Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
Mencari keberadaan Niken


__ADS_3

"Abang, cepat lah jalannya," Zia merengek meminta Zio agar segera melangkah.


Dreeet. Dreeet. Dreeeet.


Baru saja hendak melangkah, ponsel dalam saku Zio bergetar.


"Dek, turun dulu Abang mau angkat telepon sebentar."


"Nggak mau, nanti saja angkat telepon nya. Semua sudah menunggu kita di ruang makan," ucap Zia masih bergayut di punggung Zio.


Zio menghela nafas besar.


"Baiklah." Zio pun mulai melangkah menuruni anak tangga menuju ruang makan.


.


.


"Lah, Adek." Salsa tersentak ketika melihat Zia yang bergayut di punggung Zio. Pasal nya pemandangan seperti itu belum pernah ia lihat sebelum nya.


Bukan hanya Salsa, semua yang ada di ruang makan itu kini menatap pada saudara kembar itu.


"He he he. Kenapa Bun?" Zia lalu turun dari punggung Zio, duduk di kursi biasa ia tempati.


Sama hal nya dengan Zia, Zio pun menarik satu kursi di sebelah Zia, tepat menghadap Sarah.


"Tumben saja," ucap Salsa.


Sarah berdiri mengambil satu piring untuk Zio dan mengisi nya dengan nasi.


"Abang, mau lauk apa?" tanya Sarah sebelum mengisi piring itu dengan lauk.


"Terserah," jawab Zio dingin.


"Abang, Ong kemana? Seharian di kantor tadi Daddy tidak melihat nya." tanya Zidan.


"Dia lagi sakit Dadd," jawab Zio singkat.


"Oo," tanggap Zidan.


.


.


.


Setelah menghabiskan makanan nya, Zio merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel yang sejak tadi bergetar, tapi ia abaikan.


Di layar ponsel, Zio melihat ada 20 lebih panggilan tidak terjawab, dan semua itu dari kontak nama Carla.


Zio memasukkan ponsel ke saku celana, lalu meninggalkan ruang makan, untuk menghubungi Carla.


"Abang mau kemana?" tanya Salsa melihat Zio yang sudah bangkit dari duduk nya.


"Mau nyari angin di luar Bun," jawab Zio sebelum melangkah.


"Oo. Ya sudah,"


Setelah itu Zio melangkah pergi. Mengeluarkan ponsel nya menghubungi Carla. Hanya satu kali panggilan sambungan telepon nya lansung terhubung.


"Abang. Abang di mana sekarang?" tanya Carla dari sebrang telepon.


"Abang lagi di luar kota Dek," sahut Zio sambil terus melangkah keluar. Zio menghentikan langkah nya duduk di atas gazebo yang di bawah nya ada kolam kecil.


"Kapan Abang pulang? Kenapa di sini tidak ada pakaian Abang? Abang tinggal dimana sebenarnya?" tanya Carla.


"Be-besok Abang pulang dan kesana ya," hanya itu jawaban yang Zio berikan dari  banyak nya pertanyaan dari Carla.


"Abang janji kan besok akan datang," suara Carla terdengar lirih di pendengaran Zio.


"Adek, jangan nangis. Besok Abang pasti kesana," ucap Zio meyakinkan.


"Abang nggak akan meninggalkan Adek lagi kan?" tanya Carla lirih.


"Hayo.... Lagi nelpon siapa?"


Kehadiran Zia yang tiba-tiba membuat Zio tersentak, hingga ponsel yang di pegang nya terjatuh dan masuk kedalam kolam.


"Ups!" Zia menutup mulut nya dengan kedua tangan.


Zio mendelik, menghela nafas besar.

__ADS_1


"Biar Adek ambil," Zia hendak masuk ke dalam kolam mengambil ponsel Zio yang masih menyala itu.


"Nggak usah Dek, biar Abang saja," ucap Zio, tentu ia punya alasan sendiri melarang Adik nya untuk mengambil ponsel itu.


"Maaf ya Bang, Adek nggak sengaja," sesal Zia.


Zio memaklumi sifat saudara kembar nya itu, yang dari dulu memang suka melakukan hal aneh untuk mendapatkan perhatian nya.


"Mana ada mengagetkan orang bisa di bilang nggak sengaja. Jelas itu di sengaja," dengus Zio mengulurkan tangan nya mengambil ponsel yang masih menyala di dalam kolam.


"Ya maaf," lirih Zia.


Lagi, Zio menghela nafas besar.


"Tapi Adek curiga deh!" Abang tadi telponan sama siapa sih? Nggak biasanya Abang menerima telepon mengendap-endap seperti ini," Zia mengernyit kan dahi nya.


"Atau jangan-jangan Abang sudah punya pacar ya," imbuh Zia yang mulutnya lansung di bekap Zio.


"Adek tu bisa diam nggak sih? Di dengar Bunda nanti di kira nya benaran," dengus Zio merasa kesal.


"Berarti benar ya Abang sudah punya pacar? Wah, memang gawat ini jika Bunda tau,"


"Adek. Bisa diam nggak?" bentak Zio yang semakin kesal.


"Iya, iya, adek diam. Tapi Abang harus cerita," ucap Zia.


