Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Malam pertama


__ADS_3

Satu jam setelah mengucapkan ijab qabul. Zio terlihat gelisah, pasal nya dirinya akan menemui Muklis malam ini. Sedangkan di rumah Santi orang orang masih ramai. Keluarga nya pun masih bercengkrama akrab dengan keluarga Santi, serta para tamu yang hadir.


Sarah yang duduk bersanding di sebelah Zio, menangkap kegelisahan pada diri suami nya.


"Abang, Abang kenapa?" Bisik Sarah bertanya.


Zio tak menjawab bahkan tak ada respon dari pemuda berwajah dingin itu. Sesekali diri nya hanya melihat jam di pergelangan tangan.


Beberapa tetangga yang di undang Santi telah berpamitan pulang setelah bersalaman dengan kedua pengantin baru yang duduk bersanding di sofa panjang.


"Bunda, Mama, ayo kita foto bareng dulu," seru Zia penuh semangat.


"Ide bagus tuh, ayo San, Mas, Abang Raka, kita foto dulu." Salsa menanggapi mengajak semua keluarganya.


Zio mendesah lemah, melihat kedua keluarga nya mendekat.


Kini kedua keluarga itu sudah berbaris rapi sejajar dengan Zio dan Sarah. Zia berdiri di tengah-tengah, merangkul bahu Abang dan Kakak Iparnya. Sedangkan Saka berjongkok di depan pasangan yang baru saja menjadi pasangan halal.


"Lah, siapa yang megang kamera nya kalau kita berdiri di sini semua?" Zia berkicau.


"Minta tolong Abang Jefri saja," Salsa menjawab.


"Biar saya yang memanggil nya," Raka menawarkan diri memanggil Jefri keluar.


"Harus nya tadi kita bawa fotografer, Bun. Biar puas foto foto nya," ucap Zia.


"Masih sempat kok, bagaimana kalau kita panggil saja fotografer nya sekarang?" Salsa mengusulkan.


"Nggak usah Bun, ini sudah malam-" Zio menolak.


"Cie, cie... Ada yang lagi pengen-"


Seketika Zio membekap mulut murai Zia yang berceloteh.


"Daddy, tolong," Zia berucap dengan suara yang tidak jelas, karna tangan Zio masih menutup mulut nya.


"Abang.." Istri Zidan berseru.


Zio kemudian melepaskan tangan nya.


"Kok Abang Marah sih," Zia mendengus kesal.


Wajah Zio seketika merona.


"Habis, mulut Adek itu, tadi Abang ingin mengatakan ini sudah malam, Abang capek, ingin cepat istrahat."


"Ingin cepat istrahat kah, atau ingin?" Zia tak henti menggoda saudara kembar nya itu.


"Adek apaan sih!"


Semua yang ada di sana terkekeh melihat wajah Zio yang merona.


Tidak lama Raka kembali masuk kedalam rumah, di susul Jefri di belakang nya. Raka bergabung di barisan, berdiri di sebelah Santi.


"Satu. Dua. Tiga," Jefri memberikan aba-aba membidikkan kamera di tangan nya.

__ADS_1


Setelah puas ber foto-foto. Zidan beserta keluarganya berpamitan pulang ke mension.


"Abang, malam ini Abang nginap di sini ya." Ucap Salsa setelah memberi ucapan selamat pada Sarah.


"Lho, kok Abang tinggal di sini Bun?" Zia protes, seperti tak rela saja saudara nya tidur di rumah Santi.


"Adek, kan Abang sudah menjadi istri Sarah, ya Abang harus tinggal di sini dulu lah," Salsa memberikan pengertian.


"Kenapa nggak tinggal di rumah kita saja Bun, kan rumah kita lebih besar,"


"Hanya malam ini saja, besok Abang dan Sarah akan tinggal di rumah kita lagi,"


"Sudah, Adek pulang sana!" Zio menimpali, diri nya ingin keluarga nya segera  pulang.


"Adek boleh tidur di sini nggak Bun? Mama Santi, Zia boleh tidur di sini ngga?" Zia bertanya dengan wajah memelas.


"Zia mau tidur dimana? Disini nggak ada kamar kosong. tidur di luar, mau?" jawab Santi.


"Ya, tidur sama Sarah lah Ma, seperti biasa," Zia terus saja ngotot.


"Sudah pulang sana," Zio menarik tangan saudara kembarnya masuk kedalam mobil.


"Nggak mau, Adek mau tidur di sini. Bunda, Daddy, tolong.. " Zia meronta, merengek meminta pertolongan ke dua orang tua nya.


.


.


.


"Abang, Abang ngapain diluar? Ayo masuk," Sarah yang berdiri tidak jauh dari nya mengulurkan tangan menggoda nya.


