Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (58)


__ADS_3

"Abang, jawablah," desak Sarah.


Zio gelagapan, lalu membuang pandangan ke arah lain.


"Kalau Abang gak jawab, berarti benar  Abang cemburu. Dan cemburu itu artinya cinta. Berarti Abang sudah cinta Sarah ya?"


Zio membelalakkan mata. "Saya, cinta sama kamu? Kira-kira lah?" Zio berdecak kesal sembari menunjuk wajahnya sendiri serta wajah Sarah.


"Hem, baiklah. Jadi, Abang gak masalahkan, kalau Sarah dekat dengan Andri? Kan, Abang gak cemburu?" ujar Sarah sengaja ingin menggoda suaminya, sebab tadi ia lihat suaminya itu begitu murka saat melihatnya datang bersama Andri.


"Heh! Kamu itu istri saya, jaga sikapmu sebagai seorang istri. Dekat sama laki-laki kamu kira itu tidak dosa," dengus Zio.


Sarah tertawa sambil bertepuk tangan. "Makin hebat suami Sarah sekarang ya? Pandai bicara hukum agama segala. Ck, ck. Beruntungnya Sarah jika punya suami yang pandai berdakwah seperti Abang ini,"


Sarah menjeda kalimatnya memperhatikan wajah Zio yang merah. "Kalau begitu Abang tau jugalah apa hukumnya seorang suami yang gak pernah memberi nafkah batin pada istrinya? Terus hukum seorang suami yang bermesraan dengan wanita lain di belakang istri sahnya," lanjut Sarah sengaja menyindir.


Zio semakin gelagapan, tak tau harus berkata apa. Untungnya bersamaan dengan itu bel rumahnya berbunyi. "Biar saya saja," ucapnya ketika Sarah hendak bangkit dari duduk.


Zio kembali masuk membawa kotak makanan yang barusan diantar kurir.


"Makan dulu," katanya sembari berjalan kemeja makan.


"Sarah kenyang, Abang makan sendiri sajalah,"


Mendengar jawaban Sarah, langkah Zio yang hendak ke meja makan terhenti. "Oo, berarti tadi kamu sudah makan dengan laki-laki brengsek itu!" suaranya terdengar menggelegar.


Sarah memutar kepala kebelakang, melihat wajah suaminya yang merah. Lalu ia berjalan mendekat. "Kepala Sarah masih pusing, Abang tetap saja teriak-teriak," ucapnya lalu mengambil peralatan makan, membawa ke meja.


Setelahnya, Sarah melihat Zio yang masih berdiri terpaku. "Abang, ngapain masih berdiri di sana? Katanya tadi mau makan?"


"Eh, iya," Zio segera berjalan mendekat, meletakkan makanan yang dibawanya diatas meja. Lalu, menarik satu kursi yang ada di sana.


Sarah membuka makanan yang di bawa Zio menyalin ke piring yang di sediakannya.


Selama makan malam, mata Zio selalu saja mencuri-curi pandang pada istrinya. Tidak dengan Sarah yang hanya terfokus pada makanan dipiringnya.


Selesai makan, Sarah membereskan meja makan, setelahnya masuk ke kamar. Meninggalkan Zio yang duduk di sofa menerima telepon Carla.


Selepas menerima telepon Carla, Zio pergi ke kamar. Dilihatnya Sarah duduk bersandar diatas ranjang sambil memainkan ponsel. Kemudian, Zio ikut duduk di sebelahnya. Mencuri-curi pandang pada Sarah yang tersenyum-senyum sendiri melihat layar ponsel di tangannya.


Tangan Zio tiba-tiba terulur, merebut paksa ponsel Sarah.


"Abang, siniin ponsel Sarah!" Sarah berusaha mengambil kembali ponselnya yang telah di rebut Zio.


Zio menjauhkan ponsel tersebut dari Sarah, membaca chatingannya dengan Zia. Kemudian Zio memeriksa pesan yang dikirim Sarah ke ponselnya tadi siang.


'Kenapa pesan yang dikirimnya tidak masuk ke ponselku?'

__ADS_1


Di saat Zio tertegun dengan pikiran yang ada di benaknya. Sarah merebut kembali ponselnya.


'Apa mungkin Carla yang menghapus pesan itu?'  Zio masih membatin, memikirkan kenapa pesan yang di kirim Sarah tidak masuk ke ponselnya.


"Kenapa? Abang kira Sarah lagi chat sama cowok kah?" tanyanya yang hanya memperhatikan layar ponsel. "Abang tenang saja, Sarah gak akan melakukan itu sekarang,"


Zio seketika tersentak mendengar ucapan Sarah. Tidak melakukan sekarang? Berarti dia akan melakukannya nanti. Atau dia akan meninggalkanku nanti? batinnya bertanya-tanya.


Kemudian Zio duduk bersila menghadap Sarah dengan wajah yang terlihat serius. "Sarah! Dengar baik-baik! Mulai besok, pulang sekolah Abang yang akan antar kamu pulang!" ucapnya penuh penekanan.


