
"Kamu mau kemana?" tanya Zio saat Sarah sudah membantunya duduk ditepi ranjang.
"Sarah mau memasak dulu. Apa Abang butuh sesuatu?" tanya balik Sarah.
Sebenarnya Zio begitu ingin di temani istrinya menuntaskan gairah yang sejak tadi belum tersalurkan. Namun ia juga tidak tau bagaimana harus mengatakannya.
"Apa Abang mau Sarah ambilkan minum?" tanyanya lagi, sebab Zio hanya diam saja.
Beberapa kali Zio berdehem melegakan tenggorokannya yang tercekat. "Iya, Abang mau minum susu badan," ucapnya spontan.
"Hah!"
Sarah membelalakkan mata.
"Eh, ma-maksud Abang itu, susu yang pernah kamu buat waktu di rumah Mama dulu. Ya, Abang mau meminum susu itu," ralatnya kemudian.
"Oo, susu badam! Tapi, Sarah gak bisa membuatkannya sekarang, kan bahannya gak ada. Tapi kalau Abang mau, nanti Sarah pergi membelikannya"
"Gak usah, susu kamu saja,"
"Eh?"
Sarah menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Hm, ma-maksud Abang itu, susu yang lain saja," Sungguh Zio begitu salah tingkah saat ini, gairah yang sejak tadi ia tahan membuat otaknya tidak bisa berpikir waras.
"Sudah cepat buatkan!" dengusnya kemudian.
"Ya, baiklah,"
Setelah Sarah menghilang di balik pintu, Zio meremas kuat adik kecilnya yang sejak tadi terus saja berdiri.
'Argh..... Tidak bisakah kau tidur saja?'
Tidak lama, Sarah kembali lagi masuk ke dalam kamar. Namun ia tak menemukan Zio diatas ranjang.
'Katanya tadi sakit pinggang?' batin Sarah sembari berjalan mendekati kamar mandi.
Mendengar percikan air di dalam kamar mandi, Sarah lantas kembali kebawah untuk memasak makan malam.
.
.
.
Zio berharap setelah mandi dapat mendinginkan suhu tubuhnya yang sejak tadi terbakar gairah. Namun, sudah hampir setengah jam dia berdiri di bawah shower, tetap saja adik kecilnya menunjuk kedepan.
Segera ia selesaikan mandinya, lalu turun kebawah setelah menggunakan celana boxer sarta kaos oblong.
Di bawah, di lihatnya Sarah tengah sibuk memasak. Zio lalu duduk di meja makan yang berdekatan dengan dapur.
"Apa pinggang Abang gak sakit lagi?" tanya Sarah melihat suaminya yang sedang duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
"Sudah sembuh," jawab Zio ketus.
"Oo," Sarah mengangguk, lalu kembali melanjutkan aktivitas memasak.
"Abang sudah lapar ya?" tanyanya lagi tanpa melihat suaminya.
"Iya, cepatlah masaknya!"
"Sebentar lagi, kalau Abang lapar sekali, Abang makan saja dulu buah Apel itu," Sarah mununjuk buah apel di hadapan Zio.
"Ck! Cepat saja selesaikan masakanmu, setelah itu kita mandi!"
Sarah lantas menoleh ke arah suaminya. "Eh? Bukannya Abang baru selesai mandi?" tanya Sarah heran, pasalnya rambut suaminya masih terlihat basah.
"Kenapa kamu selalu bertanya? Sudah cepat, selesaikan saja masakanmu, saya lapar!" dengusnya kesal.
"Iya,"
'Tidak mungkinkan dia datang bulan?' batin Sarah yang merasa aneh dengan tingkah suaminya.
Dari tempatnya duduk, Zio terus saja memperhatikan pinggul Sarah, otak mesumnya berimajinasi, membayangkan tengah memeluk tubuh Sarah dari belakang.
"Abang,"
Sarah membuyarkan lamunannya.
Zio berdecak kesal. "Apa?"
"Kamu itu benar-benar cerewet sekali ya! Sampai celana pun kamu permasalahkan!"
"Eh, siapa yang mempermasalahkan? Kan Sarah hanya nanya saja,"
"Sudah, lakukan saja pekerjaanmu, saya sudah lapar!"
.
.
.
Satu jam kemudian, masakan Sarah sudah matang, segera ia menyajikan masakan yang baru di masaknya itu ke hadapan suaminya yang masih setia duduk disana.
Sarah mengira mungkin suaminya sudah sangat lapar sekali hingga mau menunggu ia selesai memasak.
