
Zio memegang ponsel yang di berikan Salsa padanya. Di ponsel itu terlihat jelas foto foto dirinya serta rekaman video pendek saat ia menghabisi nyawa penyusup di markas nya dengan sadis.
Zio menunduk takut. Jiwa pemberaninya memang selalu lenyap, kala berhadapan dengan wanita yang selalu menghujami nya dengan kasih sayang. Putra Salsabila itu memang di kenal patuh dan penurut. Tapi kini, rahasia yang telah lama ia sembunyikan rapat-rapat, terkuak sudah.
Perlahan Zio mengangkat wajah nya, memandang sekilas wajah sang Bunda. Terlihat jelas gurat kecewa di wajah wanita yang telah melahirkan nya itu. Zio tak kuasa, ia kembali menunduk, tanpa ingin menjelaskan apa pun.
Suasana hening. Zidan masih setia mengusap bahu sang istri, sedang kan Zio masih senantiasa menunduk.
"Siapa orang yang ada di foto itu, Zio?" sang Bunda bertanya lirih. Zio bisa menangkap ada rasa kecewa yang teramat dalam dari kata kata yang di dengar nya.
"Kenapa kamu diam?" kali, nada suara wanita yang ia sayangi itu bergetar.
Zio masih menunduk. Tidak menyangkal tidak juga membenarkan apa yang di tuduh kan sang Bunda.
"Bunda tidak menyangka, anak Bunda seorang pembunuh," Salsa berucap di sertai jatuh nya air mata yang sejak tadi ia tahan.
Zidan merangkuh tubuh wanita yang telah memberikan nya sepasang anak kembar. Menyandarkan kepala wanita itu ke dada bidang nya.
Zidan juga memberi isyarat pada sang putra agar segera pergi dan masuk kedalam kamar.
Zio menurut, pergi keluar meninggal kan kedua orang tua nya di ruangan itu.
Salsa masih sesugukan, menumpahkan tangis nya di dalam dekapan Ayah kandung kedua anak nya.
"Mas, anak kita pembunuh. Zio pembunuh Mas," lirih Salsa yang masih terisak.
"Sayang, jangan katakan itu lagi. Bisa saja itu bukan Zio, kan. Mungkin, ada orang yang tidak suka dengan nya, lalu menfitnah. Kita juga tidak tau, kan. Bahkan siapa orang yang mengirim gambar dan video itu, kita juga tidak tau. Mungkin saja orang itu berniat mengadu domba. Foto dan Video itu bisa saja di edita. Buang jauh-jauh pikiran buruk itu. Jangan mudah mempercayai sesuatu yang belum jelas kebenaran nya, sayang." tutur Zidan berusaha menepiskan pikiran buruk sang istri.
"Tapi, bagaimana jika semua itu benar Mas? Aku takut, jika hal itu terjadi pada Zio," Salsa masih berucap lirih.
"Sudah, tenangkan pikiran mu, sayang. Lihatlah, apa putra kita semenakutkan itu? Bukan kah selama ini dia tumbuh jadi anak penurut dan patuh. Bagaimana mungkin dia melakukan hal itu? Sedangkan kita tau sendiri selama ini dia hanya menyibukkan diri untuk bekerja." Zidan terus berusaha menyangkal apa yang di pikirkan istrinya saat ini.
"Aku takut, Mas. Aku takut sesuatu terjadi pada Zio nantinya,"
"Jangan berpikir hal yang bukan-bukan, Mas tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi pada anak-anak kita,"
"Sekarang kamu istrahat lah, biar Mas yang bicara dengan Zio,"
.
.
.
.
***
__ADS_1
Di dalam kamar, Zio meluahkan amarahnya. Menghujami dinding kamar yang berlapis semen itu dengan tinjunya, hingga kepalan tangan nya mengeluarkan darah.
Tok
Tok
Tok
Mendengar suara pintu di ketuk, Zio tersentak. Mengambil kain membalut luka di tangannya, sebelum melangkah membuka pintu kamar.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, di lihat nya Zidan berdiri di luar.
"Boleh Daddy masuk." Zidan berucap ramah.
"Silahkan Dad,"
Zidan melangkah masuk, lalu menutup kembali pintu kamar putra nya.
"Maaf kan Abang Dadd," ucap Zio lirih.
