Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (56)


__ADS_3

"Sarah, kamu kenapa?" tanya Zio menyadari wajah Sarah yang terlihat sedikit pucat.


"Sarah baik-baik saja, hanya pusing sedikit. Ini memang sudah biasa kok kalau lagi datang bulan," jawab Sarah beralasan. Padahal ia sadar saat ini dirinya dalam keadaan bersih. Namun entah kenapa kepalanya masih saja terasa pusing, setelah di bentak Zio tadi.


"Kalau kamu sakit, kita kerumah sakit saja sekarang,"


Sarah tersenyum melihat raut kecemasan di wajah suaminya. Sejujurnya ia senang suaminya mengkhawatirkannya. Tapi, dalam keadaan seperti ini, ia tak bisa mengekspresikan kebahagiaannya. Kepalanya benar-benar terasa pusing.


"Abang, Sarah hanya pusing karna datang bulan saja, nanti juga akan sembuh sendiri,"


"Kalau begitu, sekarang kamu istrahatlah dikamar. Tidak apa, Abang makan sendiri saja,"


"Baiklah, Sarah minta maaf ya, karna gak bisa menemani Abang makan. Nanti kalau Abang sudah selesai makan, Abang beritahukan Sarah ya. Biar Sarah yang bereskan,"


"Iya, sekarang istrahatlah,"


Sarah pun pergi ke kamar, meninggalkan Zio yang masih memperhatikannya hingga ia benar-benar hilang dari pandangan suaminya.


Cepat-cepat Ziio menghabiskan makan malamnya. Sisa makanan pun tak lupa ia kemasi, serta piring bekas makannya, juga ia letakan di pencucian.


Setelahmya ia bergegas melangkah menuju kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika merasakan getaran ponsel dalam saku celananya.


Segera ia mengeluarkan benda pipih itu dan menggeser panah hijau setelah melihat nama Carla tertera di layar.


"Abang...." rengek Carla memanggilnya diujung sana.


"Adek, ini sudah malam, kenapa belum juga tidur?" tanya Zio sedikit ketus.


"Adek suntuk, Adek bosan karna gak ngapa-ngapain. Abang pun sekarang sudah gak peduli lagi sama Adek. Lebih baik Adek kerja sajalah, biar gak bosan," sungut Carla.


Zio menghela nafas panjang sambil memijat pangkal hidungnya.


"Adek mau kerja apa? Kalau Adek bosan di rumah, kenapa tidak ajak Ibu keluar atau melakukan sesuatu,"


"Menurut Abang, bagus mana? Adek kerja atau sekolah?" tanya Carla dengan nada manjanya.


"Sekolah lebih baik, kalau Adek ingin melanjutkan sekolah lagi nanti Abang suruh Muklis mengurus,"


"Abang, besok kita makan siang bareng yuk. Adek kangenlah makan dan cerita bareng Abang,"


"Hm, liat besok kalau Abang tidak sibuk. Sekarang tidur lah,"


"He he , iya Abang sayang. I miss you Abang. Muacch!"

__ADS_1


"Adek!" sentak Zio, merasa aneh mendengarnya.


"Hehe, Adek memang selalu kangen Abang dan sayang Abang juga,"


"Tidurlah, Abang sibuk," Tanpa mendengar persetujuan dari Carla, Zio lansung memutuskan sambungan teleponnya. Ia juga mengabaikan getaran ponselnya tidak lama setelah sambungan teleponnya terputus.


Di dalam kamar, Zio segera mendekati Sarah yang berbaring diatas tempat tidur.


Tanpa ragu di pegangnya kening Sarah, merasakan suhu tubuhnya.


"Ehm.... Abang sudah selesai makan?" Sarah hendak bangkit untuk mengemasi meja makan, namun Zio mencegahnya.


"Kamu tidur saja, makanannya sudah Abang bereskan,"


Sarah menatap lekat wajah suaminya sembari tersenyum kecil. Lalu, diraihnya tangan Zio ke pipinya. "Terimakasih, Abang,"


Tak ada penolakan dari Zio atau pun marah seperti biasanya jika di sentuh Sarah. Kali ini ia menikmati, merasakan hal lain, ketika istrinya mengusap-usapkan tangannya ke pipi.


Saat ini, Zio benar-benar merasakan sesuatu yang tak bisa ia artikan.


"Abang, tolong jangan bentak Sarah lagi, ya. Kita nanti bicara baik-baik saja, ya?" Sarah bergumam lirih.


