Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (67)


__ADS_3

"Selamat siang, Om," ucap seorang pemuda yang telah bangkit dari duduk.


"Ya, selamat siang," sahut Raka menatap heran pemuda yang tak di kenalinya itu.


"Oh ya, Om. Kenalkan nama saya Andri," Pemuda itu mengulurkan tangan mengajak berkenalan.


"Ya, ada apa?" sahut Raka, tanpa menyambut uluran tangan pemuda di depannya.


Andri menarik tangannya kembali, sambil mengulas senyum canggung. "Bisa kita bicara sebentar, Om," ucapnya kemudian.


"Saya sibuk, dan akan kembali melanjutkan pekerjaan," Raka berbalik badan hendak kembali ke ruang kerjanya.


"Tunggu Om, ini tentang menantu Om,"


Raka menghentikan langkah ketika mendengar nama menantunya di sebut, kemudian ia kembali berbalik badan menghadap Andri. "Apa yang ingin kamu bicarakan tentang menantuku?" tanya Raka sembari berjalan mendekati Andri.


"Bisa kita duduk dulu, Om, biar mengobrolnya bisa santai,"


Raka menggerakkan bola mata, lalu melangkah ke sofa yang tak jauh di dekatnya.


"Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan?" Raka melihat arloji di pergelangan tangannya setelah duduk.


Andri mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan pada  Raka.


"Apa ini?" Raka mengernyit.


"Om lihat saja sendiri,"


Kemudian Raka mengeluarkan isi di dalam amplop tersebut, di sana terdapat beberapa foto Zio yang lengannya sedang di gandeng Carla.


Foto-foto itu diambil Andri waktu Zio berkunjung ke rumahnya beberapa hari yang lalu.


"Mohon maaf Om, saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan menantu Om, tapi saya hanya kasihan dengan keadaan putri Om. Bagaimana perasaannya nanti jika mengetahui suaminya bersama wanita lain. Karna yang saya lihat, putri Om begitu mencintainya. Apalagi dengan kondisi putri Om yang saat ini-"


Andri tak melanjutkan kata-katanya karna Raka memotong ucapannya.


"Apa yang kau inginkan? Kau menginginkan uang?" tanya Raka sinis.


Andri tertawa kecil. "Om, Om, sebegitu pentingkah uang bagi Om, hingga mengabaikan kebahagiaan Putri Om sendiri? Jika saya menginginkan uang tidak mungkin saya menemui Om dan menunjukkan foto-foto itu, lebih baik saya menyampaikan sendiri pada besan Om,"


Raka menatap tajam pemuda yang duduk di hadapannya. Ucapan Andri seperti tamparan baginya, ia sebenarnya memang mengetahui wanita yang bersama Zio. Wanita yang sama ia jumpai waktu di rumah tuan Daniel. Namun, dia belum menyelidiki siapa wanita itu.


"Apa Om tau, bagaimana menantu Om memperlakukan Putri Om selama ini?" lanjut Andri lagi.

__ADS_1


Raka hanya diam, memikirkan apa yang di katakan Andri barusan.


"Kalau begitu saya permisi dulu Om. Saya minta maaf karna sudah mengganggu waktu Om. Dan sekali lagi saya tidak bermaksud apa-apa? Hanya saya menyayangkan saja, jika Om menutup mata setelah mengetahui semua ini,"


Andri bangkit berdiri kemudian berlalu pergi.


Sementara Raka, masih terpaku di tempatnya.


*


Di tempat yang berbeda.


Sudah 10 menit Zio menunggu Sarah di depan gerbang sekolah. Pria itu mulai bosan sedari tadi hanya duduk di dalam mobil


Beberapa menit berselang bel panjang terdengar menggema, tak lama setelahnya senyumnya merekah, melihat Sarah berjalan mendekat ke mobilnya.


"Abang," sapa manja Sarah sembari menghempaskan bokongnya di sebelah Zio, lalu meraih tangan pria itu dan menciumnya.


"Abang kita ke pasar dulu ya. Sarah mau belanja bahan-bahan untuk masakan hari ini,"


"Kenapa harus di pasar? Kenapa tidak di supermarket saja? Di pasarkan bau dan kotor!" protes Zio.