Zidan membawa tubuh sang putra ke dalam pelukannya.
"Bunda hanya terlalu mengkhawatirkan Abang. Untuk saat ini berhentilah membuat nya khawatir." ucap Zidan, tanpa menyudut kan putra nya.
Kemudian Zidan melerai pelukan nya. Memandang netra sang putra dengan tatapan penuh selidik.
"Apa orang di dalam foto itu Abang?" tanya Zidan tanpa melepaskan tatapannya.
Netra Zio mengerjap berulang kali, hingga Zidan bisa menyimpulkannya sendiri.
"Ya, itu Abang, Dadd," Zio mengaku.
Ia mulai menceritakan gangster yang di pimpinnya. Hingga ia bergelut di dunia bawah tanah, terjun ke pasar gelap memasarkan senjata rakitan nya.
"Apa Abang tau, yang Abang lakukan itu sangatlah berbahaya?" Zidan bertanya dengan nada emosi. Sungguh, ia tidak menyangka jika putra yang ia kenal penurut dan patuh itu bergelut di dunia hitam.
"Abang tau Dadd. Selama ini Abang hanya memantau saja. Abang menyerahkan semua urusan itu pada orang yang Abang percaya." jawab Zio.
"Lalu, kenapa bisa foto dan video itu berada di ponsel Bunda sekarang?" tanya Zidan kembali.
"Itu lah Dadd, ada orang yang berkhianat, dan seperti nya itu adalah orang terdekat. Saat ini Abang masih menyelidikinya." jawab Zio.
"Kalau begitu biar Daddy suruh Raka dan orang orang Daddy membantu Abang menyelidiki. Dan untuk sekarang, Daddy minta Abang tinggalkan semuanya,"
Zio menggeleng.
__ADS_1
"Abang akan meninggalkan semuanya, tapi setelah Abang menemukan pengkhianat itu," sergah Zio.
"Kalau begitu biarkan Daddy membantu Abang mencari pengkhianat itu."
"Tapi Dadd, saat ini Abang mencurigai, Om Raka lah dalang semua nya,"
Zidan memandang putra nya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dari mana Abang mempunyai kesimpulan seperti itu?" tanya Zidan tidak suka putra nya asal menuduh.
Zio mengeluarkan ponsel orang yang di tembak nya tadi siang. "Ini adalah ponsel orang yang menembak Abang tadi siang Dadd. Coba Daddy lihat, di sini ada nomor ponsel Om Raka," Zio menunjukkan nomor ponsel Raka di ponsel itu.
Zidan terkekeh, mengusap puncak kepala putra nya itu.
"Bagaimana jika di ponsel itu ada nomor Daddy, apa Abang akan mencurigai Daddy juga?" tanya Zidan dengan sunggingan senyum.
"Tapi Dadd-"
Zidan mengusap pundak putra nya.
"Abang. Jangan mudah percaya dengan skenario yang di buat musuh. Raka itu sudah Daddy anggap sebagai saudara sendiri. Dan Daddy menjamin semua itu bukan perbuatan nya. Sekarang yang perlu Abang cari, adalah orang yang mengambil foto dan video itu," terang Zidan memotong ucapan putranya.
"Sudah, Abang sudah mengetahui orang nya," jawab Zio.
"Apa Abang sudah tau, siapa orang yang menyuruh nya melakukan itu?"
"Dia juga tidak tau, karna orang itu menggunakan penutup wajah," jawab Zio.
"Sekarang, Abang beristirahat lah. Biar Daddy yang mencari orang nya," ucap Zidan sambil menepuk pundak sang putra.
"Terimakasih Dadd," Zio tersenyum tipis.
"Owya.. Bunda bilang Abang melamar Sarah. Apa itu benar?" tanya Zidan sebelum beranjak pergi.
Zio tidak menjawab.
"Baiklah, itu terserah Abang. Tapi, Daddy minta jangan pernah main-main. Kalau Abang tidak mencintainya, lebih baik Abang tidak memaksakan diri." ucap Zidan berlalu pergi.
.
.
.
.
***
Zidan turun kebawah, menemui Deri untuk menanyakan kemana saja saharian tadi putranya pergi. Awalnya Deri takut memberitahukan nya. Namun setelah Zidan memaksa nya, akhirnya sopir itu bercerita juga.
__ADS_1