Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Siapa pelakunya?


__ADS_3

Ini kan nomor om Raka.' batin Zio ketika melihat nomor yang tertera di layar ponsel orang yang di tembaknya tadi. Seakan tak percaya Zio mengambil ponsel nya dalam saku, mencocok kan dengan nomor yang ada di kontak ponsel nya.


Zio menyeringai, lalu memasukkan kedua ponsel itu kedalam saku celana nya.


"Bereskan tempat ini dan bawa mayat orang itu ke markas. Jadikan santapan buaya," perintah Zio melangkah meninggalkan lokasi.


.


.


.


"Kau tidak apa-apa Deri?" Zio melihat deri yang masih menunduk ketakutan di bangku kemudi.


"Tu-tuan," Deri menegak kan tubuh nya mengedarkan pandangan, melihat Zio dan para anak buah nya sudah berada di dekat mobil.


"Muklis, suruh anak buah kau membantu Deri mengganti ban mobil ku.


Dan kau Deri, setelah mengganti ban mobil mereka akan mengantarkan kau ke tempatku." ucap Zio lalu masuk kedalam mobil yang di bawa Muklis.


Muklis memerintahkan satu orang anak buah nya membantu Deri mengganti ban mobil, kemudian mengikuti Zio yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Sedangkan anak buah nya yang lain naik ke mobil yang lain.


"Kita kemana Rain?" tanya Muklis yang sudah duduk di bangku kemudi.


"Ke markas," jawab Zio datar.


Muklis lalu melajukan mobil nya menuju markas.


"Apa kah penghianat itu masih hidup?" tanya Zio yang duduk di sebelah Muklis.


"Masih Rain, " jawab Muklis.


"Bagus lah,"


"Owya! Muklis, nanti kau pasang CCTV di rumah adik ku." ucap Zio sembari meraih ponsel di saku nya yang bergetar.


"Ya Dek?" ucap Zio ketika sambungan telepon nya sudah terhubung.


"Abang kemana? Baru datang udah pergi lagi," gerutu Carla di sebrang telepon.


"Hmmm... Abang ada pekerjaan penting Dek. Besok Abang kesana lagi ya," ucap Zio.


"Abang nggak sayang lagi sama Adek," lirih Carla lalu memutuskan sambungan telepon nya.


Zio menghembuskan nafas besar.


'Maafkan Abang Dek.' batin Zio dalam hati.


.


.


.


.


Tiba di markas, Zio turun dari mobil melangkah memasuki bungunan kokoh yang memiliki dua lantai, di ikuti Muklis di belakang nya.


"Muklis kumpulkan mereka semua," titah Zio.


"Baik Rain," Muklis berlari masuk kedalam bangunan itu memotong langkah Zio.


Tidak butuh waktu lama, semua penghuni bangunan itu sudah berkumpul di sebuah ruangan.


Zio berdiri di depan para anak buah nya, menatap mereka dengan tatapan dingin.

__ADS_1


"Apa ada diantara kalian yang tidak suka dengan ku?" suara Zio terdengar lantang. Namun, semua anak buah nya hanya diam.


"Kurang baik apa aku selama ini, di sini kalian bebas melakukan apa saja. Aku juga memberi kalian makan, uang, pakaian. Tapi kenapa diantara kalian masih ingin menghianati ku? Apa kurang uang yang ku berikan pada kalian?" Zio menjeda ucapan nya, melihat expresi para anak buahnya.


"Sekarang katakan! Apa yang kalian inginkan?" lagi, Zio menjeda kalimat nya, menunggu respon anak buah nya.


"Mulai sekarang aku akan mendisiplin kan kalian. Mungkin karna jarang nya aku datang ke sini membuat kalian meragukan ku,"


"Jika kalian ingin meninggalkan tempat ini silahkan, aku tidak akan melarang dan akan ku jamin keselamatan kalian keluar dari tempat ini,"


Kemudian Zio melangkah ke ruang tahanan.


Zio membuka Jas serta kemejanya terlebih dulu sebelum masuk ke ruang tahanan tempat anak buah nya yang berkhianat.


Tempat yang remang remang membuat Zio tidak dapat melihat jelas wajah anak buah nya yang duduk dengan posisi tangan dan kaki terikat.


"Siapa nama kau?" tanya Zio dingin.


"Ro-Roni Bos," jawab penghianat itu terbata.


