Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Seperti penguntit


__ADS_3

Setelah menerima telepon dari Muklis, yang mengatakan Carla tak henti menangis dan meminta diantar pulang ke bandung, Zio lansung pergi menuju hotel tempat Carla menginap menggunakan motor Deri.


Ternyata benar, sesampainya Zio di kamar Carla, di lihat nya Carla duduk di lantai disamping ranjang, menekuk kepala nya diantara kedua lutut.


"Adek kenapa?" tanya Zio yang sudah berjongkok di depan Carla.


Tangis Carla semakin menjadi. "Abang pergi saja sana! Nggak usah perdulikan lagi Adek, Abang udah nggak sayang lagi sama Adek!" Carla menepis kan tangan Zio yang mengusap kepalanya.


"Siapa bilang Abang nggak peduli sama Adek?" tanya Zio.


"Bukti nya, Abang memang nggak peduli lagi sama Adek, lebih baik Adek pulang saja ke Bandung," ucap Carla di sela isak tangis nya yang semakin menjadi.


"Adek mau tinggal di Bandung sama siapa?" tanya Zio lagi.


"Adek bisa pulang sama Om Zakir. Pokok nya Adek nggak mau tinggal di sini!"


Zio menghela nafas. 'Seperti nya, Carla tidak perlu tau dulu kebenaran,'jika Om Zakir sudah meninggal," batin Zio, tak ingin membuat Carla bersedih.


"Adek, sekarang kan Abang sudah ada di sini. Masa masih nangis, memang nya Adek nggak malu," Zio berusaha terus membujuk nya.


"Nggak! Abang jahat, Abang nggak sayang lagi sama Adek!"


"Kalau Abang nggak sayang, nggak mungkin Abang ada di sini?"


"Tapi, Abang nanti pergi lagi, kan? Sudah lah, Abang pergi saja sana nggak usah lagi temui Adek!"


"Umur Adek sekarang sudah berapa?" tanya Zio.


"Iiih, Abang kan gitu! Orang lagi kesal ngapain nanya umur," Carla merenggut kesal lalu bangkit, duduk di samping ranjang menyilangkan kedua tangan di dada.


Zio pun berdiri. "Udah puas kan nangis nya? Sekarang mandi cepat! Setelah itu kita ke bawah sarapan!"


"Nggak mau!"


Zio mengendus tubuh Carla. "Ha, badan bau begini masa nggak mau mandi," Zio menutup hidung nya, menjauhi Carla.


"Iiih, Abang tuh yang bau," sungut Carla.


"Udah, mandi sana cepat!" suruh Zio.


"Nngak mau! Nanti kalau Adek mandi, Abang pasti pergi lagi,"


"Nggak, Abang di sini saja," ucap Zio.


"Adek nggak percaya!"


"Adek! Mandi sekarang!" perintah Zio tegas.


Carla mengembungkan pipinya, tangan nya masih menyilang di dada dengan bibir yang mengerucut kedepan.


Lalu, Zio mencubit pipi Carla yang terlihat menggemaskan baginya.

__ADS_1


"Abang! Sakit, iiih," rengek Carla manja.


"Mangkanya cepat mandi!" ucap Zio sambil terkekeh.


"Sini-in dulu ponsel Abang," Carla menampung satu tangan nya.


"Lah, buat apa?" tanya Zio heran.


"Buat jaminan, kalau Abang nggak akan pergi saat Adek mandi nanti," jawab Carla, masih menampung satu tangan nya ke depan Zio.


Zio menggelengkan kepalanya. "Ya ampun, Carla!" Zio mengalah, memberikan ponsel nya pada Carla.


"Biarin, week!" Carla menjulur kan lidah nya sambil berjalan ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, ponsel Zio berdering, tertera nama Bunda di layar ponsel nya. Tanpa ragu Carla menjawab sambungan telepon itu.


"Hallo?"


Hening tak ada sahutan.


"Halo, siapa ini?" ulang nya bertanya.


Masih hening, kemudian sambungan telepon di putuskan Carla. Ponsel pun di nonaktifkan nya, karna tidak ingin Zio beralasan pergi setelah menerima panggilan telepon.


