Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Hadiah


__ADS_3

Baru saja Zio hendak melangkah meninggalkan ruang kerja. Ponsel dalam saku nya kembali berdering.


Hem, Bunda. gumam Zio lalu menggeser panah hijau di layar ponsel.


"Ya, hallo Bun," sapa Zio saat sambungan telepon nya terhubung.


"Abang... Abang sibuk nggak?" tanya Salsa di sebrang telepon.


"Nggak Bun, kenapa?"


"Bunda boleh minta tolong." pinta Salsa.


"Katakan saja Bun," balas Zio.


"Hari ini kan Sarah ulang tahun. Jadi semalam Bunda sudah janji dengan dia, kalau hari ini akan menjemputnya kesekolah, terus pergi membelikan hadiah untuk nya. Tapi, Bunda seperti nya nggak sempat. Abang bisa kan menggantikan Bunda," pinta Salsa.


"Apa dia tidak bisa pulang sendiri, Bun," elak Zio.


"Abang, kan tadi sudah Bunda bilang. Semalam Bunda sudah janji dengan Sarah, nggak mungkin kan Bunda batalin begitu saja,"


Zio menghela nafas besar.


"Ya sudah, jam berapa dia pulang?" tanya Zio.


"Sebentar lagi dia pulang, Abang pergi saja kesekolah nya sekarang," jawab Salsa.


"Baiklah Bun," balas Zio.


"Jangan lupa belikan hadiah untuk nya ya. Dia menyukai kucing, tolong Abang belikan ya," ucap Salsa.


"Iya Bun," balas Zio.


"Ya sudah, hati hati di jalan," pesan Salsa.


"Iya... "


.


.


.


.


Tiga puluh menit kemudian Zio sudah berada di sekolah Sarah.


Sarah yang baru saja keluar dari sekolah, mengucek kedua matanya ketika melihat sosok pemuda tampan berdiri di samping mobil mewah.


"Abang Zio," gumam nya lalu mempercepat langkah keluar gerbang.


"Abang," sapa Sarah yang sudah berdiri di dekat Zio.


Zio menoleh melihat Sarah dari balik kaca mata hitam yang ia gunakan.


"Pasti Abang mau jemput aku kan?" ucap Sarah disertai senyum yang mengembang.


Zio tidak menjawab, ia membuka pintu mobil  depan.


"Masuk," ucap Zio dingin.


Sarah merasa senang, melihat Zio membuka kan pintu mobil untuk nya, ia melangkah hendak masuk ke mobil itu. Tapi, ketika melihat Deri duduk di bangku kemudi, Sarah kembali keluar.


"Iiih, nggak mau," Sarah menyentak keluar.


"Kamu mau pulang tidak?!" tanya Zio.


"Ya aku mau pulang lah," jawab Sarah cepat.


"Lalu, tunggu apa lagi, masuk lah!" perintah Zio tegas


"Nggak mau duduk di depan," tolak Sarah.


"Terus kamu mau duduk dimana?" tanya Zio.


"Duduk di belakang sama Abang lah," jawab Sarah yang lansung memeluk lengan Zio.


"Heis..." Zio berdecak kesal, mengedarkan pandangan nya ke arah lain. Melihat banyak pasang mata yang menyaksikan mereka, ia pun membuka pintu belakang mobil.


"Masuk lah," perintah Zio.


"Abang dulu yang masuk,"


Zio menghela nafas besar, lalu masuk ke dalam mobil, di ikuti Sarah setelah nya.


.


.


.


.


.


Didalam mobil, Sarah memeluk erat lengan Zio serta menyandarkan kepala nya di sana.

__ADS_1


"Senang banget deh rasanya, jika setiap hari Abang jemput aku kesekolah," ujar Sarah.


Zio menyeringai.


"Ehem, kalau kamu ingin aku jemput terus, kenapa kamu nggak menikah saja dengan ku."


Seketika Sarah melepaskan pelukan tangan nya di lengan Zio. Di tatap nya wajah pemuda berwajah dingin itu lekat.


"Emang nya Abang mau menikah dengan ku?!" tanya Sarah seakan tak percaya dengan apa yang di ucapkan pemuda itu.


Zio tersenyum.


"Serius, Abang mau menikah dengan ku?!" tanya Sarah histeris.


Zio mengangguk.


"Uhh. Senang nya," Sarah kembali memeluk lengan Zio.


"Lalu, kapan kamu bersedia menikah dengan ku?" tanya Zio.


"Iiiih, Abang sudah nggak sabar ya," Sarah meledek nya.


Zio tersenyum, menatap Wajah Sarah, menunggu jawaban gadis itu.


"Kan aku masih sekolah, belum boleh menikah."


"Siapa bilang belum boleh? Kan kamu sudah delapan belas tahun. Itu artinya kamu sudah dewasa," ucap Zio.


"Ya terserah Abang lah, kalau Mama mengizinkan aku mau aja,"


.


.


.


"Deri, berhenti di depan sana," titah Zio seraya menunjuk.


"Baik, tuan muda," sahut Deri.


Tidak lama mobil yang di kemudikan Deri berhenti di depan sebuah toko hewan. Deri bergegas keluar membuka kan pintu sebelah kiri.


"Turun lah," perintah Zio.


