
Dreeet..
Dreeet..
Dreeet..
Sarah mengeluarkan ponselnya yang berdering dari dalam kantong celana. Di sana tertera nama 'Bunda' melakukan panggilan video padanya. Segera Sarah menyeka air mata sebelum menjawab panggilan video dari mertuanya itu.
"Sayang, kalian sudah sampai?" tanya Salsa dari tempatnya berada.
"Udah Bunda, baru saja sampai," jawab Sarah sembari tersenyum.
"Gimana, kalian suka nggak tempatnya?"
"Suka banget, Bun! Pemandangannya cantik. Terimakasih ya, Bun," jawab Sarah.
"Iya sayang, Bunda juga senang kalau kalian suka. Oh ya, Zio mana?" tanya Salsa karna tidak melihat keberadaan putranya di layar ponsel.
Sarah berbalik badan, lalu merubah kamera ponselnya menjadi kamera belakang, ia membidikkan ke arah Zio yang duduk diatas ranjang sembari memainkan ponsel.
"Lah, kok dia malah main ponsel? Abang.... Abang....." Salsa memanggilnya
Tentu suara Salsa itu dapat di dengar Zio karna mode loudspeaker.
Zio menoleh pada Sarah yang membidikkan kemera ponsel padanya.
"Abang, sini dulu," ucap Salsa disebrang telepon.
Zio bangkit berjalan mendekati Sarah.
"Ada apa, Bun?" tanya Zio yang sudah berada di dekat Sarah.
"Ada apa, ada apa? Masa datang jauh-jauh kesana hanya main ponsel saja!" omel Salsa.
Sarah memberikan ponsel nya pada Zio setelah merubah kamera ponsel menjadi kamera depan.
"Abang, ingat! Selama di sana jangan macam-macam!" peringat Salsa.
"Macam macam apa, Bun? Abang nggak ngapa-ngapain kok," sahut Zio.
"Bagus lah! Abang tau kan, tujuan Abang kesana itu untuk apa?" tanya Salsa.
"Untuk honeymoon kan, Bun?"
"Nah, itu tau! Untuk honeymoon. Lalu kenapa Abang hanya di kamar saja? Sekarang Abang pergilah keluar, ajak istri Abang jalan-jalan,"
"Em, iya, Bun," jawab Zio.
__ADS_1
"Jangan iya iya saja! Sekarang pergilah keluar dengan Sarah, buat dia senang," peringat Salsa.
"Iya, Bun..."
"Ya sudah, sekarang kalian pergilah," ucap Salsa. Kemudian, sambungan telepon pun ia akhiri.
"Ini!" Zio memberikan ponsel Sarah lalu berjalan menuju ranjang.
"Abang, ayok kita keluar! Jalan-jalan di tepi pantai," ajak Sarah sembari berjalan mendekati Zio.
"Kalau kamu ingin keluar, keluar saja. Saya capek, ingin istrahat," ucap Zio lalu merebahkan tubuhnya telentang di atas ranjang dengan kaki yang masih menjuntai di lantai.
"Abang, kita kan belum beli pakaian. Ayo kita beli dulu," Sarah merengek manja sembari duduk di sebelah Zio.
Zio segera duduk. "Kamu tuli, ya? Saya sudah bilang, saya capek! Kalau kamu mau pergi, pergi saja sana!" sentak Zio.
"Abang, nggak usah lah pakai marah-marah, kalau memang nggak mau pergi, ya sudah. Sarah mau keluar dulu," Lalu Sarah pergi meninggalkan Zio di dalam kamar.
Sarah keluar dari resort, berlari dengan riang sembari merentangkan kedua tangan di tepi pantai yang berada di depan resorts. Ucapan Zio yang selalu menyakitkan hati tidak begitu ia ambil hati. Sarah mengeluarkan ponselnya, mengabadikan pemandangan serta terkadang ia juga berselfie sendiri.
"Ternyata benar kata orang, bumi ini kecil. Baru tadi siang kita berjumpa di airport, eh sekarang berjumpa lagi,"
Sarah menoleh ke sumber suara yang ada di belakangnya. Disana berdiri laki-laki yang ia jumpai di bandara tadi.
"Ow ya, tadi kita belum sempat berkenalan? Namaku Andri," laki-laki itu mengulurkan tangannya mengajak Sarah berkenalan.
"Sarah....!" teriak Zio dari balkon kamar yang jelas terlihat dari tempat Sarah berdiri.
