
Pagi-pagi sekali, Sarah sudah bangun, menyiapkan sarapan untuk suami tercintanya.
Hari ini adalah hari pertama mereka melakukan aktivitas. Zio akan mulai kembali beraktivitas di kantor begitu pun Sarah mulai kembali masuk sekolah.
Sarapan telah selesai ia masak, kini telah di hidangkannya diatas meja.
Setelahnya Sarah kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya yang tadi saat ia kebawah masih tidur.
"Abang sayang, bangun! Ini sudah pagi! Kita mandi sama-sama setelah itu sarapan," senandungnya di telinga Zio.
Zio seketika bergelinjang kaget, duduk diatas ranjang sambil mengusap telinganya yang habis di tiap Sarah.
Sarah terkekeh kecil. "Abang, kaget ya? Biasanya orang yang suka kagetan itu sayang istri lho," ujarnya membuat mata Zio semakin mendelik.
"Udah, jangan bengong lagi. Ayo kita mandi," ajaknya tanpa memperdulikan wajah bengis Zio yang masih menatapnya.
"Abang, ayo! Nanti Abang telat ke kantor loh?"
"Sarah! Kalau kamu mau mandi, mandi saja sendiri!" Zio mendengus kesal.
Sarah yang sudah berjalan ke kamar mandi menghentikan langkahnya. "Abang, ini syarat kedua Sarah yang wajib Abang lakukan. Jadi mulai sekarang, setiap hari kita wajib mandi sama-sama,"
"Persetan dengan syarat kau itu!" Zio semakin meradang.
"Apa? Coba ulang lagi? Abang bicara apa tadi? Sarah nggak dengar," Sarah berjalan mendekat.
Zio meringis, mengacak rambutnya dengan kasar. "Sarah, kamu jangan membuat aturan seenakmu saja,"
"Nggak, Sarah nggak membuat aturan seenak Sarah. Sarah hanya ingin kita menjalani apa yang seharusnya kita lakukan. Kalau Abang nggak mau melakukan syarat yang Sarah berikan. Perjanjian yang Abang buat itu Sarah anggap batal. Jadi Sarah akan bebas menyentuh Abang,"
Zio semakin kebingungan sendiri. Menolak syarat yang di berikan istrinya sama saja membiarkan peluang bagi Sarah menyentuhnya. Bagaimana jika malam hari dirinya di perkosa? Melihat sifat agresif Sarah, tentu itu tidak mustahil.
Zio meraup wajahnya kasar. "Oke, fine!" ucapnya kemudian.
Sarah mengernyit, "Fine apa?"
"Ya, kita mandi sama, tapi kamu jangan mandikan saya lagi," Zio berkata pelan disertai wajah yang merona.
"Hmm, ayo tunggu apa lagi," ajak Sarah sembari berjalan ke kamar mandi.
Sungguh saat ini Zio merasa takut. Takut tidak bisa menahan hasratnya. Berdua di dalam kamar mandi, melihat tubuh Sarah yang bagus, tentu membuat libidonya naik. Apalagi tubuh Sarah begitu indah, bersih tanpa celah.
Dari dulu Zio selalu menjaga semua itu, menjaga kelelakiannya hanya untuk wanita yang ia cintai. Status Sarah memang istrinya, tapi bukan wanita yang ia cintai.
Sejujurnya Zio pun tak tau apa itu arti cinta. Karna selama ini dirinya selalu membentengi diri dengan sifatnya yang dingin pada wanita yang akan mendekatinya.
__ADS_1
Ada pun wanita yang dekat dengannya hanyalah anggota keluarganya sendiri serta Carla, adik angkat yang begitu ia sayangi.
"Abang, ayo! Sarah juga mau sekolah nih,"
Zio lalu bangkit dari ranjang, berjalan pelan mendekati Sarah.
Selama berada di dalam kamar mandi, Zio hanya berdiri menghadap tembok, membelakangi Sarah yang sedang mandi.
Saat ini Sarah tak ingin menggoda suaminya seperti yang pernah ia lakukan di rumah Mamanya, Ia hanya mandi saja, sambil sesekali melihat punggung Zio yang masih berdiri menghadap tembok.
Selesai mandi Sarah menggunakan handuk berbentuk kimono. "Abang mandi lah, Sarah sudah selesai,"
"Kamu sudah menggunakan handuk belum?" tanya Zio.
"Udah,"
Perlahan Zio berbalik badan, ternyata benar istrinya sudah terlihat segar dengan balutan handuk kimono.
Zio menatap lekat istrinya yang masih saja berdiri. "Sarah, kamu sudah selesai mandi, kan?"
