Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Kejadian aneh


__ADS_3

Dari tempatnya berdiri, Zio bisa melihat Zakir yang terbaring diatas Ranjang dengan beralas kan kasur tipis sebagai alas ranjang nya.


Zio terenyuh, masih segar di ingatannya kenangan kala ia masih tinggal di rumah Maya dulu. Di mana ia tidur dangan Carla hanya di atas lantai beralaskan tikar usang sebagai alas.


"Kak," Tiba-tiba seorang anak kecil berlari melewati Zio yang berdiri di depan pintu kamar.


"Kakak," anak kecil itu memeluk pinggang Carla yang duduk di pinggir ranjang, dengan wajah menoleh ke Zio.


"Bagas, kenapa belum tidur?" Carla mengusap puncak kepala anak kecil yang memeluk nya.


"Aku nungguin Kaka," jawab Bagas yang sudah mengalihkan pandangan nya dari Zio.


"Sekarang Bagas tidur ya, kan kakak sudah pulang."


"Iya, nanti aku tidur."


"Kak, itu apa?" tanya Bagas seraya menunjuk tas berlogo Ibox yang di letakkan Carla di samping kaki Zakir yang tidur.


Carla mangambil tas Ibox itu lalu mengeluarkan kotak berisi ponsel dari dalam.


"Wah, Kakak punya ponsel baru!" seru Bagas begitu histeris.


"Ssssst. Pelan pelan ngomong nya, nanti Papa bangun," Carla menempelkan satu telunjuk nya di bibir.


Bagas menoleh melihat Zakir yang tidur.


"Papa nggak bangun kok. Kak, aku boleh pinjam ponselnya nggak?"


"Boleh, tapi nggak sekarang ya,"


"Terus kapan dong?" tanya Bagas.


"Besok. Sekarang sudah malam waktunya Bagas tidur," jawab Carla.


"Iya, aku tidur. Tapi Kakak janji ya, besok pinjam kan aku ponselnya,"


"Iya, besok Kakak pinjamkan, sekarang Bagas pergilah ke kamar dan tidur,"


"Baiklah, Makasih ya Kak," ucap Bagas senang.


Carla menoleh melihat Zio yang menyandarkan tubuh nya di samping pintu.


"Bagas, kenalin itu Abang Kakak, nama nya Abang Rain," ucap Carla.


Bagas menoleh, melihat wajah dingin Zio.


"Nggak mau, aku takut kak." Zio membenamkan wajah nya di punggung Carla.


"Lho, kok takut. Abang Rain baik kok, bukti nya dia belikan Bagas ponsel baru," ujar Carla.


"Mana?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Ini, buat Bagas satu dan buat Kakak satu," jawab Carla seraya memegang kedua kotak yang berisi ponsel.


"Benaran itu buat aku?" tanya Bagas meyakin kan.


"Iya, ini buat Bagas satu, tapi Bagas harus janji. Belajar lebih rajin dan mau jagain Papa kalau Kakak nggak di rumah." ucap Carla seraya memegang kedua pipi bocah itu.


"Aku nggak bisa jagain Papa. Aku takut nanti Mama marah. Kata Mama aku nggak boleh kesini," ucap Bagas dengan wajah tidak semangat.


Carla menghela nafas panjang. Memang benar apa yang diucapkan anak kecil yang sudah dianggap seperti adik nya itu. Semenjak Zakir sakit sifat Niken berubah drastis. Ia mengeluarkan taringnya. Seolah suaminya tidak berharga sama sekali. Niken lupa jika bukan kebaikan Zakir mungkin ia hingga saat ini akan terlunta-lunta hidup di jalanan.


"Ya sudah, kalau begitu Bagas belajar saja yang rajin," ujar Carla.


"Iya, nanti aku belajar rajin," tanggap Bagas cepat.


"Sekarang bilang terimakasih dong, sama Abang Rain," pinta Carla.


"Terimakasih Abang Rain, sudah memberikan aku ponsel baru," ucap Bagas dengan wajah menunduk.


"Hem," respon Zio dingin.


"Sekarang Bagas kembali ke kamar dan tidur lah,"


"Baik Kak," ucap Bagas setelah itu berlalu pergi.


.


.


