
"A-Adek, se-sebenarnya, ssshhh--"
"Abang mau ngomong, kalau sebenarnya kita bukan saudara kandung kan?" potong Carla, sambil tangannya bergerak naik ke pangkal paha Zio.
"Adek sudah tau?" Mata Zio memicing.
Carla mengangguk, lalu tangannya berpindah memainkan dasi Zio. "Ibu yang beri tahu," Tangan Carla kini melonggarkan dasi yang di gunakan Zio. "Abang, Adek ingin kita terus bersama, Adek sayang sama Abang," Kini wajahnya semakin mendekat ke wajah Zio, membuat tubuh Zio semakin menggigil.
Namun, otaknya masih berpikir waras. Zio segera berdiri menepiskan tangan Carla yang menarik dasinya. "Abang harus pulang sekarang," ucapnya dengan suara berat.
"Abang, kita bukan saudara kandung, Adek benar-benar sayang sama Abang, gak ada salahnya jika nanti kita menikah," ucap Carla yang masih menahan tangan Zio.
"Adek!" sentak Zio.
"Kenapa? Abang mau bilang kalau sudah punya istri. Adek gak apa-apa kok, jadi istri kedua Abang dan Adek janji akan merahasiakan hubungan kita dari semua orang,"
Sungguh, Zio merasa Carla sudah melampaui batas, adiknya telah salah besar mengartikan bentuk perhatian dan kasih sayangnya selama ini, perhatian sebagai seorang abang yang ingin menjaga adiknya.
Lantas, Zio pun segera menepiskan tangan Carla, lalu pergi melangkah keluar.
"Abang," Carla pun bangkit dari duduknya, berlari mengejar Zio.
Zio segera membuka pintu mobil, namun ketika hendak masuk Carla menahan tangannya.
"Abang, Adek minta maaf. Tapi Adek benar-benar gak bisa kehilangan Abang, Adek benar-benar sayang Abang," lirih Carla di sertai air matanya yang keluar.
"Stop, Carla, Stop! Dengar Abang baik-baik. Kalau kamu masih saja bersikap seperti ini, Abang gak akan pernah lagi mau menemuimu, ingat itu!"
Untuk pertama kalinya, Zio berkata tegas pada adik angkatnya, lalu masuk ke dalam mobil setelah menepiskan tangannya yang di tahan Carla, Zio tak lagi memperdulikan lagi Carla yang kini benar-benar meraung memanggil-manggil namanya, ia terus saja melajukan mobilnya
"Argh!" Zio memukul keras stir mobil, meski pikirannya saat ini berkecamuk, namun gairah di tubuhnya tidaklah hilang. Dia benar-benar butuh penyaluran dan yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah Sarah, seketika bayangan bentuk tubuh Sarah yang pernah di lihatnya, kini menari-nari di benaknya. Rasanya ia sudah tak sabar lagi tiba dirumah dan menuntaskan gairah yang bergejolak di tubuhnya.
Tiba-tiba kakinya dengan sigap menginjak rem ketika beberapa motor menghadang jalannya.
Sreeet!
Mobil Zio berhenti mendadak.
'Sial! Siapa mereka!"
Prak! Prak! Prak!
"Turun kau!" teriak beberapa orang yang masih menggunakan helm ful face di luar sambi memukul kaca mobil.
Tanpa merasa takut sedikitpun, Zio membuka pintu mobilnya.
Bugh! Bagh! Bugh! Bagh!
__ADS_1
Baru saja keluar dari mobil, perut dan wajahnya lansung di hajar orang-orang yang tidak ia kenali itu.
"Cukup! Ayo kita pergi sekarang," ucap salah seorang dari mereka.
"Awas saja kalian, bangsat! Akan kubalas lebih dari ini!" teriak Zio pada mereka yang telah menaiki motor dan berlalu pergi.
Zio pun segera masuk ke mobilnya, mengambil ponsel dan lansung menelpon Muklis.
"Ya, Halo, Rain," jawab Muklis di ujung sana.
"Muklis,segera kau cari tau nomor plat kendaraan yang akan kukirim kan melalui pesan nanti,"
"Baik, Rain,"
Sambungan telepon berakhir, Zio lansung menulis nomor plat kendaraan yang di hapal nya tadi dan mengirimkan melalui pesan pada Muklis.
'Kalian ingin bermain-main denganku rupanya!' seringainya sambil menghapus darah di sudut bibir.
Tiga puluh menit berselang, Zio sudah tiba di rumah. Segera ia membuka pagar dan memasukkan mobil kedalam garasi. Berkali-kali ia menekan bel namun pintu tak juga terbuka, akhirnya Zio membuka sendiri pintu rumahnya dengan kunci serap yang ia bawa.
