Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (60)


__ADS_3

"Uukh,"


Zio menikmati pijatan istrinya, hingga bersendawa.


"Pasti Abang masuk angin nih,. Mau Sarah kerokin gak?"


Zio tak menjawab, matanya kini melirik posel di atas nakas yang bergetar dan lansung di sambarnya ponsel tersebut, kemudian ia melirik Sarah sekilas ketika melihat nama Carla yang tertera di layar gawainya. Segera ia menyingkirkan leptop dan menepiskan tangan Sarah yang berada di pundaknya. Setelahnya ia segera keluar kamar.


Beberapa menit berselang, Zio kembali masuk kedalam kamar. Di lihatnya Sarah sudah berbaring menghadap tembok dengan selimut yang menutupi tubuh hingga sebatas bahu.


"Ehem," Suara deheman yang sengaja di buat-buat, berharap sang istri menoleh dan melakukan pijatan lagi. Pikirnya, tidak mungkin Sarah sudah tidur karna ia menerima telpon Carla diluar tadi tidaklah sampai sepuluh menit.


"Ehem, Sarah, saya haus," ucapnya setelah lama berdehem sendiri, namun Sarah tak kunjung menoleh padanya.


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Sarah bangkit dari ranjang berjalan menuruti perintah sang suami.


'Kenapa dia?' Zio membatin disertai kening yang berkerut, menatap punggung istrinya yang kini telah menghilang di balik pintu.


Tidak lama, Sarah masuk kembali kedalam kamar membawa segelas air yang di minta suaminya. Setelah meletakkan diatas nakas, ia kembali naik keatas ranjang.


Zio kemudian menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya. "Akh, badan saya sepertinya sakit-sakit semua nih," ucapnya sambil menoleh pada Sarah yang berbaring memunggunginya.


Tak ada respon dari Sarah atau pun pergerakan lainnya.


"Sarah, pijatkan Abang," ucapnya kemudian.


"Tadi di pijit malah sibuk melayani orang lain, sekarang orang sudah ngantuk baru minta di pijat," Sarah menggerutu kesal, namun tetap bangun menuruti keinginan suaminya.


Zio tersenyum tipis, lalu segera memutar duduknya membelakangi Sarah.


Sarah yang masih merasa kesal dengan suaminya, melampiaskan kekesalannya dengan memijit kuat bahu Zio sangat keras.


"Sarah, pelan-pelan lah! Ini sakit sekali," Zio meringis sambil menggeliat.


Sarah menghembuskan nafas kasar, bukannya memelankan, kini tangannya malah semakin keras meremas bahu suaminya.


"Ah, sudahlah! Tidak usah di pijat lagi!" dengusnya kesal lalu menepiskan tangan Sarah.


Sarah menghembuskan nafas kasar. "Tahu Abang apa itu sakit kan? Itulah yang Sarah rasakan bila Abang melayani wanita lain,"


"Kamu itu tuli atau gimana sih? Sudah berapa kali saya bilang, Carla itu Adik angkat saya, jadi kamu tidak ada hak melarang saya berhubungan dengan dia!" Zio mendengus kesal.


Sarah kembali membuang nafas kasar, "Hak? Abang gak usah bicara tentang hak, kalau Abang sendiri gak tau arti tentang hak?"


Zio membelalakkan mata.


"Apa Abang marah?"


"Sudahlah tidur sana!" Zio kembali mengambil leptop dan menyalakan.


Sarah menghela nafas, menahan sabarnya. "Ya, Sarah minta maaf atas semua kesalahan yang Sarah lakukan hari ini," ucapnya sebelum berbaring.


Zio hanya memutar bola mata melirik Sarah yang berbaring memunggunginya.


.

__ADS_1


.


.


Keesokan harinya.


Di kantor, Zio tak bisa fokus bekerja, sebelumnya dia juga sudah menelpon Zia, memastikan saudaranya itu tidak menceritakan masalahnya kemarin pada sang bunda. Namun, Zia meminta Zio secepatnya mengatakan pada adik angkatnya, kalau tidak ingin masalah ini sampai ke telinga Salsabila.


Zio pun akhirnya menelpon Carla, mengatakan siang nanti akan menemuinya di rumah.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," sahut Zio dari dalam.


Seketika Zio bangkit dari duduknya melihat Raka yang membuka pintu ruang kerjanya.


"Zio, bisa kita bicara sebentar?"


"Hm... " Zio tampak kebingungan.


"Tentu bisa, Pa," sahutnya kemudian sembari berjalan mendekati Raka.


"Papa pasti ingin membicarakan tentang kerjasama kita dengan perusahaan CARROLL Grup kan?" ucapnya disertai senyum yang lebar. "Ayo, kita duduk di sini saja, Pa," Zio membawa Raka duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.