"Memang nya mau kemana Bang?" tanya Sarah sebelum turun dari mobil.


"Kesana," Zio menunjuk toko hewan tidak jauh dari mobil berhenti.


.


.


.


"Ehem, ambil lah kalau kamu suka," ucap Zio.


Sarah menggeleng,


"Bukannya kamu suka kucing?"


"Aku nggak boleh sama Mama memelihara kucing," jawab Sarah.


"Kenapa?" tanya Zio heran.


"Karna aku alergi kucing." jawab Sarah.


"Tunggu lah di sini," ucap Zio lalu pergi.


"Abang mau kemana?" teriak Sarah.


"Tunggu disana saja," sahut Zio terus melangkah.


Tidak lama Zio kembali lagi membawa masker.


"Pakai ini," Zio memberikan masker yang di belinya tadi pada Sarah.


"Sekarang pilih lah mau yang mana?" ucap Zio.


Sarah memilih sepasang kucing persia dengan corak warna hitam dan putih.


Setelah itu Zio mengantarkan Sarah pulang kerumah nya.


.


.


.


"Ma." teriak Sarah yang baru turun dari mobil seraya menenteng keranjang berisi kucing. Ia berjalan mendekati Santi yang duduk di teras rumah.


"Astagfirullahalazim Sarah. Kamu itu alergi kucing, kenapa malah membawanya pulang," Santi meradang.


"Kata Bang Zio boleh kok Ma, asal aku pakai Masker kalau mau menggendong nya, bukti nya dari tadi aku juga nggak ada bersin."


"Bang Zio juga beliin kandang nya kok, jadi aku nggak perlu menggendong nya,"

__ADS_1


"Biarin aja lah San, toh sarah juga tidak ada bersin bersin lagi," kata Wati.


"Maaf kan Zio Ma," sesal Zio tak enak hati melihat Santi yang meradang.


Santi mengehela nafas.


"Iya, nggak pa pa Zio," ucap Santi.


"Sarah, ganti pakain mu dulu, habis itu buat kan minum buat Zio," ucap Santi.


"Oke Ma," Sarah meletakkan kucing nya lalu masuk ke dalam rumah.


.


.


.


"Zio sudah makan siang?" tanya Santi setelah mereka berada di ruang tamu.


"Udah Ma, Zio udah makan siang tadi," jawab Zio.


"Zio, lain kali kemauan Sarah itu nggak usah di turuti," ucap Santi.


"Itu bukan kemauan Sarah Ma, tapi keinginan Bunda. Kata Bunda hari ini Sarah ulang tahun, jadi itu hadiah untuk sarah," balas Zio.


Ngasal aja si Salsa itu, gumam Santi dalam hati.


.


.


Tidak lama berselang lama Sarah datang membawa nampan berisi segelas air dingin.


"Taraaaa......... Aku datang membawa segelas minuman spesial untuk Abang Zio tercinta," ucap Sarah lalu meletakkan minuman itu diatas meja.


"Spesial dari mana nya Sar? Bukan nya itu hanya air putih saja," ledek Santi.


"Mama itu nggak tau sih, kalau di dalam air putih ini, ada cinta yang tulus aku persembahan kan untuk Abang Zio tersayang," ucap Sarah penuh penghayatan.


Sarah lalu mengambil gelas yang berisi air putih itu, memberikan nya pada Zio.


.


.


.


10 menit kemudian.


"Ma, Nek, Zio pamit dulu," ucap Zio seraya berdiri dari duduk nya.


"Loh kok pulang sih Bang, baru juga sebentar," rengek Sarah menahan tangan Zio.


"Abang masih ada pekerjaan di kantor," balas Zio, lalu mencium tangan Santi dan Wati.


Kemudian Zio beranjak pergi.


"Abang, tunggu." panggil Sarah, lalu mengambil satu keranjang kucing nya.


"Abang, satu kucing ini Abang yang rawat ya. Nanti kalau kita sudah menikah,. Kita akan merawat mereka sama sama," ucap Sarah menyerahkan keranjang kucing itu pada Zio.


"Hmm.. Baiklah," balas Zio lalu masuk kedalam mobil.


"Dadaaaah, Abang," Sarah melambaikan tangan nya setelah mobil melaju.


.


.


.


Lepas dari rumah Santi, Zio menyuruh Deri mengantarkan nya ke tempat Carla tinggal.


30 menit kemudian mobil yang di kemudikan Deri sudah terparkir di halaman rumah tersebut.


Mendengar suara mesin mobil. Carla berlari keluar.


"Akhirnya Abang datang juga, Adek kangen tau," Carla lansung memeluk lengan Zio dengan manja nya.


Zio hanya tersenyum.


"Emang nya, Abang nggak kangen ya sama Adek," sungut Carla merajuk.


"Lah, siapa bilang Abang nggak kangen," ucap Zio seraya mengacak rambut Carla.


"Habis, Abang sibuk mulu. Seperti nggak ada waktu buat Adek," rengek Carla dengan bibir yang mengerucut.


"Abang nggak diajak masuk nih." ucap Zio.


"Ya sudah, ayo masuk,"


Baru saja melangkah, Carla mendengar suara kucing di dalam mobil.


"Abang bawa kucing, pasti itu hadiah untuk Adek kan,"

__ADS_1


__ADS_2