Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (51


__ADS_3

Zio kini telah tiba di restoran, tempat dimana Carla menunggunya. Hanya telat beberapa menit saja karna tadi harus menunggu Sarah bersiap-siap.


"Abang......!" teriak Carla kegirangan seraya melambaikan tangan ke arah Zio yang baru datang.


Sarah yang tadinya berjalan di belakang Zio, kini mempercepat langkahnya saat melihat ada wanita lain yang tersenyum pada suaminya. Kedua tangannya dengan sigap memeluk lengan Zio.


"Sarah! Jangan main-main! Kamu lupa dengan perjanjian?" desis Zio disertai gigi gerahamnya yang saling bergelatuk.


"Justru karna Sarah ingat perjanjian itulah, mangkanya Sarah peluk lengan Abang," Sarah menanggapi dengan santai.


"Sarah! Jangan bercanda kamu!"


"Siapa yang bercanda? Kan Abang sendiri yang menulis pengecualiannya, kita boleh bersentuhan dalam keadaan terdesak saat berada di depan orang tua atau pun di depan orang lain! Ini kan termasuk dalam keadaan terdesak, Abang,"


Zio menghela nafas besar, disertai wajahnya yang ikut memerah menahan emosi.


"Jangan macam-macam Sarah! Dia Adik angkat saya, kamu jangan menceritakan apa pun tentang saya padanya nanti!" peringat Zio.


"Hmm, baiklah. Sarah nggak akan mengatakan apa pun! Kecuali mengatakan kalau Abang ini my husband tercinta,"


Lagi, Zio menghela nafas besar, hingga dadanya membusung di penuhi udara. Setelahnya baru lah Zio berjalan mendekati Carla.


Carla yang sejak tadi sudah berdiri dari duduknya, melihat Sarah dengan tatapan tidak suka.


Sarah hanya menanggapi dengan tersenyum sembari mendongak memandang wajah Zio.


"A-Adek, Abang nggak telat kan?" Zio mencoba mencairkan suasana.


"Abang, siapa dia?" Carla menunjuk Sarah yang senyum-senyum sendiri memeluk lengan Zio.


"Adek, ayo duduk dulu. Adek pasti belum pesan makanan, kan? Kita pesan makanan dulu, ya," Zio melambaikan tangan memanggil pelayan.


Carla malah mendekat, berusaha melepaskan tangan Sarah yang memeluk lengan Zio.


"Adek hentikan! Dia istri Abang!"


Carla seketika menghentikan aksinya mendengar suara Zio yang tinggi padanya. Bola matanya pun terlihat berkaca-kaca.


"Abang, jahat!" Carla berlari meninggalkan mereka.


"Adek! Tunggu!"


Panggilan Zio tidak lah di dengarkan oleh Carla, dia tetap berlari keluar dari restoran.


"****!" Zio meraup wajahnya kasar. Lalu, melepaskan tangannya yang di peluk Sarah, setelahnya segera dia berlari keluar mengejar Carla.


"Abang, mau kemana?" teriak Sarah tidaklah membuat langkah Zio berhenti, suaminya itu terus saja berlari keluar menyusul Carla.


"Hah! Adik angkat macam apa itu?" Sejujurnya saat ini Sarah juga terpancing emosi, saat Zio memilih mengejar wanita yang dianggap suaminya sebagai adik angkat.


Sebagai pelampiasan emosi, Sarah memesan banyak makanan pada pelayan restoran. Makan hingga perutnya kenyang meski sesekali mengoceh sendiri.


Hampir dua jam Sarah berada di restoran itu, namun Zio tak kunjung kembali. Mau makan lagi, perutnya sudah tak sanggup menampung. Beberapa kali di cobanya menghubungi nomor ponsel Zio, tapi tidak terhubung karna nomornya masih di blokir.


"Mari saya antar pulang," ucap seorang laki-laki yang telah berdiri di samping Sarah.