* * *


Sore hari, baru lah Zio pulang kemension. Tiba di depan gerbang, ia mematikan mesin sepeda motor nya yang dipinjam pada Deri, lalu ia menyuruh satpam yang berjaga mendorong motor itu masuk ke dalam.


Zio menoleh kiri dan kanan memastikan tidak ada orang yang melihatnya.


"Hayooo! Abang habis dari mana tadi? Kenapa baru pulang?"


Zio bergelinjang kaget mendengar suara saudara kembar nya yang sejak tadi memang sengaja bersembunyi.


Lalu, Zio berlari mendekati saudaranya yang terkekeh melihat reaksi Zio tadi.


Zio membekap mulut Zia yang tertawa nyaring.


"Adek! Kalau bicara itu nggak usah pakai teriak, bisa?" bisik Zio di telinga saudaranya.


Zia mengangguk karna tangan Zio masih membekap mulutnya.


"Jadi cowok kok kagetan," ledek Zia masih terkekeh.


"Orang kaget malah ketawa! Adek senang kalau Abang pingsan?" dengus Zio kesal.


"Iya deh, Adek minta maaf," sesal Zia.


"Ya sudah, Abang mau ke kamar dulu,"


"Abang, tunggu dulu!"

__ADS_1


Zio menghentikan langkah.


"Apa lagi, Dek?"


"Abang dari mana saja, sih? Bunda dan Sarah sejak tadi mengkhawatirkan Abang. Mana ponsel pakai di nonaktifkan segala, suka sekali membuat orang khawatir," sungut Zia.


"Sssst, Dek pelan kan sedikit suaranya," desis Zio sembari menempelkan satu telunjuk nya di bibir.


Kemudian Zio mengambil ponsel nya dalam kantong celana untuk memastikan ucapan Zia, karna seingat nya ia tidak menonaktifkan ponsel. Namun, saat ia periksa, ternyata benar, ponsel nya dalam keadaan nonaktif.


"Dek, sekarang Bunda di mana?" tanya Zio.


"Sekarang Bunda ada di kamar sama Daddy, istri Abang ada di kamar Abang," jawab Zia.


Mendengar jawaban dari saudaranya, Zio segera melangkah.


"Eh, Abang!" panggil Zia.


"Sssst... Dek, suaranya pelankan sedikit!" desis Zio.


Zia berjalan mendekati Zio, menghidu aroma tubuh saudara nya yang berdiri. "Abang tadi sebenarnya dari mana sih?" tanya Zia penuh selidik.


Zio sedikit tersentak mendengar pertanyaan mencurigakan saudaranya. "Heis, anak kecil nggak usah banyak tau. Sana pergi belajar." ucap Zio.


"Enak aja bilang Adek anak kecil. Dasar sok tua," sungut Zia mencebikkan bibir.


"Sudah Abang mau ke atas dulu," Zio hendak pergi.


"Bunda....... Ini Abang Zio sudah pulang," desis Zia.


Zio pun menghentikan langkah nya," Ssstt, Dek, diam lah! Nanti Abang kasih hadiah,"


"Hadiah? Benaran Abang mau kasih Adek hadiah?" tanya Zia meyakinkan. Pasal nya saudara nya itu sering sekali PHP.


"Iya, sekarang Adek diam. Abang mau keatas dulu," ucap Zio mulai mengayunkan langkah.


"Awas saja kalau Abang bohong, Adek bilangin ke Bunda Abang punya cewek diluar," celetuk Zia, menghentikan langkah Zio yang baru berjalan.


Zio kembali berbalik badan, membekap mulut Zia dengan tapak tangan nya.


"Dek, mulut nya bisa di jaga nggak sih! Nanti di dengar Bunda, sangkanya benaran," desis Zio merasa cemas.


"Tuh, kan, benar! Abang tadi nemuin cewek? Padahal tadi Adek hanya asal menebak saja,"


Zio terlihat gelagapan. "Ng-nggak, A-abang tadi dari tempat kawan,"


"Nggak usah bohong sama Adek, bau parfum Abang tu bau cewek. Abang mau menyangkal apa lagi!"


"Adek, nggak usah ngomong ngawur lagi. Abang mau ke atas." Zio segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar nya.


Tiba di dalam kamar, Zio melihat Sarah yang berbaring di ranjang nya. Kemudian Zio berjalan pelan menuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2