Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Dasar payah


__ADS_3

"Wah! Senangnya!" sarah berteriak sembari berlari kecil merentangkan kedua tangan di tepi pantai.


"Abang, coba kejar Sarah," teriak nya sambil menjulurkan lidah pada Zio.


"Cih, apa-apaan dia menyuruhku mengejarnya! Lari seperti siput saja minta aku mengejar," Zio membuang nafas kasar, lalu berlari kencang mengejar Sarah yang ada di depannya. Tentunya kaki Zio yang panjang dengan mudah mengejar Sarah yang ada di depannya.


"Abang, sudah! Sarah capek," Sarah menghentikan langkah, berdiri dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Hais! Tadi menyuruh mengejar, sudah kalah malah menyuruh berhenti," dengus Zio membuang nafas kasar.


Sarah berjalan mendekati Zio yang berdiri di depannya.


"Cih! Dasar payah!" Zio masih saja mendengus kesal.


Sarah tersenyum kecil melihatnya.


"Kenapa Abang nggak jadi atlet lari saja, kan lari Abang kencang tuh?"


"Kalau saya jadi atlet lari, yang ada semua atlet di dunia ini akan kalah!" Zio berkata dengan sombong.


Sarah terkekeh kecil sambil terus berjalan di depan Zio.


Zio pun berjalan mengejar langkah Sarah, hingga posisi mereka beriringan.


"Abang tau nggak? Sarah senang banget saat ini,"


Zio menghentikan langkah, diikuti Sarah yang juga berhenti berjalan. "Pasti kamu baru kali ini melihat laut, kan?" tanya Zio.


"Nggak, Sarah juga sering kok pergi ke pantai bersama teman-teman. Tapi kalau ke pantai sama Abang memang baru kali ini. Mangkanya Sarah senang banget," jawabnya membuat sudut bibir Zio melengkung membentuk senyum kecil. Namun saat Sarah menoleh padanya, Zio segera berbalik badan menghadap ke laut.


"Abang...." Sarah menyentuh bahu Zio dengan ujung kukunya.


"Hmm, apa?" tanya Zio sembari berbalik badan.


"Terimakasih, karna Abang sudah mau mengajak Sarah kesini. Terimakasih karna Abang telah membuat Sarah bahagia dan terimakasih juga karna Abang telah mau menikahi Sarah," ucapnya malu-malu, terlihat dari gestur tubuhnya yang bergerak kiri dan kanan.


"Terpaksa!" cetus Zio membuat bibir Sarah mengerucut.


"Udahlah, ini sudah sore, saya mau mandi. Ayo masuk," ucap Zio, lalu berjalan di depan menuju resorts.


"Abang, tunggu!" Sarah berlari mengejar Zio, rasanya ingin sekali ia melompat, naik ke punggung Zio atau memeluk lengan kekar suaminya itu. Tapi ia juga takut akan membuat Zio marah.


Tiba di dalam resorts, ponsel Sarah berdering. Panggilan video dari Mamanya itu segera di jawabnya.


"Halo, Ma! Pasti Mama kangen sama Sarah, kan?" celotehnya riang saat sambungan video dengan Santi terhubung.


"Eh, siapa bilang? Mama itu hanya kangen sama menantu Mama saja kok," sahut Santi di layar ponsel.


Sarah mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"Sarah, mana menantu Mama?" tanya Santi.


"Tunggu sebentar, Ma?" Sarah berjalan masuk kedalam kamar, mendekati Zio yang membawa handuk bersiap pergi mandi.


"Ini menantu Mama," ujar Sarah yang sudah berada di samping Zio. Kesempatan itu tidak di sia-siakannya. Ia merangkul satu lengan Zio, satu tangannya lagi memegang ponsel, membidikkan kamera ke arah mereka yang berdiri berdampingan.


Zio merasa kikuk sendiri saat lengannya di rangkul Sarah. Tapi ia tetap menyunggingkan senyum di depan kamera, karna tak ingin membuat mertuanya itu berpikir macam-macam.


"Ma, Zio mau mandi dulu ya," ucap Zio sembari tersenyum lebar.


"Sarah juga mau ikut mandi," celetuk istri Zio menggoda suaminya.


Antara tersenyum dan kesal, bibir Zio menganga lebar.


"Mama senang melihat kalian seperti ini," ujar Santi.


