
Melihat Zio yang bersedih, Salsa mendekati nya. Ia duduk bersila di depan sang putra seraya mengusap puncak kepalanya.
"Kenapa Nak?" tanya Salsa lembut.
Zio hanya diam dengan bibir yang bergetar hebat, menahan tangis nya.
"Sayang, kenapa? Apa makanan nya nggak enak?" tanya Salsa lagi.
Zio menggeleng lemah.
"Lalu kenapa? Kenapa kamu bersedih?"
"Apa aku boleh pergi?" lirih Zio mengangkat wajah nya.
Salsa tertegun dengan mata yang berkaca. Tak bisa ia membayangkan bila sang putra akan pergi lagi.
"Apa Zio akan meninggalkan Bunda lagi?" tanya Salsa dengan suara yang bergetar, disertai jatuh nya cairan bening ke pipi yang tak bisa ia tahan kan lagi.
Sungguh, Zio merasa di tempatkan di posisi yang sulit. Ia bingung antara harus pergi mencari sang Adik atau bertahan tinggal bersama orang tua kandung yang baru ia temui.
"Abang jahat! Kenapa Abang selalu membuat Bunda menangis," Pekik Zia seraya menghapus air mata Salsa.
Lagi, Zio hanya diam dengan wajah tertunduk. Hatinya pilu kala melihat wanita di depannya ini menangis.
"Nggak, Aku nggak akan pergi," llirih Zio setengah berbisik. Bahkan kalimat itu ia ucap kan tanpa mengangkat wajah nya.
Tapi Salsa tidak begitu mendengar apa yang di ucapkan putra nya itu. Ia masih sesugukan menangis.
"Kenapa masih menangis! bukan kah sudah ku katakan jika aku nggak akan pergi!" ucap Zio dengan suara tinggi.
Seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Salsa meminta Zio untuk mengucapkan kalimat itu lagi.
"Ya, aku nggak akan pergi!" ucap Zio lalu kembali menunduk.
Salsa tersenyum senang, menatap haru sang putra lalu memeluknya.
"Janji sama Bunda. Zio nggak akan pernah lagi pergi meninggalkan Bunda," Salsa kembali menangis memeluk tubuh Zio. Kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru, karna merasa bahagia.
"Iya, sudah lah jangan menangis lagi," ucap Zio berusaha melerai pelukan Salsa.
Anak itu merasa canggung di situasi seperti ini.
"Bunda Adek juga mau di peluk," Zia merengek minta di peluk juga.
"Sini sayang," Salsa merentangkan kedua tangan nya.
***
__ADS_1
Sudah seharian Yos mengelilingi kota, namun ia tak jua menemukan Rain. Sore sudah menjelang akhirnya ia memutus kan pulang ke rumah.
Setelah memarkirkan motor, Ia mengetuk pintu rumah.
Tok
Tok
Tok
Tidak lama, pintu di buka oleh Zakir dari dalam.
"Sorry Kir, aku tidak menemukan bocah itu," ucap Yos yang masih berdiri di depan pintu.
Zakir melangkah masuk. Tanpa berkata sepatah kata pun, pria berperawakan tinggi besar itu lansung menghempaskan duduk nya di sofa.
"Sorry Kir," sesal Yos melihat kesedihan di wajah sahabatnya.
"Sudah lah Yos, ini juga bukan salah mu," ucap Zakir. sejenak ia diam menghembuskan nafas kasar. "Tapi, kamu masih mau kan, menjaga gadis ini, selama aku pergi ke kota B," imbuh Zakir berharap.
"Sorry Kir, bukan aku tidak mau. Hanya saja kau tau sendiri kan kerja ku. Kadang kerja siang, kadang kerja malam. Siapa yang akan menjaga gadis ini jika aku bekerja?" ucap Yos lalu melongos masuk ke dalam kamar.
Zakir menyandarkan tubuh nya disandaran sofa, sembari memandang Carla yang tertidur di sofa.
Sepertinya aku harus membawa mu kembali ke kota B, Nak.
****
Malam harinya.
Zio terisak di sudut kamar. Tubuh nya meringkuk di atas lantai ruangan mewah itu. Rasa rindu terhadap Carla tak mampu ia tahan. Sesekali bibir mungil nya menyebut dan memanggil nama Carla. Dirinya merasa sendiri, tak ada kebahagian lagi yang ia rasakan.
