
Carla mengangkat wajah nya dengan isak tangis yang semakin menjadi.
"Kenapa Abang pergi?
Kenapa Abang meninggalkan Adek?
Kenapa Bang?" tanya Carla dengan bibir yang bergetar hebat seiring air mata nya yang mengucur semakin deras.
Zio mengulum tangis nya, mengusap sudut mata nya yang semakin berembun. Sungguh, ia tak mampu menjawab pertanyaan gadis itu.
.
.
***
Kini Zio dan Carla berada di dalam sebuah ruangan tertutup di restoran itu. Duduk di satu sofa yang sama. Melepaskan kerinduan dalam keheningan.
"Adek apa kabar?" tanya Zio mencoba memecah keheningan.
Bukan menjawab, Carla semakin mempererat pelukan tangan nya di lengan Zio. Kepala nya bersandar di lengan kekar Zio, tanpa sedikit pun ingin melepaskan nya.
"Hei, Adek dengar nggak?" lagi, Zio mencoba bertanya sambil menoleh melihat wajah Carla yang membenam di lengan nya.
"Nggak, Abang jahat," jawab Carla tanpa mengangkat wajah nya.
.
.
Di luar restoran, Karin merintih kesakitan dengan sudut bibir yang berdarah. Satu lengan nya terkulai seperti tak mempunyai tulang.
Entah apa yang di lakukan Ong padanya.
"Antar kan wanita ini pulang kerumah nya," titah Ong pada satpam yang sejak tadi bergidik ngeri melihatnya.
.
.
Sedangkan Heru, sudah turun ke lantai dasar karna merasa khawatir dengan Carla yang tak jua kunjung datang kelantai 3. Pemuda itu juga sudah mencari Carla ke mobil, namun tidak juga menemukan Carla. Ia juga bertanya pada setiap karyawan yang ada di restoran itu. Tapi, mereka semua tidak ada yang tau. Meski pun ada yang tau mereka akan memilih bungkam.
.
.
Beberapa jam kemudian. Entah karna terlalu lelah bekerja, entah karna terlalu lama menangis. Zio tidak menyadari jika Carla sudah tidur dalam posisi memeluk lengan nya. Dan selama itu juga Zio tidak melakukan gerakan sekecil apapun karna tidak ingin membuat Carla terbangun.
Hingga matahari semakin condong kebarat baru lah Carla terbangun karna mendengar suara ponsel Zio yang berdering.
Carla mengangkat kepalanya dari lengan Zio, sambil satu tangan nya mengusap sudut bibir nya yang mengeluarkan cairan.
"Sudah besar kok tidur nya masih ileran," ucap Zio menggoda nya.
"Mana ada Adek tidur," elak Carla.
Zio tersenyum tipis melihat nya.
Satu panggilan di ponsel nya terlewat begitu saja, berganti dengan panggilan kedua.
"Adek, lepas dulu tangan nya, Abang mau angkat telepon sebentar," pinta Zio.
Mungkin lengan nya itu kini sudah pucat karna sudah berjam-jam di peluk erat Carla.
__ADS_1
"Enggak, nanti Abang pergi lagi," kedua tangan Carla malah semakin memper erat pelukannya di lengan Zio.
"Nggak Dek, Abang nggak akan meninggalkan Adek lagi," ucap Zio mencoba meyakin kan nya.
"Nggak, pokok nya Adek nggak akan lepasin." kekeh Carla.
"Iya, iya.. Nggak usah di lepasin. Tapi sekarang masalah nya Abang lapar. Emang nya Adek nggak lapar?"
Mendengar itu perlahan Carla melepaskan tangan nya yang memeluk lengan Zio. Pandangan nya mengedar di ruangan itu. Ia seketika tersentak saat melihat langit yang sudah semakin gelap.
"Bang, Adek harus pulang sekarang," Carla merengek seperti ketakutan.
"Iya, nanti kita pulang setelah makan, ya," Zio mengeluarkan ponsel dalam saku nya.
Di layar ponsel, ia melihat notifikasi beberapa panggilan tak terjawab serta ada juga pesan masuk dari Bundanya.
Zio membaca semua pesan masuk yang di kirimkan Bundanya itu.
[Kok Abang nggak angkat telepon Bunda?]
[Abang dimana sekarang, Kok belum juga pulang?]
[Abang, jangan lupa malam ini kita ke rumah Sarah]
Zio menghela nafas besar. Sambil bergumam dalam hati.
'Maafkan Abang Bun.'
,
,
Tok. Tok. Tok.
"Masuk," ucap Zio dari dalam.
