Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (64)


__ADS_3

"Abang juga mencintaimu," Sebuah kecupan mendarat di kening Sarah, setelah ia memuntahkan lahar panas untuk pertama kalinya ke dalam rahim Sarah.


Sarah tersenyum bahagia mendengar pengakuan suaminya yang terdengar tulus. Kemudian ia mengalungkan kedua tangannya di leher Zio, beberapa saat mereka kembali berciuman.


Perlahan Zio kembali mengayunkan pinggulnya, meski baru saja ia memuntahkan lahar panas, namun burungnya di bawah sana enggan untuk keluar dari sarang yang baru saja di masukinya.


Malam itu adalah malam bersejarah yang panjang bagi mereka, berkali-kali Zio menghujam dan menanamkan benih di rahim sang istri.


Zio menyudahi pergumulannya, meski sebenarnya ia masih sanggup nonstop hingga esok pagi. Namun, melihat istrinya yang sudah kelelahan, ia pun menghentikan aksinya. Mereka tertidur dengan saling berpelukan dalam selimut yang sama.


.


.


.


.


Ketika tersentak, Sarah mendapati wajah Zio berada tepat di hadapannya. Ia tersenyum mengingat betapa panasnya pergumulan mereka semalam. Sarah bahagia, karna telah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.


Kemudian ia bangkit dari ranjang, menahan perih di inti tubuhnya. Numun, tiba-tiba saja tangan kekar lansung mengalung di perutnya, membaringkannya kembali keatas ranjang.


"Abang, ini sudah subuh, Sarah mau mandi dulu, Sarah juga belum subuh dan membuatkan Abang Sarapan," Sarah mengomel, meminta Zio melepaskannya.


Namun, Zio tak memperdulikan perkataan istrinya itu, dia kini bagai bayi kecil yang tengah menyusu pada Sarah.


"Abang udahan dulu lah? Memangnya hari ini Abang gak ke kantor?"


Zio menggeleng mulutnya tetap saja mengenyet benda indah yang menggantung di tubuh istrinya.


"Loh, kenapa gak ke kantor?"


"Abang sakit?" jawabnya memelas lalu kembali membenamkan wajah di dada Sarah.


"Sakit?" Sarah meraba keningnya. "Gak panas kok," ucapnya setelah merasakan suhu tubuh Zio yang terasa normal saja.


"Abang, capek ke kantor terus, Abang juga butuh istrahat,"


Sarah tersenyum sembari manangkup kedua pipi suaminya. "Capek atau lemas?" godanya.


"Kamu mau Abang melakukan lagi?" Zio menantang.


"Eh, gak lah Sarah belum subuh, nanti juga mau sekolah. Sudah bangun yuk Abang imami Sarah shalat ya,"


Zio semakin mengeratkan pelukan tangannya di pinggang Sarah ketika istrinya itu berusaha untuk bangkit. "Kamu libur dulu sekolahnya, temanin Abang di rumah," bisiknya di telinga Sarah.


"Abang, mana boleh begitu. Sarah kan sebentar lagi mau ujian. Udah, ayo kita mandi dulu," Sarah berusaha melepaskan tangan Zio yang memeluk tubuhnya.


"Lima menit lagi, Sayang," Zio mencoba menawar.

__ADS_1


"Abang!"


"Iya, iya,"


Tanpa menawar lagi, Zio lansung membopong tubuh Sarah ke kamar mandi.


Di bawah guyuran shower yang menyala, tangan Zio tak pernah lepas memeluk pinggang istrinya dari belakang, membenamkan bibirnya di leher jenjang itu.


"Abang, sudahlah kalau begini kapan selesai mandinya," Sarah memberengut, kesal dengan tingkah suaminya.


"Biar Abang yang menyabuni," Zio mengambil alih spons di tangan Sarah, lalu mulai mengusapkan lembut benda itu ke bahagian belakang tubuh Sarah.


"Abang, itunya gak usah di tempelin lah. Geli tau!" protes Sarah kala merasakan burung Zio tengah mematuk-matuk bokongnya dari belakang.


Zio menulikan pendengarannya, tetap saja ia menggesek gesekan adik kecilnya yang sudah mengeras itu ke bokong istrinya, tanpa memperdulikan ucapan Sarah yang ketus.


"Sini, biar Sarah saja! Kalau Abang yang melakukannya bisa-bisa tahun depan selesainya," Sarah kembali merebut spons tadi dari tangan Zio.