Pagi pun datang.
Salsa yang baru saja bangun. Lansung bangkit dari ranjang. Tapi, ketika ia merangkak turun dari ranjang sebuah tangan melingkar di perut ratanya.
"Mau kemana sayang?" Zidan merangkuh tubuh Salsa membaringkan nya di ranjang.
"Mas, aku mau ke kamar anak-anak," protes Salsa.
"Sayang, sepertinya, mereka sudah waktunya punya adik," balas Zidan yang semakin memper erat pelukannya pada sang istri.
Salsa menoleh kan wajah nya kesamping. Melihat wajah sang suami yang menyeringai mesum.
"Iya, tapi tidak sekarang. Sekarang aku harus ke kamar anak-anak ku," balas Salsa lalu melepaskan tangan kekar sang suami.
Zidan tersenyum, menatap punggung Salsa yang hendak masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa bahagia, melihat sang istri yang kembali bersemangat. Tidak seperti hari-hari sebelum nya.
__ADS_1
Tidak lama, Salsa keluar dari kamar mandi. Melihat Zidan yang tersenyum padanya, Membuat ia mengernyitkan dahi.
"Mas kenapa senyum senyum sendiri?" tanya Salsa menatap heran.
Zidan menggeleng. Namun, senyum di wajah nya tidak lah hilang.
"Apa Mas hari ini ke kantor?" tanya Salsa.
"Iya sayang, pagi ini ada meeting penting," jawab Zidan yang masih berbaring di ranjang.
"Baiklah," Salsa lalu berjalan mendekati lemari pakaian, untuk mempersiap kan pakaian yang akan di gunakan suami nya nanti ke kantor.
Setelah itu, Salsa keluar. Menuju kamar Rain, di sebelah kamarnya. Ia tidak ke kamar Zia, karna putri nya itu sudah ada pengasuh pribadi, yang akan membantu mempersiapkan kebutuhan nya sampai berangkat sekolah.
Sebenarnya itu bukan kemauannya. Tapi kehendak Zidan yang tak bisa ia cegah. Zidan tidak ingin istri nya kelelahan. Meski pun demikian, biasa nya Salsa juga lah yang mempersiapkan segala kebutuhan putri nya itu.
Di dalam kamar Zio. Salsa tidak melihat keberadaan putranya diatas ranjang. Ranjang itu terlihat rapi. Tidak ada kusut sama sekali.
Salsa terus melangkah menuju kamar mandi dengan langkah cepat. Kecemasan kembali terlihat di wajah nya. Cemas jika sang putra meninggalkan nya lagi.
"Astaghfirullah. Zio, kenapa kamu tidur di lantai?" Salsa melangkah cepat mendekati Zio yang tidur di lantai. Ia lalu jongkok, mengusap lembut pipi putranya.
"Zio, bangun sayang,"
Zio menggeliat, ketika matanya terbuka, ia lansung duduk mendapati Salsa di sana.
"Kenapa Zio tidur di sini?" tanya Salsa penuh kelembutan.
Zio tidak berani menatap wanita lembut di hadapan nya ini. Ia masih merasa canggung. Tidak tau harus bersikap bagaimana.
"Zio, dengar Bunda nggak?"
Zio mengangguk pelan.
"Kenapa Zio tidur di lantai?" tanya Salsa lagi.
"Aku sudah biasa," jawab Zio dingin tanpa melihat Salsa yang tepat di depannya. Wajah anak itu hanya menunduk.
"Kalau sekarang Bunda larang Zio tidur di lantai. Apa Zio mau menurut?"
Zio mengangguk lemah.
"Baiklah, sekarang Zio harus janji nggak boleh lagi tidur di lantai. Itu tempat tidur Zio, dan semua yang ada di dalam kamar ini milik Zio," ucap Salsa menatap lekat wajah Zio yang terus menunduk.
"Ya, sudah, sekarang Zio mandi. Sebentar lagi kita sarapan bersama di bawah," ucap Salsa seraya membantu Zio berdiri.
"Apa aku boleh mengajak seseorang tinggal di sini?" tanya Zio sebelum melangkah.
__ADS_1