"Cerita apa? Udah deh, nggak usah bikin gosip, mulut tu nggak usah ember," ucap Zio berlalu pergi.


"Abang. Tunggu. Cerita dulu lah," Zia mengejar langkah Zio yang sudah masuk ke dalam mension.


.


.


"Abang, mau kemana?" tanya Salsa menghentikan langkah Zio saat melewati ruang utama.


"Abang ngantuk Bun," jawab Zio sambil menguap.


"Terus, Sarah nanti pulang sama siapa?" tanya Salsa.


"Suruh Om Jefri saja Bun. Abang ngantuk banget," jawab Zio.


"Ya sudah, Abang tidur lah," titah Salsa.


"Nanti biar Bunda yang antar Sarah pulang ya," ucap Salsa seraya mengusap puncak kepala Sarah.


Serah mengangguk lemah.


.


.


.


.


.


***


Tengah malam.


Zio sudah berada di luar mension. Melompat dari atas balkon kamar nya, hingga memanjat pagar mension. Semua itu tidak lah sulit baginya.


Tekat nya malam ini sudah bulat, menyerang markas Rusdi yang berada di kota B, untuk mencari keberadaan Niken.


"Stop, di sini saja pak," Zio menepuk pundak seorang pria paruh baya yang mengendari motor bebek, lalu menyerahkan selembar uang kertas sertus ribuan pada pengendara motor itu.


"Tidak ada kembalian nya Den," ucap pria paruh baya itu.


"Buat bapak saja," setelah itu Zio melangkah memasuki bandara pribadi keluarga Alvero.


Di sana ada 2 helikopter dan satu jet pribadi.


"Tuan muda mau kemana malam malam begini?" tanya Josep, orang yang bertanggung jawab di bandara itu.


"Ada keperluan penting Om.


Owya Om, tolong rahasiakan ini dari Daddy,"


"Baik tuan muda, Berhati-hati lah," pesan Josep.

__ADS_1


"Pasti Om," balas Zio.


Kemudian Zio menerbangkan helikopter nya. Tujuan pertamanya ke markas nya sendiri. Untuk mengambil senjata serta membawa dua orang anak buah yang akan mendampingi nya.


.


.


.


Kurang dari satu jam, helikopter Zio sudah mendarat di restoran nya yang ada di kota B.


Ia melanjutkan perjalanan ke markas Rusdi menggunakan mobil Yudi manejer restoran.


Tiga puluh menit menempuh perjalanan. Mobil mereka sudah berhenti tidak jauh dari sebuah gedung yang tidak terawat.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Zio pada anak buah nya sebelum turun dari mobil.


"Selalu siap Rain," jawab Muklis.


"Bagus, ayo kita turun, habisi semua orang orang yang ada di dalam. Waktu kita tidak banyak, jadi jangan bermain-main dengan musuh, lansung saja habisi mereka semua," ucap Zio lalu turun dari mobil, di ikuti 2 anak buah nya.


Zio melangkah lebih dulu menuju bangunan itu dengan dua pistol di tangan nya.


Door


Door


Tembakan pertama Zio pada dua orang yang berjaga di bangunan itu.


Zio tidak sembunyi sembunyi dalam penyerangan ini. Ia terang terangan  menyerang, tanpa ada rasa takut.


Anak buah Rusdi yang mendengar suara tembakan di luar. Mengambil senjata mereka. Melakukan perlawanan menembak Zio.


Zio merebut senjata laras panjang dari tangan Muklis.


Drrrrrrt


Drrrrrrt


Drrrrrrt


Zio menembak kan senjata laras panjang nya ke arah musuh yang menyerang nya.


"Brengsek.... Serang mereka," perintah anak buah Rusdi.


Door


Door


Door


Drrrrrrt


Drrrrrrt


Drrrrrrt


Suasana yang tadi nya tenang, kini di penuhi dengan suara tembakan.


Sudah banyak anak buah Rusdi yang mati tertembak, karna tidak siap menghadapi serangan tiba-tiba yang di lakukan Zio dan 2 orang anak buah nya.


Akhirnya beberapa orang anak buah Rusdi yang masih hidup menyerah.


.


.


"Kau. Periksa tempat ini, dan cari seorang wanita di dalam. Mereka biar Muklis yang mengurus," perintah Zio yang lansung di turuti anak buah nya.


"Rain, apa yang akan kita lakukan, pada mereka yang masih hidup ini?" tanya Muklis.


"Tanyakan dimana Rusdi dan wanita itu berada, aku hanya inginkan wanita itu," ucap Zio memberikan perintah.


"Baik Rain," Muklis pun mengikuti perintah yang di berikan tuan nya, menanyai pada anak buah Rusdi yang masih hidup.


"Saya tidak menemukan siapa pun di dalam tuan," ucap anak buah Zio melaporkan.


"Brensek. Kemana mereka?" umpat Zio merasa kesal.


"Rain, mereka semua bungkam. Saya tidak menemukan informasi apa pun," ucap Muklis.

__ADS_1


"Sial. Habisi mereka semua dan bakartempat ini, kita kembali ke kota X," perintah Zio.


"Baik Rain,"


__ADS_2