***


Di kamar itu masih ada Carla yang masih terlihat sibuk membersihkan ranjang tempat Zakir berbaring.


Semenjak Zakir sakit. Memang Carla lah yang merawat nya, membersihkan badan nya, menyuapi nya makan, hingga membuang k***ran nya.


"Adek, apa Om Zakir sudah pernah di bawa kerumah sakit?" tanya Zio.


"Belum kak, aku belum ada uang untuk membawa Om Zakir kerumah sakit," jawab Carla seraya memandang Zakir diatas ranjang.


Zio kemudian menelpon Ong, menyuruh nya untuk membawa ambulance ke rumah Zakir.


.


.


Zakir kini sudah terjaga, ia mengulurkan tangan nya memenggil Carla. Dengan memberikan isyarat Zakir mengatakan pada Carla bahwa saat ini ia lapar.


"Adek. Apa yang terjadi sebenarnya pada Om Zakir, kenapa dia tidak bisa bicara?" tanya Zio khawatir.


"Adek juga nggak tau Bang, semenjak sakit, Om Zakir memang tidak bisa bicara. Kaki nya juga tidak bisa di gerakkan, awal nya bengkak hingga membiru. Adek dulu pernah membawa tukang urut kesini. Tapi tante Niken malah mengusir nya. Kata nya Adek nggak boleh lagi mendatangkan siapa pun ke sini," terang Carla.


"Tunggu sebentar ya Bang, Adek mau ambil makanan dulu untuk Om Zakir." setelah mengucap kan itu Carla keluar dari kamar.

__ADS_1


Zakir menatap Zio, menanyakan siapa namanya dengan bahasa isyarat yang tidak bisa di pahami Zio.


Kemudian ia memanggil Zio. Menyuruh duduk di dekatnya.


Setelah Zio duduk di ranjang itu. Zakir menggunakan telunjuk, lalu menuliskan sesuatu di tapak tangan nya.


Mungkin Om Zakir meminta alat tulis. 


batin Zio lalu mengedar kan pandangan nya mencari kertas dan pena di ruangan itu. Tapi tidak ia temukan.


"Auw! Tolooong.....Abang tolong..... " jerit Carla dari luar.


Zio lalu berlari ke sumber suara dengan perasaan cemas.


"Adek.... Adek dimana?" Zio terus memanggil Carla saat sudah berada di tempat ia mendengar Carla berteriak tadi.


Di sana ia memang melihat sepiring bubur. Namun, tak menemukan keberadaan Carla.


Zio melihat sebuah pintu ruangan yang sedikit terbuka lalu ia berlari kesana.


Benar saja, saat Zio sudah berada dipintu itu, ia melihat Carla di bawa oleh dua orang berjalan menyusuri gang sempit.


"Woi, berhenti!" teriak Zio mengejar orang  yang membawa Carla.


Dua orang itu mempercepat langkah nya sambil memapah tubuh Carla. Namun, langkah Zio yang cepat berhasil menyusul mereka.


"Apa yang kalian lakukan padanya?!" bentak Zio ketika melihat Carla yang tidak sadar kan diri.


Dua orang yang menggunakan penutup wajah itu merasa ketakutan lalu mendorong tubuh Carla ke arah Zio, setelah itu mereka kabur.


Zio menangkap tubuh Carla yang tidak sadar kan. Membiarkan dua orang itu pergi.


"Adek, bangun. Buka mata mu," ucap Zio dengan suara bergetar seraya memukul pelan pipi Carla. Namun mata Carla masih saja terpejam.


Tiba-tiba ponsel di dalam saku Zio berdering.


"Halo Rain. Kamu di mana? Saya sudah berada di depan rumah alamat yang kamu berikan tadi," ucap Ong dari sambungan telepon.


"Tunggu di sana," kemudian Zio memutuskan sambungan telepon nya, lalu membopong Carla ketempat yang Ong sebutkan.


.


.


"Ong, buka pintu nya cepat," titah Zio yang membopong tubuh Carla.


Ong pun bergegas membuka lebar pintu belakang ambulance itu.


Zio masuk kedalam ambulance, lalu membaringkan Carla di brankar.


Setelah itu Zio kembali masuk kedalam rumah Zakir.

__ADS_1


.


.


__ADS_2