Sarah menoleh pada suaminya yang memasang wajah serius. "Abang, Sarah gak butuh Abang seperti itu. Sarah ingin Abang itu menghargai perasaan Sarah! Itu saja sudah cukup buat Sarah. Gak usah harus menjadi sopir segala,"


"Awas kamu, kalau saya lihat lagi dengan laki-laki bajingan itu!"


Mata Sarah memicing melihat tingkah aneh suaminya. "Abang, besok pulang sekolah Sarah diajak Kak Zia pergi ke Mal,"


"Tidak boleh! Pulang sekolah besok saya jemput!" ucap Zio sembari menyandarkan kembali punggungnya di sandaran ranjang.


"Abang! Sarah sudah janji, gak mungkin lah Sarah ingkari," protesnya.


"Saya bilang tidak boleh ya tidak boleh," ucap Zio santai.


Sarah merenggut kesal, lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi miring memunggungi suaminya.


Zio tersenyum tipis menatap punggung istrinya.


Sebelum berbaring ia mencondongkan tubuh melihat wajah Sarah yang ternyata matanya masih terbuka lebar.


Zio bergidik, lalu meletakkan bantal guling di tengah-tengah ranjang sebagai pembatas mereka tidur.


* * *


Pagi harinya. Sebelum Sarah turun dari mobil, Zio meminta Sarah menelpon ke nomornya. Alasannya ia lupa keberadaan ponselnya, yang ternyata setelah di hubungi Sarah ponsel itu ada di dalam saku celananya sendiri.


Di jam istrahat Zio menghubungi Sarah, mengatakan jika dirinya tengah sibuk hingga tak bisa menjemput Sarah ke sekolah sesuai janjinya. Namun ia juga berpesan agar pulang sekolah Sarah lansung pulang, melarangnya pergi bersama Zia.


Waktu cepat berputar, hingga serine panjang terdengar menggema pertanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar di sekolah.


Sarah keluar dari kelas menuju gerbang sekolah, nantinya akan mencari angkutan untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Namun di luar gerbang ia melihat mobil Zia terparkir. Sarah segera mendekati Iparnya tersebut. "Kak Zia, bukannya tadi malam Sarah sudah bilang, kalau hari ini kita gak jadi pergi?" ucapnya.


"Pasti Bang Zio yang melarang, kan? Sudah gak usah takut. Nanti biar aku yang bilang ke dia,"


"Tapi kak...?"


"Sarah, ayo lah. Kita sudah lama gak jalan bareng kan,"


"Tapi Sarah gak bisa lama-lama ya kak?" ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Iya, sebentar saja," Terpaksa Sarah masuk kedalam mobil mewah tersebut.


"Udah kamu tenang aja. Bang Zio gak akan marah. Nanti kalau dia marah kita gebukin dia bareng-bareng," ucap Zia karna melihat Sarah hanya diam saja.


"Eh, jangan!" sahut Sarah.


Zia hanya terkekeh melihat reaksi Sarah.


Beberapa menit kemudian Sarah dan Zia telah sampai di Mal. Dengan tangan yang saling bergandengan mereka masuk kedalam Mal tersebut.


"Sarah, kita kemana dulu, nih?" tanya Zia.


"Gak tau? Memangnya Kak Zia mau beli apa? Kita lansung kesana saja agar bisa cepat pulang,"


"Sarah, apa sih yang ingin kamu kejar pulang cepat-cepat? Toh, sekarang Bang Zio juga lagi di kantor, kan?"


"Sarah kan belum masak buat makan malam kak,"


"What? Kamu masak?" Zia terlihat kaget, pasalnya dirinya sendiri tidak bisa memasak.


Sarah mengangguk.


"Kenapa kalian gak memperkerjakan pembantu saja?"


"Eh, Sarah gak mau lah! Kalau ada pembantu di rumah, trus tugas Sarah di rumah apa?"


"Heheheh, mana aku tau kan aku belum nikah?"


"Mangkanya, Kakak buruan nikah!"


"Husttt! Ada ada saja kamu,"


Mereka terus saja berjalan sambil melempar canda.


"Sarah, aku lapar bagaimana kalau kita makan dulu,"


"Terserah Kakak,"


"Memangnya kamu gak lapar?" tanya Zia.


"Lapar," jawab Sarah.


"Kenapa gak bilang dari tadi? Sarah, Sarah,"


"Kalau begitu kita makan dulu, setelah itu baru kita shoping,"


Mereka pun menuju lantai dua menggunakan tangga eskalator.

__ADS_1


Langkah Zia seketika terhenti ketika melewati sebuah toko, matanya menangkap seorang laki-laki dan perempuan yang tengah memilih tas branded di toko tersebut.


"Sarah, bukannya itu Bang Zio?" Zia menunjuk laki-laki tersebut dari luar toko.


__ADS_2