Sarah tersenyum. "Abang, di pasar itu bahan-bahan makananya lebih segar dan lebih murah. Lagipula, semua yang di jual di sana hasil peternak dan petani negara kita sendiri. Berbeda dengan yang di jual di supermarket, kebanyakan hasil impor petani luar. Memang bahan-bahan yang di jual di supermarket bentuk fisiknya lebih segar dan menarik dari pada yang di jual di pasar, karna di kemas dan di tempatkan di tempat yang menarik. Berbeda dengan hasil panen petani kita yang tidak bisa bertahan lama tapi justru demikian, bahan dan kwalitas seperti itu lebih segar dan terbebas dari pengawet yang tidak baik untuk kesehatan-"


"Iya, iya kita kepasar sekarang," potong Zio sebelum istrinya bicara lebih panjang lagi, lalu ia segera melajukan mobil.


"Abang tunggu di sini saja, ya. Sarah gak lama kok," ucapnya sebelum turun dari mobil.


"Memangnya kamu ada uang?" tanya Zio.


Sarah yang hendak turun dari mobil kembali menoleh melihat suaminya. "Ya ada lah, kan Abang setiap hari memberi Sarah uang,"


"Tapi itu kan untuk jajanmu di sekolah,"


Sarah mengulas senyum. "Ya sudah, mana uangnya?" Sarah menampungkan tangannya.


Zio tidak memberikan uang, ia malah membuka pintu mobil dan segera turun. "Ayo," ajaknya melihat Sarah yang masih berada di dalam mobil.


"Abang mau menemankan Sarah belanja?"


"Memangnya tidak boleh?" Zio balik bertanya.


"Boleh kok, malahan Sarah senang. Tapi, memangnya Abang gak apa-apa. Pasarkan bau dan kotor?"

__ADS_1


"Terpaksa!" jawab Zio pelan.


"Ya sudah, ayo!" Sarah menggandeng lengan Zio, berjalan memasuki pasar.


Zio yang memang belum pernah sama sekali masuk kedalam pasar menutup hidungnya, kala berada di tempat pedagang menjual ikan.


"Tadi sudah di bilang, tunggu di mobil saja gak mau," Sarah bergumam sembil melirik Zio yang tengah mual hendak muntah.


Tidak banyak yang Sarah beli di pasar karna ia memang ingin belanja setiap hari ketimbang menyimpan persedian di dalam lemari pendingin.


Setelahnya mereka kembali ke mobil menuju rumah.


Baru saja sampai di rumah, ponsel Zio berdering. Zio melihat nama Muklis yang tertera di layar. Sebelum menjawab telepon itu, Zio memperlihatkan layar ponselnya pada Sarah, menghindari salah paham nantinya.


"Ya, ada apa Muklis?" tanya Zio setelah Sarah turun dari mobil.


"Rain, Carla sekarang berada di rumah sakit?" jawab Muklis di ujung sana.


Zio kaget mendengar berita yang di sampaikan orang kepercayaannya itu. Meskipun saat ini ia tidak pernah menghubungi Carla, namun rasa sayangnya terhadap adik angkatnya itu tidaklah berubah. "Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa berada di rumah sakit?" tanya Zio sedikit panik.


"Carla mencoba bunuh diri dengan melukai pergelangan tangannya. Saat ini dia terus meminta pulang ke Bandung dan tidak mau menjalani pengobatan,"


Zio menghela nafas panjang. "Kirimkan alamat rumah sakitnya, aku segera datang,"


"Baik Rain,"


Setelah memutuskan sambungan telepon, Zio lansung menghidupkan mesin mobil yang telah ia matikan, lalu segera melaju kerumah sakit.


Sementara Sarah, setelah berganti pakaian, ia kembali turun ke bawah. "Abang mau Sarah buatkan masakan apa hari ini?" Sarah bicara sambil menuruni anak tangga. Namun ia tidaklah menemukan keberadaan Zio di ruang tamu.


Sarah berjalan keluar rumah, mengira mungkin suaminya masih menerima telepon di luar, namun ia tidak menemukan Zio di sana.


"Mungkin saja Abang kembali kekantor," gumamnya sembari berjalan menuju dapur, untuk mengolah bahan-bahan masakan yang baru di belinya.


* * *


Di tempat lain.


Zio yang telah tiba di rumah sakit, berjalan terburu-buru menuju ruangan yang di sebutkan Muklis.


"Rain," sapa Muklis, yang menunggu Zio di luar ruangan.


"Bagaimana keadaan Carla?" tanya Zio.

__ADS_1


"Dia ada di dalam, sejak tadi mengamuk minta pulang," jawab Muklis.


Zio menghela nafas panjang lalu segera masuk ke dalam ruang inap itu.


__ADS_2