"Udah ya, Ma. Sarah mau mandi dulu," ucapnya.


"Eh, kamu ini! Mama masih kangen lah sama menantu Mama," ucap Santi.


"Memangnya sama Sarah, nggak kangen?"


"Sama kamu buat apa Mama kangen," jawab Santi.


"Iiih, Mama kan gitu. Besok Sarah nggak mau pulang ke rumah Mama!" rajuknya.


"Kamu nggak usah pulang, biar Zio aja yang tinggal disini," goda Santi.


"Kamu tinggal saja dengan Bundamu," Santi semakin menggodanya.


"Nggak! Udah lah Mama ngeselin,"


"Ya sudah, jaga kesehatan,"


"Zio tolong jaga Sarah ya?" pesan Santi.


"I-iya, Ma," sahut Zio.


"Da-dah, Mama," ucap Sarah, kemudian sambungan telepon ia putuskan.


Saat ini kedua tangan Sarah malah memeluk lengan Zio, "Abang, ayo kita mandi sama-sama," ajaknya dengan nada manja.


Zio mengernyit, melihat lengannya yang masih di peluk Sarah.


Sarah menyengir, perlahan melepaskan tangannya yang merangkul tangan Zio.


"Kamu sengaja mengambil kesempatan ya?" tanya Zio sinis.


"Eh, nggak kok, kan dalam Perjanjian yang Abang buat, kalau di depan keluarga, kita boleh saling bersentuhan," ucap Sarah memberi alasan.

__ADS_1


"Cih, alasan!" Zio mendengus.


"Abang," Sarah merengek.


Zio mendelik. "Ya sudah, saya mau mandi dulu," ucap Zio, lalu berjalan ke kamar mandi.


"Ikut......!" Sarah berlari mengejar Zio yang sudah dulu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.


"Abang, buka pintunya. Sarah juga mau ikut mandi," rengeknya sembari mendorong pintu.


"Sarah! Jangan macam-macam kamu, ya!" kecam Zio sembari menahan pintu yang belum terkunci.


* * *


Di tempat lain, Carla dan Maya masih berada di gedung pusat belanja terbesar di Jakarta, yang di kawal oleh Muklis.


Wajah Maya terlihat begitu bahagia, ketika menenteng beberapa paper bag yang berisi pakaian-pakaian yang baru di belinya.


"Bu, kita makan dulu yuk, sebelum pulang?" ajak Carla.


Maya mengangguk. Lalu Carla mengajak ibunya masuk ke sebuah restoran yang masih berada di dalam bangunan itu.


Setelah duduk di salah satu meja, Carla memesan makanan untuk ia dan Ibunya. Sementara Muklis duduk di meja lain.


"Carla, dia itu siapa?" Pertanyaan yang sejak tadi ingin Maya tanyakan. Karna Muklis selalu mengikuti mereka, pun Muklis juga yang menyetir mobil mengantarkan mereka ke tempat ini.


"Abang itu temannya, Abang Zio. Dia disuruh Bang Zio buat menjaga Carla," jawab Carla apa adanya.


"Memangnya kenapa kamu harus dijaga? Kayak orang penting saja," tanya Maya lagi.


"Itu karna kemarin Carla pernah di culik seseorang. Untung saja Bang Zio datang menyelamatkan Carla,"


"Ooo.. Oh ya Carla! Sebenarnya, Abangmu itu kerja apa sih?"


"Carla juga nggak tau, Bu. Tapi kata Bang Zio, dia kerja dan di percaya sama seseorang gitu,"


Maya terdiam, otaknya tengah memikirkan seberapa kekayaan orang yang pernah ia rawat dan besarkan dulu.


"Carla, apa Abang mu sudah punya istri?" tanya Maya kemudian.


"Sepertinya belum Bu. Tapi Carla juga nggak pernah nanya sih," jawabnya.


Maya tersenyum sendiri.


"Ibu kenapa?" Carla mengernyit heran.


"Tidak apa-apa? Oh ya Carla. Besok Abangmu pulang, kan? Terus kalau Abang mu sudah pulang dia tinggal dimana?" tanya Maya semakin mengorek informasi.


"Carla juga nggak tau, Bu. Abang hanya sesekali saja menjumpai Carla,"

__ADS_1


"Carla, kamu sayang kan sama Abangmu?"


"Ibu ini nanya apa sih? Carla pasti sayang lah,"


__ADS_2