"Sebentar, Zio ambil dulu berkasnya-"


"Zio, Papa bukan ingin membicarakan masalah pekerjaan," potong Raka cepat. "Papa ingin bicara tentang hubungan pernikahan kalian," lanjutnya membuat raut wajah Zio berubah cemas.


"Hm, a-apa Sarah mengatakan sesuatu pada Papa?"


"Ma-mamaksud Papa apa?"


Raka tersenyum tipis. "Papa tau Zio mengerti dengan kata-kata yang Papa ucapkan," Sembari berdiri Raka menepuk pelan paha Zio yang duduk di sebelahnya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


Zio masih duduk terpaku, mengingat kembali kata-kata yang diucapkan mertuanya barusan.


Segera Zio mengambil ponsel, mencari nomor kontak Sarah lalu menghubunginya.


"Hallo, Abang," Terdengar sapaan manja Sarah di sebrang sana.


"Em, Sarah apa kamu pernah berjumpa dengan Papa?"


"Iya, Sarah lupa menceritakan pada Abang, kemarin waktu Sarah diantar Andri pulang, waktu itu Papa mengajak Sarah makan di cafe pelangi. Habisnya Abang marah-marah jadinya Sarah gak sempat cerita. Siang itu Sarah juga sudah kirim Abang pesan, tapi Abang gak balas, mungkin Abang terlalu sibuk kali ya?"


Zio terperangah mendengar penjelasan istrinya. Karna di hari yang sama dia juga makan di sana bersama Carla. 'Apa mungkin waktu itu Papa melihat aku bersama Carla?'


"Halo, Abang, kenapa diam?"


"Hm, Sarah, nanti Abang tidak bisa jemput, kamu pulang sediri saja ya. Lansung pulang jangan kelayapan,"


"Iya,"


"Ya sudah, Abang tutup teleponnya dulu,"


Setelah menelpon Sarah, Zio melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


.


.


Hingga siang hari Zio masih duduk di kursi kerjanya, berkutat dengan leptop dan berkas-berkas yang menumpuk.


Getar ponsel mengalihkan fokus Zio yang sibuk bekerja. Sejenak Zio tertegun sebelum mengangkat telepon dari adik angkatnya tersebut.


"Abang dimana? Katanya siang ini mau kesini, Adek sudah capek-capek memasak makan siang kesukaan Abang," Suara manja Carla saat sambungan telepon baru saja terhubung.


Zio menghela nafas panjang. "Ya sebentar lagi Abang sampai,"


"Oke, Adek tunggu, jangan lama-lama," sahut Carla.


Setelah sambungan telepon dengan Carla terputus, Zio segera keluar dari ruangannya menuju ke tempat Carla.


Tiga puluh menit berselang, mobil Zio sudah terparkir di tempat tinggal Carla. Baru saja keluar dari mobil adik angkatnya sudah berlarian keluar menyambut kehadirannya dan lansung menuntunnya masuk kedalam rumah.


Cekrek! Cekrek! Cekrek!


Agak jauh dari rumah itu seseorang memfoto saat Carla merangkul tangan Zio  berjalan masuk ke dalam rumah.


.


.


.


"Abang pasti laparkan? Kita makan siang dulu ya?" ucap Carla yang masih bergayut manja di lengan Zio.


"Adek, Abang gak bisa lama-lama,"


"Abang, makan siang saja pun, itu pun Abang gak mau," rengek Carla.


"Hm, ya sudah,"


Carla tersenyum senang, menuntun Zio melangkah ke meja makan.


"Ibu mana?" tanya Zio karna tak melihat wanita yang penah merawatnya dulu.


"Hm, Ibu keluar. Paling pulangnya nanti sorean,"


"Oo,"


Tadinya Zio berharap ada Maya juga yang bisa membantunya menjelaskan pada Carla tentang status hubungan mereka yang bukanlah saudara kandung.


Sambil makan, Zio juga tengah memikirkan kata-kata yang akan ia sampaikan pada Carla agar tidak menyakiti perasaan adik angkatnya nanti.


Selesai makan, Zio lansung mengajak Carla duduk di ruang tamu, ingin menyampaikan kebenaran yang tidak diketahui adik angkatnya selama ini, Zio juga tidak ingin berlama-lama di sini karna sejak tadi dia juga ingin pulang menemui Sarah.


Namun, tiba-tiba ia merasakan ada yang lain terjadi di tubuhnya. Tubuhnya seketika berkeringat, gairah lelakinya pun seketika naik saat ini.


"Abang mau ngomong apa?" Carla lansung duduk di sebelahnya melatakkan tangan di sebelah paha Zio dan mengusap dangan lembut.


"Em, eh, Adek ja-jangan seperti ini..."

__ADS_1


__ADS_2