berkedip melihat bentuh tubuh Sarah di balikĀ pakaian tidur yang di pakai nya. Tanpa Zio sadari sesuatu di bawah sana ikut bereaksi, membesar dengan sendiri nya.
Sarah yang sudah berada di hadapan Zio, berjalan mengitari tubuh suami nya. Satu tangan ia gunakan mengusap dada bidang Zio. Terkadang jemari nya menyusup masuk dari celah kancing kemeja Zio, membelai rambut-rambut halus yang tumbuh di dada bidang itu.
Zio sudah berkeringat dingin, sesekali menengadah kan wajah, menahan hasrat lelaki nya yang mulai terbakar. Tubuh nya gemetaran menikmati sentuhan tangan Sarah yang semakin nakal bergerilya di badan nya.
__ADS_1
Sarah tersenyum kecil, sambil terus mengitari tubuh yang berdiri membatu di hadapannya, membelai tubuh itu sesukanya.
Kini Sarah mendekatkan wajah nya ke ceruk leher Zio, mencium, mengisap dan menggigit pelan leher kekar suaminya.
Malam ini, dirinya akan pasrah jika harus memberikan mahkota paling berharga nya pada lelaki yang sejak dulu bertahta di hatinya. "Abang, mau itu nggak?" bisik nya di telinga Zio.
Tenggorokan Zio tercekat, susah payah dia menelan saliva nya sendiri. "I-itu, i-itu apa?" tanya nya dengan suara serak khas, tubuh nya gemetar di sertai keringat dingin keluar di kulit nya.
Sarah menggigit daun telinga Zio. "Yang itu lah, masa Abang nggak tau," Sarah mendesah, tangan nya pun semakin liar menjalar kebawah.
I-itu, a-apa? Ja-jangan bercanda Sarah," Zio bicara dengan nafas tersengal. Sungguh, ini kali pertamanya tubuh nya panas dingin seperti ini.
"Abang, kita-"
"Stop, Sarah! Jangan lanjutkan lagi," Zio menepiskan tangan Sarah yang sudah sampai di pusar nya.
Laki-laki berdarah dingin itu mendorong tubuh Sarah menjauh, lalu berhambur menghempaskan tubuh nya di ranjang, menarik selimut, menutupi seluruh tubuh nya.
Sarah tersenyum menyeringai, menyusul suami nya di pembaringan. "Abang, yakin nih nggak mau?" Sarah masih menggodanya, memeluk tubuh Zio yang di bungkus selimut.
Dada Zio naik turun, menahan hasrat kelelakian nya yang bergejolak hebat.
"Sarah! Kamu tau? Saya tidak akan pernah suka dengan mu! Jadi, berhentilah menggoda saya, karna saya tidak akan pernah tergoda!"
Sakit. Itu lah yang Sarah rasakan saat ini. Dada nya bergemuruh hebat, mendengar pengakuan suami nya yang begitu menyakit kan.
Kenapa? Apa dirinya tidak menarik? Atau suaminya sudah mencintai wanita lain. Sarah berusaha menarik sudut bibir nya agar tersenyum, meski hati nya kini begitu perih.
Zio yang tadinya menyesal mengucapkan kata-kata menyakitkan hati Sarah, kini merasa heran melihat senyum di bibir gadis yang sudah menyandang status sebagai istri sah nya.
"Abang, kalau Abang nggak suka sarah. Kanapa Abang mau menikah dengan Sarah?"
Zio bangkit dari ranjang, agar mulut nya yang tajam tidak kelepasan lagi mengucapkan kata-kata seperti tadi.
"Abang, jawab dulu," Sarah menahan tangan Zio.
__ADS_1
Namun, Zio menyentakkan tangan nya hingga terlepas dari pegangan tangan Sarah. Dirinya tidak ingin menjawab pertanyaan tak penting Sarah, ia memilih membaringkan tubuh di sofa.
Sarah juga merebahkan tubuh nya di ranjang, meletak kan kepalanya di atas bantal. Sungguh, hatinya saat ini begitu sakit, hingga air mata yang sejak tadi ia tahan, kini menganak sudah.
* * *
Pagi harinya, Sarah sengaja menunggu Zio selesai mandi, agar sama-sama keluar dari kamar. Diri nya ingin, hubungan nya dengan Zio terlihat baik-baik saja di depan kedua orang tuanya, meski pun kenyataannya bar lainan.
Pernikahan ini ia sendiri yang menginginkan, tidak mungkin dia juga yang akan mengakhiri. Pun, di hatinya hanya Zio yang bertahta. Maka dari itu, ia akan terus bertahan meski menyakitkan. Sarah juga yakin dengan perkataan Mama nya, cinta akan datang dengan sendiri nya, seiring kebersamaan mereka.
"Pagi Ma, Pagi Pa," sapa Sarah mencium pipi kedua orang tuanya, berusaha memancarkan senyum sebahagia mungkin.
Begitu pun yang di lakukan Zio, hanya saja Zio masih merasa canggung saat berhadapan dengan Raka.
"Kelihatan nya anak Mama happy banget nih," goda Santi.
Sarah tersenyum malu-malu, melirik Zio yang menunduk.
"Padahal, tadi malam ada yang resah gelisah sendiri menunggu suaminya," kata Santi lagi yang semakin semangat menggoda putri sulung nya. "Eh, tapi ngomong-ngomong, tadi malam Zio kemana? Si Sarah mau nangis semalam karna nyariin kamu," imbuh Santi menatap Zio.
Zio gelagapan, mengangkat kepala nya yang sejak tadi menunduk. "Hmm... Itu.. Ma... Zio-"
"Santi, jangan terus-terusan menggoda putri dan menantu mu. Kamu itu seperti tidak pernah saja menjadi pengantin baru. Dulu saja waktu kamu pengantin baru, jam segini belum juga keluar kamar-" Wati yang berjalan dari dapur menyela ucapan mereka, tapi ketika melihat ada menantu nya juga ada di sana, Wati merasa malu sendiri.
"Sudah, ayo kita sarapan dulu," Edi pun ikut bersuara.
* * *
Selesai sarapan, Raka lansung pergi ke kantor, sekalian mengantarkan Saka ke sekolah. Sarah memilih libur karna baru selesai ujian.
"Ma, Sarah dan Bang Zio ke rumah Bunda dulu ya," kata Sarah, tak lama setelah Raka berangkat.
"Ooo, ya sudah, sana pamit dulu sama Kakek dan Nenek." ujar Santi.
Setelah berpamitan dengan Edi dan Wati. Zio dan Sarah lansung berangkat menuju mension Daddy nya.
__ADS_1