Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Pertemuan Dua keluarga


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


"Abang, boleh Bunda masuk Nak?"


Ceklek


Pintu terbuka. Zio berdiri dengan wajah menunduk, memasang wajah sendu. Berharap sang Bunda merasa iba padanya.


Dirinya memang menuruni sifat Zidan, sangat pandai berlakon, untuk meluluhkan hati wanita yang begitu di sayanginya.


"Abang, Bunda minta maaf ya, nggak seharus nya Bunda berkata seperti itu pada Abang tadi. Bunda percaya, anak Bunda nggak akan pernah melakukan hal keji itu,"


Zio mengangguk pelan. mengangkat sedikit wajah nya yang mengiba. Tentu itu hanya akting nya saja, untuk mendapatkan belas kasih sang Bunda.


Ibu mana yang tak kasihan melihat wajah anak yang mengemis iba?


"Ya, sudah sekarang Abang istrahat lah. Jangan lupa nanti malam kita akan membicarakan pernikahan Abang dengan Sarah."


"Iya, Bun," jawab Zio.


Setelah kepergian Salsa, Zio menelpon Muklis, menyuruh orang yang di percaya nya itu memeriksa CCTV rumah warga yang berada di sekitar tempat Carla tinggal. Berharap dari sana ia akan mendapatkan petunjuk.


.


.


.


Malam hari nya. Hunian mewah itu kini terlihat lebih ramai dari biasanya, Raka dan keluarga nya sudah datang memenuhi undangan Salsa.


"Om, tante, Santi ayo masuk,"


Lansung saja Salsa membawa mereka ke ruang makan, menyuguhi tamu nya dengan hidangan lezat yang telah ia sediakan sejak tadi siang.


"Adek, panggil kan Abang ke kamar," pinta Salsa pada putri semata wayang nya.


"Siap, Bun," dengan penuh semangat Zia pergi ke kamar saudara kembar nya.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Zia lansung saja membuka pintu kamar Zio. Di dalam kamar itu Zia mendapati saudara kembarnya sedang sibuk berkutat dengan komputer nya.


"Astagah, Abang. Kenapa masih belum siap siap juga sih?" omel Zia, membuat putra Salsabila itu tersentak.


"Adek, sudah berapa kali Abang bilang, sebelum masuk itu ketuk pintu dulu," gerutu Zio.


"He he he. Maaf," Zia menyengir, memperlihat kan deretan gigi putihnya.


Zio berdecak kesal, lalu mematikan perangkat komputer nya.


"Calon istri Abang sudah datang tuh," sungut Zia memberi tahu.


Tak ada respon dari Zio, saudara kembarnya itu, malah melongos masuk kedalam kamar mandi.


"Abang." pekik Zia berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Apa," sahut Zio dari dalam kamar mandi.


"Emang nya Abang serius mau menikah dengan Sarah?" tanya Zia setengah teriak.


"Kenapa emang nya?" Zio juga bertanya.

__ADS_1


"Kan aku mau kenalin Abang sama teman ku, cantik lho Bang,"


Kemudian Zio keluar dari kamar mandi.


"Sudah, ayo turun," ajak Zio, melenggang pergi.


"Abang, jawab dulu," rengek Zia.


"Jawab apa?" Zio berbalik badan menatap putri Salsabila.


"Abang serius mau nikah dengan sarah?"


"Hmmm," jawab Zio.


"Iiiih... Jawab iya apa nggak, bukan hhm,"


"Iya," jawab Zio singkat.


"Huh. Masa Adek harus memanggil Sarah Kakak sih, harus nya Abang tu menolak," dengus Zia.


"Sudah, ayo turun," tanpa ingin berdebat lagi, Zio berlalu pergi. Zia yang mengikuti langkah nya di belakang lansung bergayut di punggung Zio.


.


.


.


Sedang kan Zidan dan Raka masih berada di luar.


"Raka, apa kau tau siapa pemimpin Black Panther?" tanya Zidan.


"Tidak Bos-"


"Ayo lah Raka, kita ini nanti nya akan menjadi besan, tidak usah kau merasa canggung dengan ku,"


Zidan merangkul lelaki yang menjadi orang kepercayaan nya itu.


"I-iya, Zi," sahut Raka masih merasa tidak enak hati.