"Ampuni saya Bos, sungguh saya menyesal," imbuh nya.


"Aku hanya akan bertanya sekali saja. Jika kau bisa berkata jujur, aku akan mengampuni kau," ucap Zio.


"Saya akan mengatakan semuanya Bos," balas Roni cepat.


"Bagus, sekarang katakan siapa yang menyuruh kau?" tanya Zio.


"Ma-maafkan saya Bos, saya tidak mengenali orang nya, saat itu diia menggunakan penutup wajah dan kaca mata hitam," jawab Roni gugup.


Zio menyipit kan matanya.


"Lalu, apa yang dia ingin kan?" tanya Zio lagi.


"Dia hanya meminta saya mengambil foto kegiatan yang Bos lakukan di markas ini. Hanya itu saja Bos," jawab Roni.


"Ampuni saya Bos. Saya menyesal," lirih Roni memohon.


Zio mengambil ponsel di saku celana nya yang bergetar.


"Ya, Bun." ucap Zio ketika sambungan telepon nya terhubung.


"Abang dimana sekarang?" tanya Salsa dari seberang telepon.


"Hem..... Lagi di tempat teman Bun?" jawab Zio.


"Abang pulang sekarang ya, ada yang ingin Bunda tanyakan."


"Iya, Bun,"


"Ya sudah Bunda tunggu, hati hati dijalan,"


Setelah itu sambungan terputus. Zio kembali menggunakan pakaian nya lalu pergi.


.


.


.


Di mension, Salsa begitu senang ketika mendengar cerita Sarah jika Zio tadi siang mengajak nya menikah.


Kini ia tengah sibuk di dapur bersama para pelayan, mempersiapkan menu makan malam.


Ya, malam ini ia mengundang keluarga sahabat nya, sekalian calon besan nya makan malam di rumah nya.

__ADS_1


Bukan sekedar makan malam biasa, tepat nya malam ini kedua keluarga itu akan membicarakan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan putra putri mereka.


***


Satu jam kemudian Zio sudah tiba di mension.


"Abang," panggil Salsa yang baru keluar dari dapur.


Zio yang hendak menaiki tangga menghentikan langkah nya. Ia menoleh melihat senyum bahagia terpatri di wajah wanita yang rela mempertaruhkan nyawa demi melahirkannya.


"Ya, Bun," sahut Zio, berbalik langkah mendekati Salsa, lalu mencium takzim punggung tangan nya.


"Bunda senang sekali, akhirnya Abang mau membuka hati untuk Sarah,"


Zio tersenyum kikuk. Ia tidak menyangka jika Sarah akan menceritakan nya secepat itu.


"Eh, tapi kata Sarah tadi dia memberikan kucing nya satu pada Abang. Mana kucing itu?" Salsa menatap lekat sang putra.


"Hmmm... Anu Bun. Kucing nya lepas,"


"Lepas? Bagaimana bisa lepas?" tanya Salsa tidak percaya.


"Iya Bun, tadi Abang lupa menutup pintu mobil,"


"Bunda nggak mau tau. Sekarang Abang beli lagi kucing yang sama dengan yang dikasih Sarah tadi," ucap Salsa tegas.


"Iya Bun, Abang beli sekarang," ucap Zio patuh lalu melangkah keluar mension.


"Abang," panggil Salsa.


Zio menghentikan langkah nya, menoleh pada sang Bunda.


"Jangan lama lama, hari ini Bunda mengundang keluarga Sarah untuk makan malam,"


"Iya Bun," ucap Zio kembali melanjutkan langkah.


.


.


.


.


Di perjalanan, ponsel Zio bergetar, setelah melihat nama Mulkis yang tertera di layar Zio segera menggeser panah hijau.


"Ya ada apa Muklis?" tanya Zio.


"Rain-"


Suara Muklis terdengar ketakutan.


"Ada apa Muklis? katakan lah,"


"Rain, Adik mu,"


Lagi, muklis tidak melanjutkan ucapan nya.


"Katakan lah Muklis brengsek!" umpat Zio penuh amarah.


"Adikmu menghilang, Rain,"


"Dua orang pengawal dan Ommu meninggal,"


Deg

__ADS_1


Ponsel Zio terlepas dari tangan nya.


Ada gemuruh hebat di dadanya ketika mendengar ucapan Muklis barusan.


__ADS_2