"Maaf, aku harus pergi," ucap Sarah lalu segera berlari menuju resorts.
Zio yang berdiri di balkon kamarnya, menatap tajam laki-laki yang masih berdiri memperhatikan Sarah. "Mau mati kau rupanya!" Dia bergumam sembari mengepalkan tangannya kuat.
Sarah segera naik ke lantai dua tempat suaminya tadi memanggil.
"Kata Abang mau tidur?" tanyanya ketika sudah berada di dalam kamar.
"Ooo, jadi kalau aku tidur, kau bebas keluar dengan laki-laki lain, begitu!" dengus Zio sembari berjalan mendekati Sarah.
"Abang, ngomong apa sih? Bisa nggak bicaranya pelan-pelan, biar Sarah paham,"
"Kau memang sengaja ingin menemui laki-laki itu kan?" sentak Zio menuduh lansung.
Sarah menyipitkan mata. "Kalau iya kenapa? Abang cemburu?" tanyanya sengaja menggoda.
Zio seketika berbalik badan.
"Kenapa Abang cemburu? Kan Abang nggak suka sama Sarah?" tanyanya lagi semakin memojokkan Zio.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Sarah yang menyudutkannya. Zio kembali berbalik badan menatap Sarah dengan sorot mata tajam. "Eh, kau.... "
"Last! Ini terakhir kali Sarah dengar Abang memanggil Sarah, 'kau," potong Sarah yang sudah jengah mendengar kalimat panggilan yang diucapkan Zio. "Kalau Abang masih ingin syarat yang Abang ajukan itu berlaku, jangan pernah lagi memanggil Sarah dengan kata 'kau'," lanjutnya.
Zio kembali berbalik badan, lalu berjalan ke balkon.
Sarah pun mengikutinya, berdiri di samping Zio yang menatap jauh kedepan.
Sarah mencolek bahu Zio dengan ujung kuku telunjuknya. "Abang, ayo kita mandi sama-sama. Setelah itu kita keluar membeli pakaian ganti," ucapnya sengaja menggoda Zio.
Zio menoleh pada Sarah, yang tersenyum menggodanya. Membuat tubuhnya panas dingin. "Ka-kamu, mandi saja sendiri," ucap nya terbata.
"Kita mandi sama-sama lah," goda Sarah lagi, membuat tubuh Zio semakin panas dingin.
"Sa-Sarah, ka-kamu mandi lah sendiri," Suara Zio semakin terbata-bata.
Sarah kemudian menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya, seperti kaki yang sedang melangkah di atas pagar balkon, menjalar mendekati Zio.
"Sarah, Stop!" sentak Zio karna merasa geli.
Sarah terkekeh melihat wajah merah Zio saat ini. "Iya, iya. Sarah mandi sekarang," ucapnya, lalu berjalan ke kamar mandi.
Zio yang masih berdiri di balkon, menyeka keringat dingin di dahinya.
"Kenapa dia suka sekali menggodaku seperti itu," gumamnya.
* * *
Malam hari, Zio dan Sarah sudah kembali ke resorts setelah pergi belanja membeli pakaian serta beberapa snack.
Merasakan ponselnya bergetar, Zio lansung mengeluarkan dari saku, lalu pergi keluar rumah, setelah melihat nama Carla yang tertera di sana.
Sementara Sarah tengah sibuk membereskan barang-barang yang di belinya tadi. Setelahnya, ia masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian tidur.
Di dalam kamar, sayup-sayup Sarah mendengar suara Zio. Lalu ia berjalan ke balkon. Dari tempatnya berdiri, Sarah semakin mempertajam pendengarannya.
"Adek, bukan Abang nggak kangen, tapi saat ini Abang sedang di luar kota. Abang benar-benar nggak bisa kesana sekarang,"
Dalam hati, Sarah bertanya-tanya. Siapa orang yang sedang bicara dengan suaminya itu?
"Iya, Abang usahakan pulang cepat. Sekarang Adek makan dulu ya? Nanti Abang belikan oleh-oleh untuk Adek,"
"Adek pergi dengan Muklis dulu ya? Nanti Abang bilang ke Muklis,"
"Iya, Abang janji. Setelah semua urusan Abang di sini selesai, Abang lansung ke sana menemui Adek,"
Sarah tak tahan lagi mendengar perkataan lemah-lembut suaminya yang entah kepada siapa, membuat kepalanya kembali terasa berdenyut sakit.
__ADS_1