"Hmm," Hati Zio bergetar mendengar permintaan kecil istrinya.


*


"Sarah, Sarah," terdengar Zio berteriak memanggilnya.


Sarah segara berjalan menghampiri suaminya.


"Abang kok sudah bangun?"


"Sarah, apa yang kamu lakukan?"


Sarah tersenyum, mendengar Zio yang terlihat mengkhawatirkannya. "Membuat sarapan,"


"Sarah, kamu kan lagi sakit. Jangan susahkan dirimu melakukan semua ini," kata Zio sembari berjalan mendekati Sarah.


"Abang,. Sarah sudah sehat. Kan, tadi malam Sarah sudah bilang, kalau Sarah hanya pusing biasa saja. Dan sekarang sudah sembuh lah, apalagi tadi malam Abang  sudah kasih obat,"


"Obat?" Zio mengernyit, seingatnya ia tidak ada memberikan obat apa pun.


"Yang Abang peluk Sarah tadi malam? Itu apa?"

__ADS_1


Mata Zio semakin memicing, ia tidak mengerti sama sekali obat yang di maksud istrinya. Tadi malam dia hanya tidur memeluk Sarah saja. Tidak ada memberikan obat apa pun.


"Abang duduklah, Sarah mau lanjutkan buat sarapan dulu,"


Zio masih berdiri dalam kebingungan, memikirkan obat yang di maksud Sarah.


Selesai membuat sarapan, Sarah mengajak Zio kembali masuk kedalam kamar. Seperti biasa kegiatan mereka adalah mandi bersama. Setelahnya mereka turun kebawah untuk sarapan.


Berkali-kali Zio menanyakan sakit kepala Sarah, ia juga menyarankan agar hari ini istrahat dirumah. Namun, Sarah tetap saja bersikukuh mengatakan dirinya baik-baik saja dan tetap pergi kesekolah.


*


Selama berada di sekolah, Sarah bersikap tidak seperti biasanya. Ia terlihat begitu happy dari sebelumnya. Pelukan hangat Zio tadi malam selalu saja terbayang olehnya. Hatinya saat ini bagaikan di tumbuhi bunga-bunga yang sedang mekar.


Di jam istrahat, Sarah mengirim pesan WA pada suaminya, hanya pesan yang mengingatkan agar suaminya tidak telat makan siang. Sembari menunggu balasan pesan yang belum di baca Zio, Sarah menyantap makan siangnya di kantin sekolah.


Dreet. Dreet. Dreet.


Sarah segera menyambar ponsel yang ia letakkan diatas meja. Berharap itu adalah telepon dari suaminya.


"Papa," gumamnya. Meski tidak sesuai dengan harapan, Sarah tetap merasa senang mendapat telepon dari Raka.


"Hallo, Pa!" sapanya manja.


"Sarah, sekarang kamu dimana, Nak?" tanya Raka diujung sana.


"Di sekolah. Kenapa Pa? Oo, Sarah tau pasti Papa kangen Sarah, kan?"


"Jelas Papa kangenlah, sayang. Nanti siang kamu ada waktu? Papa ingin mengajak kamu makan siang, sekalian Papa juga kangen mengobrol. Sudah lama juga kan kita tidak mengobrol?"


"Bisa sih Pa, tapi Sarah gak bisa lama-lama ya. Soalnya Sarah kan harus memasak makan malam buat suami Sarah,"


"Hmmm. Ya sudah, nanti pulang sekolah Papa jemput,"


"Oke, Pa, sampai ketemu nanti siang,"


Ketika sambungan telepon berakhir, Sarah kembali memeriksa pesan yang ia kirim tadi ke Zio. Tapi, sayangnya pesan itu belum juga di baca suaminya.


Ada rasa kecewa, namun ia berusaha menepiskan rasa itu. Berfikir positif, karna ia tahu kesibukan suaminya seperti apa.


Saat jam pelajaran berlansung, Sarah sesekali masih saja memeriksa pesannya yang masih belum di baca Zio.


Bel pulang sekolah berbunyi, Sarah segera keluar dari kelasnya. Sembari berjalan keluar, ia mencoba menghubungi nomor ponsel Zio. Namun, sudah beberapa kali ia melakukan nya tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Sarah hanya mengetik pesan saja, meminta izin pada suaminya akan pergi makan siang dengan papanya.

__ADS_1


Di Luar sekolah, Sarah berlari menghampiri mobil Papanya yang sudah terparkir di tepi jalan.


__ADS_2