Sarah mengernyit, menatap laki-laki yang tampak asing baginya. "Iiih! Kamu kira saya cewek apaan? Asal main ajak pulang saja! Saya ini sudah punya suami, tau! ini lihat!" Sarah mendengus seraya memperlihatkan cincin di jarinya.


"Nama saya Muklis, saya di suruh Rain untuk mengantarkan anda pulang," ucap laki-laki itu.


"Siapa Rain? Saya tidak kenal! Mending sekarang kamu pergi atau saya teriak!" ancam Sarah.


"I-itu yang datang bersama anda tadi. Dia bos saya," terang Muklis merasa takut jika benar-benar istri bosnya ini berteriak.

__ADS_1


"Namanya bukan Rain! Tapi Zio Alfahrizi! Jangan sok tau kamu!"


"Ya, terserah anda. Tapi yang jelas saya di suruhnya untuk mengantarkan anda pulang,"


"Saya nggak percaya! Jangan-jangan ini modus kamu ingin menculik saya, iya kan?" Sarah menunjuk wajah Muklis.


"Bu-bukan. Sa-saya benaran di suruh Rain, eh di suruh Zio untuk mengantarkan anda pulang," terang Muklis terbata.


"Kalau begitu coba kamu telepon Bang Zio sekarang!"


"Anda saja yang menghubunginya," tolak Muklis.


Mata Sarah membola. Dari tadi dirinya juga sudah menghubungi suaminya. Tapi tak pernah terhubung karna nomornya di blokir.


"Kamu jangan main-main sama saya, ya! Saya teriak sekarang nih!" ancam Sarah.


"Jangan! Baik saya akan coba menghubungi Rain," Muklis segera mengeluarkan ponselnya mencari nomor kontak Rain dan lansung menekan tombol panggil.


"Halo Rain, ini dia tidak mau pulang dengan saya,"


Sarah mengernyit mendengar Muklis bicara dengan benda pipih yang di dekatkannya ke telinga.


"Ini, Rain ingin bicara dengan anda," Muklis memberikan ponselnya pada Sarah.


Sarah mengambil ponsel itu lalu mendekatkan ke telinganya.


"Halo," ucap Sarah ragu-ragu.


"Sarah, kamu pulanglah dengan Muklis,"


"Ini siapa?" tanya Sarah pura-pura tidak tau. Padahal, dia sudah tau yang bicara dengannya saat ini adalah suaminya.


"Sarah, jangan main-main!"


Sesaat Sarah tak mendengar suara Zio.


"Sarah Zulfarida Khasanah! Ini Abang, suamimu!" ucapan Zio terdengar tegas di setiap kalimat.


"Ooo," Sarah pura-pura baru percaya, "Abang dimana sekarang? Kenapa tinggalin Sarah di sini?"


"A-Abang sedang bersama Carla," suara Zio terdengar gugup.


"Hmm, pantas lupa dengan istri ya. Taunya lagi berduan dengan adik angkat tersayang," ucap Sarah sinis.


"Sarah, tolong mengerti! Pulanglah dengan Muklis sekarang,"


"Nggak! Sarah datang kesini dengan Abang jadinya Sarah hanya akan pulang dengan Abang juga,"


"Sarah!"


"Sarah akan menunggu Abang selama tiga puluh menit lagi. Kalau Abang nggak datang," Sarah menjeda kalimatnya cukup lama, "Sarah akan minta Bunda untuk menjemput Sarah kesini,"


"Sarah!"


"Waktu Abang sudah berkurang satu menit, tersisa dua puluh sembilan menit lagi,"


Tuuut...


Sambungan telepon pun terputus. Sarah tersenyum puas, lalu memberikan ponsel itu pada Muklis.  "Ini ponsel kamu,"


"Sudah, kamu pergi sana! Suami saya sebentar lagi akan datang," ucap Sarah mengusir Muklis.


"Baiklah," Muklis pergi menjauh, namun masih berada di sekitar restoran itu menungggu hingga Zio datang.