"Kau tau Raka, pemimpin Black Panther adalah putraku,"


Raka tersentak, tidak percaya dengan apa yang dikatakan suami Salsabila itu.


"Awal nya aku pun tidak menyangka Raka, jika putra ku lah pemimpin gangster itu." Zidan menghembuskan nafas kasar.


"Mas. Bang Raka. Ayo masuk, ngapain sih berada di luar," panggil Salsa yang sudah berdiri di depan pintu utama.


Zidan berbalik badan melihat Ibu dari putra-putrinya itu.


"Iya sayang, sebentar," sahut Zidan.


"Sekarang Mas, semua orang sudah menunggu,"


"Baiklah."


"Ayo masuk Raka, nanti kita sambung lagi,"


.


.


.

__ADS_1


Kini dua keluarga itu sudah berkumpul di sebuah ruangan. Dimana diatas meja itu sudah terhidang banyak menu makanan. Zio sesekali melayangkan tatapan pada Raka. Dirinya masih mempunyai dugaan kuat, jika calon mertuanya itu terlibat atas hilang nya Carla.


"Abang, jadi bagaimana? Kapan Abang akan melamar Sarah?" tanya Salsa, tanpa basa basi di depan semua orang.


Zio diam, ia belum menyiap kan jawaban atas pertanyaan dadakan yang Bunda nya berikan. Hingga Zia yang duduk di sebelah, menyikut tangan nya. "Ditanyain Bunda tuh."


Zio mendengus, menoleh pada saudara kembarnya itu. "Apa sih, anak kecil ikut-ikutan aja,"


"Abang?" Salsa memanggilnya, meminta jawaban dari pertanyaan yang telah ia ajukan.


"Terserah Bunda saja, Abang menurut," jawab Zio pasrah.


Salsa mengedar pandangan pada Zidan serta semua yang ada di ruangan itu, seolah meminta pendapat mereka.


"Abang yakin terserah Bunda?" tanya Salsa meyakinkan.


Zio mengangguk pelan.


"Kalau Bunda mau Abang menikah minggu depan. Memangnya  Abang mau?" tanya Salsa memojok kan nya.


Beberapa saat Zio diam, kedua tangan nya masih memegang sendok. Setelah itu ia mengangguk pelan.


"Abang yakin?!" tanya Salsa tidak percaya.


Lagi, Zio mengangguk.


"Tapi, Abang mau nya menikah saja Bun, tanpa ada pesta apa pun. Dan setelah menikah Abang mau tinggal berdua saja dengan Sarah," ucap Zio.


Salsa melihat semua orang yang duduk mengitari meja makan di ruangan itu.


"Sarah, kalau kamu bagaimana?" tanya Salsa meminta pendapat.


"Terserah Abang Zio saja Bun," jawab Sarah malu malu.


"Gimana San?" tanya Salsa meminta pendapat sahabat nya.


"Aku menurut saja Sa, yang penting Zio bisa menjaga Sarah dan menyayanginya. Lagian saat ini Sarah juga masih sekolah, tidak mungkin juga membuat pesta pernikahan," jawab Santi.


"Adek nggak setuju,"  Zia menyela, membuat semua orang yang ada di ruangan itu, menatap padanya.


"Kenapa Adek nggak setuju?" tanya Salsa.


"Ya, kalau Abang nggak ada di rumah, Adek sama siapa dong, nggak ada tempat buat bercerita lagi,"


"Benar sih, Bunda juga keberatan kalau Abang harus tinggal berdua saja dengan Sarah. Di rumah ini kan banyak kamar, kenapa harus tinggal di tempat lain sih,"  Salsa ikut membenarkan ucapan putrinya.


"Tapi, Bun. Abang kan juga ingin mandiri," ucap Zio mempertahankan keinginan nya.


"Pokok nya Adek nggak mau, Abang tinggal di rumah lain,."


"Sama, Bunda juga nggak mau,"


Seperti mendapat dukungan satu sama lain,  kedua wanita beda usia itu kekeh mempertahan kan keinginan mereka.


Zio menghembuskan nafas kasar, seperti nya dirinya memang harus mengalah pada kedua wanita yang di sayanginya ini.


.


.


.


Pembicaraan malam itu sudah di putus kan. Jika Zio akan menikahi Sarah minggu depan.

__ADS_1


__ADS_2