"Udah, tapi kalau Abang ingin Sarah mandi lagi, Sarah mau kok,"
"Sarah! Jangan bercanda!"
"Iya, Abang mandilah, Sarah hanya liatin aja kok," ucapnya dengan santai.
"Abang mandi saja, Sarah nggak ngapa-ngapain, kok,"
"Sarah, saya tadi tidak ada melihat kamu mandi. Jadi sekarang tolong keluarlah," Zio masih kekeh menyuruh istrinya keluar.
"Memangnya, tadi Sarah melarang Abang melihat Sarah mandi? Nggak kan? Jadi Abang yang rugi lah,"
Zio menghela nafas dalam. Tak ingin lagi berdebat, berdebat pun di rasanya percuma, karna istrinya itu terlalu ngeyel. Zio akhirnya mengguyur tubuhnya dengan air shower tanpa melepaskan sehalai pun piyama yang di gunakannya. Setelah menggosok gigi serta menggunakan shampoo, Zio menyudahi mandinya.
Setelah rapi dengan pakaian masing-masing. Pasutri itu keluar dari kamar, turun kebawah.
"Abang, ayo kita sarapan dulu," Sarah mengajak Zio kemeja makan yang telah terhidang masakan yang dimasak nya setelah subuh tadi.
"Sarah, saya belum lapar, nanti saya sarapan di kantor saja," tolak Zio yang terus berjalan.
"Abang mau? Sarah jadikan sarapan pagi, sebagai syarat ke tiga yang wajib Abang lakukan!"
"Sarah, cukup! Jangan main-main," dengus Zio.
"Abang, lihat wajah Sarah. Ada terlihat main-main, nggak?" Sarah bertanya dengan wajah serius.
__ADS_1
"Sudah, sini sarapan!" Sarah menarik satu kursi yang mengitari meja makan untuk suaminya duduk.
Zio menghela nafas dalam. Pikirnya, dengan menikahi Sarah, ia bisa mendapatkan kebebasan dari kekangan keluarga, ternyata itu salah besar. Sarah yang di sangkanya gadis penurut, yang mau saja melakukan apa yang di perintahkannya kini menjelma menjadi wanita paling cerewet yang pernah ia kenal. Aturan yang dibuatnya melebihi aturan yang pernah bundanya berikan.
Biasanya pagi-pagi begini, jika Zio tak ingin sarapan, bundanya tidaklah begitu memaksa. Palingan akan menyuruhnya membawa kotak bekal untuk ia makan nantinya di kantor.
"Abang, ngapain masih berdiri di sana? Sini duduk,"
Suara Sarah membuyarkan pikiran Zio yang sedang berkecamuk.
Zio mendengkus kesal, lalu duduk di kursi yang di tarik Sarah. "Makan pun pakai di paksa!"
Sarah hanya tersenyum, mendengar ocehan suaminya sambil menyendokkan makanan ke piring.
"Sudah, cukup! Saya tidak biasa makan banyak," dengus Zio masih kesal.
"Pantas Abang kurus, makan sedikit," Sarah mencibirnya.
Seketika Zio melihat pangkal lengannya yang sudah menggunakan jas.
Sarah memberikan piring yang sudah ia isi makanan ke Zio, kemudian ia duduk di kursi di sebelah suaminya.
Zio melirik istrinya yang hanya duduk, memperhatikannya yang sedang makan.
"Kamu kenapa tidak sarapan?" tanyanya ketus.
"Ini, kan Sarah sedang sarapan,"
Zio mengernyit, sarapan apa? Yang ada istrinya itu hanya duduk diam memperhatikannya.
"Abang, nanti pulang dari kantor lansung pulang ya. Sarah takut kalau malam tinggal sendiri,"
Zio tidak menjawab, dirinya seperti tidak memperdulikan ucapan istri ngeyelnya itu.
Selesai sarapan, Zio terlebih dulu mengantarkan Sarah ke sekolahnya. "Abang, minta uang buat jajan," Sarah menampungkan satu tangannya pada Zio setelah sampai di depan gerbang sekolah.
Zio mendengus sambil mengambil dompet, memberikan sepuluh lembar pecahan seratus ribuan pada Sarah. "Satu aja cukup," Sarah hanya mengambil selembar uang yang di berikan suaminya.
"Apa lagi, keluar lah!" dengus Zio.
"Salim, belum,"
"Merepotkan sekali," Zio mengulurkan tangannya yang lansung di sambut Sarah, lalu diciumnya dengan takhzim.
"Abang nggak mau cium kening Sarah?" Sarah menyodorkan keningnya pada Zio.
__ADS_1
"Sarah! Turun sekarang!"
"Iya iya. Galak-galak Sarah gigit baru tau,"