__ADS_1


Kurang tiga puluh menit Sarah mendengar derap langkah sepatu mendekat.


Dengan nafas tersengal Zio sudah berada di depannya.


Sarah tersenyum sembari melihat jam di ponsel. "Beruntung Abang datang, kalau nggak...?"


"Sudah cepat pulang!" sentak Zio yang lansung menghentakkan kakinya pergi.


"Abang, tunggu! Ini makanannya belum di bayar," Sarah bangkit dari duduk berlari mendekati Zio.


"Bayar saja sendiri!" Zio berkata tanpa menghentikan langkahnya.


* * *


Sepanjang jalan, hingga tiba di rumah. Zio mendiamkan Sarah. Namun, Sarah tetap saja mengajaknya mengobrol, meski Zio tak meresponnya sama sekali.


"Abang, ayo kita tidur," Sarah berkata sambil meliuk-liukkan tubuh di depan Zio, sengaja menggodanya.


Zio yang duduk di sofa hanya mendelik, menatap Sarah tajam.


"Hhhm, Sarah tau. Pasti Abang mau Sarah bujuk, kan!" godanya tanpa ada rasa takut melihat wajah bengis Zio.


Zio tak merespon sedikitpun. Matanya hanya fokus menatap gawai di tangannya.


"Oke, sekarang coba Abang katakan. Apa yang Abang rasakan sekarang ini?"


Zio mengangkat wajah, menatap Sarah. "Gara-gara kau Carla tadi marah!"


"Apa? Apa? Abang bilang apa tadi? Sarah nggak dengar?" Sarah mengeluarkan ponselnya.


"Oke Oke. Sarah," Zio meralat ucapannya.


"Sarah harap, ini terakhir kali Abang menggunakan kata itu,"


Zio menghela nafas. "Semua ini gara-gara kamu!"


Sarah mengernyit. "Lah, kenapa Abang malah menyalahkan Sarah? Abang tadi menyuruh Sarah diam saja, kan? Sarah turuti nggak?"


"Salah kamu itu kenapa kamu menikah dengan saya!" Zio semakin meradang.


"Abang ini semakin aneh deh! Seingat Sarah waktu itu, Abanglah yang mengajak Sarah menikah. Kenapa malah sekarang menyalahkan Sarah?"


"Yang menjadi masalah sekarang! Sampai kapan saya akan melihat wajah mu terus? Saya bosan! Dua puluh empat jam, makan tidur denganmu saja! Saya juga perlu keluar menemui kawan-kawan saya. Saya juga perlu bekerja! Saya perlu kebebasan!"


"Sejak kapan Sarah melarang Abang?"


"Itu, yang kamu tanya-tanya saya mau kemana, apa? Baru saja mau bergerak, sudah sibuk sendiri!" Zio mendengus.


"Abang, Sarah ini istri Abang. Sarah rasa nggak ada salahnya Sarah tau kemana Abang pergi. Sebab, nanti kalau ada yang menanyakan Abang, Sarah punya jawabannya?"


Tak ingin berdebat lagi. Zio bangkit dari duduk, berjalan menaiki tangga.


"Abang mau kemana?"


"Sarah! Stop! Berhentilah menanyakan pertanyaan konyol itu!" sentak Zio yang berdiri diatas tangga.


"Arghhh," Sarah mengaum seperti seekor Harimau yang hendak menerkam mangsa, sambil memperagakan cakarnya.


"Makin Abang galak! Makin membuat Sarah ingin menggigit Abang," Sarah berjalan mendekati Zio.


Zio yang merasa geli, segera berlari masuk kedalam kamarnya.


"Abang, kali ini Sarah akan mencabik-cabik daging Abang. Bersiaplah!

__ADS_1


"Auuuuuuch," Lolongan panjang keluar dari mulut Sarah, membuat langkah Zio semakin terbirit-birit menaiki tangga.


__ADS_2