"Sayang, ini nya bangun lagi," Zio merengek mengambil satu tangan Sarah mendekatkan ke adik kecilnya yang masih saja mengacung.


"Abang, sudah lah, iiih!" Sarah benar-benar jengkel dengan tingkah suaminya. Ia kembali menarik tangannya dengan kasar.


"Sayang, kita main sekali lagi yuk," Zio terus saja merengek meminta sesuatu yang telah membuatnya ketagihan.


"Cepat Abang selesaikan mandi, terus imamkan Sarah, setelah itu baru kita main lagi," Kali ini Sarah yang memberikan penawaran.


"Abang!"


Zio hanya cengengesan saja.


.


.


.


Pukul tujuh pagi. Kedua insan itu masih saja bergulat diatas ranjang. Zio yang meminta hanya sekali, nyatanya lahar panasnya sudah dua kali menyirami rahim Sarah setelah selesai mandi.


Meski kecapekan serta merasa perih di bagian intinya, Sarah tetap saja menuruti kemauan suaminya itu, berlayar mengarungi samudra kenikmatan. Berkali-kali wanita yang baru melepas ke gadisan itu menjerit dalam kenikmatan.


Sekolah pun terpaksa ia liburkan karna tenaganya telah terkuras habis.


Jam 9 pagi barulah pasutri yang baru meneguk manisnya pernikahan itu keluar dari kamar setelah kembali membersihkan diri.


Sarah bukan kecapekan lagi, tapi semua persendiannya terasa nyeri semua. Berjalan pun ia tak bisa normal seperti biasanya, rasa nyeri di bawah sana masih saja terasa.


Berbeda dengan Zio wajah pria itu semakin berseri-seri, senyum selalu terpancar di wajahnya. Sungguh, ia menyesal tak melakukan ini sejak dulu.


"Sayang, ayo kita sarapan dulu," ajak Zio setelah mengambil sarapan yang baru saja diantar kurir.

__ADS_1


Sarah yang duduk di sofa merentangkan kedua tangannya pada Zio, dirinya benar-benar kehabisan tenaga saat ini.


Seakan mengerti Zio lansung membopong tubuh istrinya itu, mendudukan di kursi yang ada di meja makan.


Sesekali Zio juga menyuapkan makanannya ke mulut Sarah.


Lepas sarapan, pasutri itu hanya rebahan di depan TV yang menyala.


"Sayang, bagaimana kalau kita pergi bulan madu lagi?" ucap Zio tiba-tiba.


Sarah tertawa kecil mendengar ajakan suaminya itu. "Namanya bukan bulan madu lagi Abang, tapi bulan sabit,"


"Tapi Abang benar-benar ingin pergi bulan madu, Sayang," Zio merengek lalu membenamkan wajahnya di dada Sarah.


"Abang, sudah aah, geli, ihhh!" Sarah benar-benar merasa geli sendiri saat ini dengan tingkah suaminya.


"Mau ya, kita pergi bulan madu lagi," Zio semakin merengek lalu membenamkan wajahnya ke leher Sarah.


Sarah kembali terkekeh geli, antara menahan tawa melihat tingkah suaminya serta merasakan geli karna bibir Zio tengah menggigit-gigit daun telinganya.


"Iya, iya, bulan madu," Sarah pasrah karna tak tahan dengan rasa geli di tubuhnya.


"Kapan kita perginya?"


"Taun depan," ucapnya yang kembali mendapat serangan oleh suami mesumnya.


"Abang, sudah lah. Sarah benar-benar capek," Sarah bicara dengan nafas tersengal sebab tak henti tertawa.


Ting tong! Ting tong!


Mendengar suara bell berbunyi barulah Zio menghentikan aksinya.


"Siapa sih mengganggu orang saja!" Zio mendengus kesal.


"Udah, buka dulu pintunya," Sarah segera duduk merapikan pakaian dan rambutnya yang kusut.


Zio tak lansung berdiri membukakan pintu, tapi pria itu kini tengah memajukan bibirnya.


"Abang, buka pintunya!"


Zio tak memperdulikan ucapan Sarah, pria itu masih saja memonyongkan bibirnya.


Cup!


Setelah di kecup Sarah, barulah Zio berdiri, berjalan membukakan pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka, Zio kaget melihat kehadiaran.

__ADS_1


__ADS_2