Ceklek
Pintu terbuka terlihat Ong berdiri di depan pintu lalu melangkah masuk dengan ponsel di tangan nya.
"Rain, ada telepon dari-," belum selesai Ong bicara, Zio sudah berdiri dan lansung menyambar ponsel di tangan Ong. Seperti sudah tau siapa orang yang menelpon nya.
Kemudian Ia melangkah ke sudut ruangan, menatap langit yang sudah akan mulai gelap dari balik jendela kaca.
"Ya, Bun," ucap Zio berbicara dari sambungan telepon.
"Abang dimana sekarang?" tanya Salsa.
Zio menghela nafas besar sebelum menjawab pertanyaan sang Bunda.
"Abang masih di kota B Bun, dan sepertinya hari ini Abang nggak bisa pulang," jawab Zio.
"Lho, kok Abang ngomong gitu, kan Abang tadi pagi sudah janji sama Bunda, akan pulang sore ini,"
"Maaf Bun, tapi Abang benar-benar belum bisa pulang sekarang," lirih Zio.
"Ya terus, sekarang bagaimana? Bunda kan sudah bilang ke Mama Santi akan datang malam ini."
Zio diam, sambil memejam kan matanya. Sungguh, ia tidak tau lagi harus berkata apa. Menolak permintaan sang Bunda, bagi nya seperti menantang matahari. Dan itu tak akan pernah ia lakukan.
"Halo Bang, kok diam?"
"I-iya Bun," sahut Zio sambil menghela nafas besar.
__ADS_1
"Bunda, datang saja kerumah Mama Santi. Dan apapun keputusan nya Abang akan menurutinya," imbuh Zio.
"Baiklah, Tapi benar kan Abang akan menurut, apa pun keputusan yang kami buat," tanya Salsa meyakin kan.
"Iya, Bun," jawab Zio setengah hati.
"Ya sudah, Abang hati-hati di sana, jaga kesehatan, jangan telat makan," pesan Salsa sebelum mengakhiri sambungan telepon nya.
Setelah itu Zio memberikan ponsel Ong dan menyuruh pelayan membawa makanan ke ruangan nya.
.
.
Tidak lama berselang, beberapa pelayan datang membawa makanan ke ruangan itu.
Setelah semua makanan terhidang para pelayan pergi. Zio lansung menyendok makanan itu kepiring nya dan Carla.
"Dek, mari makan," ucap Zio.
Carla menggeleng cepat dengan bibir yang mengerucut, sesekali ia memutar bola mata nya melihat Rain.
"Adek kenapa?" tanya Zio.
Carla masih diam tidak menjawab, bibir meruncing tajam ke depan.
"Nggak suka makanan nya?" tanya Zio lagi.
"Nggak," jawab nya cepat.
"Ya sudah kita makan di tempat lain saja" ajak Zio.
"Nggak, Adek nggak mau makan," ucap nya ketus.
Zio yang sangat hapal sekali sifat Carla tersenyum kecil.
"Ya sudah, duduk sini, biar Abang suap kan," ucap Zio sambil menepuk sofa di sebelah nya.
Dengan bibir yang masih mengerucut, Carla menggeser duduk nya mendekati Zio.
Zio mengaduk menyendok makanan di piring nya lalu menyuapkan pada Carla.
"Aaaaa," Ia menyodorkan sendok yang berisi makanan itu ke mulut Carla yang sudah menganga.
Begitu pun Carla, mengambil sendok lain dan menyuapkan makanan itu ke Zio. Hingga semua makanan di dalam piring itu licin tanpa sisa.
.
.
Setelah selesai makan, Zio dan Carla keluar dari restoran karna akan mengantarkan Carla pulang. Saat makan tadi Carla bercerita banyak jika dia saat ini tinggal bersama Zakir, Niken serta Bagas. Bagas adalah anak Niken dan Zakir yang berusia 6 tahun. Sedang kan Zakir sendiri sejak 2 tahun ini mengalami stroke yang mengakibatkan pria paruh baya itu hanya bisa terbaring di ranjang.
"Tunggu sebentar, Abang pesan taksi dulu." ucap Zio lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana nya.
"Adek nggak mau naik taksi," sungut Carla.
"Apa Adek mau naik helikopter?" tanya Zio.
"Nggak, Adek mau???" Carla merentangkan kedua tangan nya kedepan.
"Hem, di jalan kan banyak orang Dek, masa harus di gendong pulang nya," tolak Zio.
"Ya, sudah kalau Abang nggak mau, biar Adek pulang sendiri," Carla menghentakkan kaki nya berlalu pergi.
__ADS_1