Zio tersentak, kedua matanya membola saat melihat Sarah yang menggunakan kimono berbahan satin.


"Abang," Sarah mendesah memanggil nya.


Susah payah pemuda berwajah dingin itu meneguk saliva nya.


"Ka-kamu tidur duluan saja," ucap Zio terbata.


"Eh, mana boleh seperti itu, kita kan pengantin baru masa aku harus tidur sendiri," Sarah berjalan mendekat dan mengambil posisi duduk di sebelah suaminya.


"Ka-kamu mau apa?" Tubuh Zio menegang kala telapak tangan Sarah berada di atas pahanya, serta memberi usapan sekilas.


"Abang," Sarah semakin berani mendekatkan tubuh nya.


"Uhuk.. Uhuk...." Suara seseorang yang batuk dari ruang tengah membuat Sarah menjauhi tubuh suaminya.


"Kamu tidur lah duluan," Zio mengalihkan pandangan nya pada layar ponsel.


"Baik lah, Abang cepat masuk kamar ya." Sarah pun bangkit lalu mengedip kan satu matanya sebelum masuk kedalam kamar.


'Uhf... Bisa mati aku, kalau dia menggoda ku seperti imi terus,'


Jam sudah menunjukkan pukul 23.30. Zio melihat keadaan rumah Santi sudah mulai sepi, mungkin istri nya saat ini juga sudah tidur di dalam kamar. Perlahan Zio bangkit dari duduk nya. Melangkah mengendap-endap keluar rumah.

__ADS_1


Zio memilih berjalan kaki, hingga ke pertigaan jalan. Di sana ada pos pangkalan ojek. Lansung saja dirinya meminta salah satu tukang ojek mengantarkan nya ke tempat Muklis yang masih menunggunya.


30 menit berselang, Zio sudah sampai di tempat yang dia tuju. Di sana ada Muklis dan dua orang anak buah nya yang lain.


"Dimana mobil nya?" tanya Zio pada Muklis yang sejak tadi menunggunya.


"Di sana Rain," Muklis menunjuk sebuah rumah mewah.


"Kau yakin?" Zio meyakin kan.


"Kalau dari warna dan jenis mobil nya saya yakin Rain, tapi plat nomor nya berbeda,"


"Lihat ini," Muklis mengeluarkan ponsel nya. Memperlihatkan foto yang telah diambil nya tadi.


Zio memperhatikan foto di ponsel Muklis, lalu menatap rumah mewah dengan pagar tinggi di depannya.


"Mana perlengkapan ku,"


Muklis pergi ke mobil mengambil apa yang di minta Zio.


"Ini Rain," Muklis memberikan apa yang di minta Zio tadi. Sarung tangan, penutup wajah, serta satu unit senjata api yang sudah di lengkapi peredam.


"kalian tunggulah disini," tanpa membuang waktu, Zio menggunakan penutup wajah yang di mintanya ke Muklis.


"Saya ikut Rain," Muklis menawarkan diri.


Zio tidak mengiyakan tidak juga melarang, pria berwajah dingin itu mulai melangkah kan kaki nya menuju bangunan mewah di depan.


Kedua bola mata Zio memperhatikan sekitar,kemudian dengan gerakan kilat, Zio memanjat pagar samping bangunan rumah mewah itu. Sedangkan diluar, Muklis masih saja berusaha memanjat pagar itu.


Melihat seorang petugas keamanan berjaga, Zio lalu mengambil kerikil, kemudian melempar nya untuk mengalihkan perhatian satpam yang berjaga.


Zio mengendap, keluar dari tempat persembunyian nya, melumpuhkan satpam yang berjaga.


Kemudian pandangan nya mengitari ke sekitar. Melihat CCTV yang terpasang Zio pun menembak CCTV itu dengan pistol yang sudah di lengkapi peredam


"Muklis... Muklis...." Zio mendesah, memanggil orang kepercayaan nya.


Muklis yang baru saja datang bergegas mendekati Zio.


"Kau, sungguh merepotkan sekali Muklis," Zio berdecak kesal.


"Maafkan saya Rain,"


"Sudah lah, sekarang buka pintu rumah itu," Zio memberikan kunci yang diambil nya dari petugas keamanan tadi.


Muklis pun melakukan perintah Zio, membuka pintu rumah mewah itu.


Pintu terbuka, Zio dan Muklis segara masuk ke dalam rumah asing itu.


Baru saja mereka masuk ke dalam rumah itu Ke duanya saling pandang ketika melihat sebuah bingkai foto keluarga yang terpajang di ruangan itu.


"Tidak mungkin, tidak mungkin dia," Zio bergumam, menyangkal.


"Rain," Sapa seorang yang menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Ternyata kau...?"


__ADS_2