"Abang, makan lah dulu, Sarah mau membersihkan peralatan masak sebentar?" ucapnya setelah menghidangkan.
"Bagaimana bisa saya memakannya, ini kan masih panas!"
"Ya kan Abang bisa meniup dulu sebelum memakannya, atau Abang mau Sarah yang meniupkannya untuk Abang?" godanya sambil menaik-turunkan alis.
Zio hanya diam, dalam hati ia sangat berharap Sarah mau melakukan hal itu.
"Ya sudah, Abang tunggu saja dulu, sebentar lagi juga dingin," Sarah lalu berjalan ke wastafel hendak membersihkan peralatan memasak yang tadi di gunakannya.
__ADS_1
Zio mengacak rambutnya kasar, rasanya dia begitu frustasi, kesal dan jengkel terhadap Sarah yang tak mau memaksa menyuapkan makanan itu untuknya.
Kemudian, laki-laki itu lalu berdehem kuat. "Sarah, kamu mandi lah dulu, setelah itu kita makan sama-sama," ucapnya dengan suara berat.
"Iya, sebentar lagi, Sarah mau membersihkan perabotan ini dulu," sahut Sarah yang sudah mulai mencuci peralatan memasaknya.
Zio mengepalkan tangannya kuat. Sebab istrinya sejak tadi tidak pernah menuruti kemauannya.
Menunggu satu menit, saat ini seperti menghabiskan waktu satu abad, sangatlah lama. Zio sudah tidak sabar lagi untuk mandi bersama istrinya. Lantas ia berdiri dari duduknya berjalan mendekati Sarah.
"Eh, Abang mau ngapain?" tanya Sarah melihat keberadaan suaminya yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
"Kerjamu itu lama sekali, jadi saya ingin membantu!"
Kening Sarah berkerut kuat, melihat suaminya yang tengah membilas perabotan yang telah di gosoknya dengan sabun.
Sarah kemudian membilas tangannya dan segara mengeringkan, lalu di pegangnya kening Zio dengan punggung tangan, merasakan suhu tubuh suaminya.
"Apa-apaan sih, kamu!" Zio menepiskan tangan Sarah.
Sarah cengengesan menampilkan gigi putihnya yang berbaris rapi.
"Sudahlah! Saya tidak mau lagi membantumu!" Setelah membersihkan tangan, Zio berjalan ke ruang tamu.
5 menit berselang, Sarah telah selesai membersihkan peralatan memasak dan membereskan dapur yang tadi berantakan.
Kemudian ia berjalan keruang tamu. "Abang gak jadi makan? Itu makanannya sudah dingin loh,"
Zio hanya diam saja sambil memainkan ponsel, dia sangat berharap Sarah mau mengajaknya menuntaskan hasrat lelakinya yang masih bergejolak. Biasanya hampir setiap malam Sarah selalu melontarkan kata-kata ajakan untuk melakukan itu.
"Ya sudah, Sarah mau mandi dulu. Nanti selesai mandi kita makan sama-sama ya," Lalu, Sarah melangkah pergi.
Zio tersenyum lebar. "Sarah, tunggu. Abang juga mau mandi," Zio segera berdiri, mengejar langkah Sarah yang sudah berada di tangga.
"Bukannya Abang tadi sudah mandi?" tanya Sarah yang berdiri, menunggu Zio diatas tangga.
"Hm, kamu tidak lihat, tadi saya membantu kamu membersihkan peralatan yang menjijikan itu. Sekarang tubuh saya jadi bau lagi terkena air kotoran itu,"
Sarah menyipitkan mata, memang benar tadi suaminya membantu, tapi itu hanya membantu membilas sebuah mangkok saja.
"Tunggu apa lagi? Ayo mandi, badan saya sudah gatal-gatal nih," Zio segera melangkah masuk kedalam kamar.
Sarah menggelengkan kepala, lalu berjalan mengikuti suaminya
.
.
.
Di dalam kamar mandi, adik kecil Zio benar-benar semakin memberontak, pasalnya di hadapannya saat ini, Sarah telah melepas seluruh pakaiannya, berdiri di bawah guyuran shower sambil menyabuni tubuhnya sendiri. Rasanya ingin sekali Zio yang menggantikan tangan istrinya itu untuk menyabuni tubuh putih mulusnya.
Berkali-kali Zio meneguk saliva kasar melihat pemandangan yang semakin membuat adiknya minta di lepaskan dari belenggu ****** ***** yang mengekang.
__ADS_1