"Sarah! Sarah!" teriaknya memanggil.
Zio melihat jam di pergelangan tangannya sambil menghempaskan bokong di sofa.
'Kenapa lama sekali dia pulang, sudah di bilang lansung pulang malah kelayapan,' dengusnya sambil menyandarkan punggung di sofa. Pikirannya terus saja membayangkan bentuk tubuh Sarah dengan mata yang terpejam.
"Assalamu'alaikum!" ucap Sarah yang baru saja membuka pintu. "Tumben Abang cepat pulang. Eh, wajah Abang kenapa tuh?" tanyanya kemudian, setelah melihat wajah Zio yang sedikit memar.
"Sini, coba Sarah liat,"
Sarah memegang wajah Zio, memperhatikan memar di wajah suaminya itu. Setelahnya ia berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Zio menghentikan langkah Sarah
"Mau ambil obat sebentar, itu luka di wajah Abang kalau gak diobati bisa-bisa infeksi nanti," jawab Sarah lalu segera pergi dari hadapan Zio.
Zio menghembuskan nafas kasar, luka lebam di wajahnya tidak lah separah yang di khawatirkan istrinya. Tapi, yang ia pikirkan saat ini, bagaimana cara menuntaskan adik kecilnya di bawah sana yang semakin menegang, apalagi saat mencium aroma tubuh Sarah yang semakin memancing gairahnya.
"Abang, mengahadap sini,"
Zio tersentak menyadari Sarah yang telah kembali duduk di sebelahnya.
"Kamu dari mana saja? Jam segini baru pulang!" dengusnya sambil menghadap pada Sarah.
"Sarah tadi belanja kepasar, tu, Abang lihat sendiri belanjaan Sarah,"
Sarah menunjuk kantong kresek hitam yang di bawanya.
__ADS_1
Kemudian, ia mengambil kapas dari dalam kotak P3K dan menuangkan antiseptik diatasnya, lalu mengusapkan pelan ke wajah Zio.
Dalam posisi yang berdekatan seperti itu, mata Zio tak berkedip memandang wajah Sarah yang fokus mengobati lukanya.
"Cantik,"
Mata Sarah menyipit kala mendengar kata yang diucapkan suaminya barusan. Tangannya yang sedang membersihkan luka di wajah Zio pun terhenti. "Abang bilang apa tadi?"
Zio yang tidak menyadari mengatakan apapun berkilah. "Eh, bilang apa? Saya tidak ada bicara apa-apa?"
"Aw, Sarah! Pelan-pelan lah!" teriaknya kemudian saat Sarah mengusap lukanya sedikit kasar.
"Rasain!" Sarah mencebikkan bibir.
"Sudahlah! Kalau kamu tidak berniat mengobati," Zio menjauhkan wajahnya seketika.
"Iya, iya, maaf. Dekatka lagi wajah Abang, itu belum selesai,"
Zio mendekatkan lagi wajahnya.
"Abang sebenarnya kenapa sih? Kok bisa babak belur begini mukanya?"
"Hm, itu, tadi ada orang gila tiba-tiba memukul Abang,"
Kening Sarah seketika berkerut. "Masa sih, ada orang gila yang tiba-tiba memukul? Atau jangan-jangan orang gila itu dendam sama Abang,"
"Ck! Sudah, diam lah tidak usah berisik!" Zio mendengus kesal mendengar perkataan istrinya.
"Aw! Kamu itu bisa pelan-pelan gak sih!" Zio menjauhkan lagi wajahnya dari Sarah seketika.
Sarah malah cengengesan karna tadi ia memang sengaja mengusap luka Zio sedikit keras.
"Ya sudah, nih Abang obatin sendiri saja," Sarah lalu berdiri mengambil tas sekolahnya.
"Kamu mau kemana?"
"Mau ganti baju, habis itu mau memasak," jawab Sarah sembari berjalan meninggalkan Zio.
Zio menyeringai, lalu berdiri dari duduknya, pergi mengikuti Sarah kedalam kamar.
Tiba di depan pintu, Zio menghentikan langkah, lalu mengintip kedalam kamar dari lubang kunci. Namun, ia tidaklah dapat melihat apa-apa.
Ceklek
Pintu di buka Sarah dari dalam.
"Abang ngapain?" tanya Sarah melihat Zio yang tengah membungkuk di depan pintu kamar.
__ADS_1
Zio yang tak ke habisan akal segera memegang pinggangnya. "Aduh pinggang saya sakit, tadi juga di pukul orang gila itu,"
"Eh?" Sarah segera membantu Zio memapahnya masuk kedalam kamar.