Istri Untuk Tuan Muda Kejam

Istri Untuk Tuan Muda Kejam
IUTMK (73)


__ADS_3

Santi bernafas lega melihat putrinya yang berbaring diatas ranjang. "Ternyata dia malah tidur," katanya sambil mengedarkan pandangannya melihat isi kamar yang tertata rapi.


Namun tidak dengan Salsa, Ibu dua anak itu tengah meraih ponselnya di dalam tas yang berdering, lalu, segera menggeser layar ponsel menjawab panggilan dari putrinya.


"Bunda di mana sih, kok belum juga pulang?" tanya Zia seketika di ujung sana.


"Bunda lagi di rumah Abangmu sama Mama Santi juga,"


"Ngapain Bunda di sana?"


"Nungguin Abangmu yang belum pulang juga, entah kemana perginya anak itu,"


"Iiih, pasti Abang sama cewek itu lagi!"


Celetukan asal Zia, membuat Salsa bertanya-tanya dalam hati. Ia melihat Santi yang masih sibuk melihat-lihat isi kamar anak dan menantunya yang tertata rapi.


"San, aku keluar sebentar,"


Salsa segera berjalan keluar kamar karna tak enak Jika Santi mendengar pembicaraannya.


"Maksud Adek tadi, cewek siapa?" tanya Salsa yang sudah berada diluar.


"Eh, gak ada kok Bun, Adek asal ngomong saja tadi,"


"Adek, jawab tanya Bunda! Cewek siapa yang Adek maksud tadi?" Salsa benar-benar semakin penasaran.


"Tapi Bunda, Adek takut nanti Abang marah, kan Adek sudah janji sama Abang gak akan bilang ke siapa-siapa,"


"Gak, Abangmu gak akan marah, cepat katakan!" desak Salsa semakin menekannya.


"Hm, baiklah. Tapi Bunda jangan bilang Abang kalau Adek yang memberitahukan ini ke Bunda, ya,"


"Iya, cepat katakan!" sahut Salsa yang sudah tak sabar.


"Beberapa hari yang lalu, Adek sama Sarah kan pergi ke mall, terus, Adek melihat Abang jalan sama cewek di mall tersebut. Bunda tau gak? Cewek itu kecentilan banget, merangkul-rangkul tangan Abang. Iiiih, Adek geram sekali melihatnya! Tapi, anehnya si Sarah tu malah diam saja. Malahan dia mengajak Adek pergi saat Adek mau melabrak cewek kecentilan itu,"


Salsa terperangah mendengar penuturan putrinya barusan, sungguh ia tak menyangka jika Zio sudah memiliki wanita lain.


"Bunda, Bunda tau gak-"


Tanpa mendengar perkataan Zia di ujung sana, Salsa bergegas ke kamar kala mendengar teriakan Santi.


Baru sampai diambang pintu, teriakan Santi semakin histeris sambil menggoyangkan tubuh putrinya.


Salsa mendekat, di lihatnya wajah Sarah yang pucat tak bergeming ketika Santi menggoyang-goyangkan tubuhnya.

__ADS_1


"Astaghfirullahalazim! San, Sarah kenapa?"  Salsa pun ikut panik melihat keadaan menantunya


"Aku gak tau, Sa. Tadi aku coba membangunkan Sarah tapi dia sama sekali tidak merespon,"


Salsa pun segera memanggil Jefri ke bawah, memintanya membawa Sarah ke mobil.


.


.


.


Setengah jam kemudian, Salsa dan Santi telah berada di rumah sakit. Sementara Sarah tengah di tangani dokter di ruang ICU.


Dalam perjalanan ke rumah sakit tadi, Salsa juga sudah menelpon Raka serta suaminya.


Raka yang baru datang, setengah berlari mendekati Santi yang duduk di bangku dekat iCU, sambil menangis memeluk Salsa.


"Ma, Sarah kenapa?" tanya Raka yang telah berdiri di depan mereka.


Santi bangkit dan lansung memeluk Raka. Tangis wanita itu semakin menjadi-jadi dalam pelukan suaminya. "Sarah, Pa,"


Raka lebih mengeratkan lagi tangannya memeluk tubuh sang istri sambil mengusap punggungnya.


Derap langkah di ujung koridor, membuat ketiga orang yang ada di sana menoleh seketika.


Sorot mata Santi menyiratkan amarah melihat Zio yang tengah berlari mendekati mereka, di iringi Zidan di belakangnya.


Santi mengurai pelukan suaminya, lalu menatap sinis menantunya yang saat ini pakaian dan rambutnya terlihat sedikit berantakan, khas seseorang yang baru bangun tidur.


Zio yang telah berdiri di hadapan mereka, hanya menundukkan kepala melihat tatapan tak bersahabat dari ibu dan mertuanya.


"Buat apa lagi kamu datang kesini? Belum puas kamu menyiksa anak saya,"


Perkataan menohok yang di lontarkan mertuanya membuat Zio tak berkutik.


Raka mengusap bahu Santi mencoba meredakan amarah wanita yang telah melahirkan anak-anaknya.


Bersamaan dengan itu pintu ICU terbuka. Zio menegakkan kepalanya dan berjalan mendekati dokter yang ingin bicara dengan keluarga pasien.


"Saya suaminya, Dok," ucap Zio yang telah berdiri di samping kedua mertuanya.


Santi berdecih, rasanya ingin sekali dia mengumpat dan mengomeli menantunya saat ini. Tapi, usapan lembut tangan Raka di bahunya sedikit meredakan amarah wanita itu.


Tiba-tiba Salsa mendekat, lalu menarik tangan Zio menjauh dari sana.

__ADS_1


"Duduk!" perintahnya yang telah jauh dari ruang ICU.


Zio menurut, duduk di bangku yang tersedia di rumah sakit tersebut.


"Bunda, Sarah kenapa?"


Salsa melayangkan tatapan yang tak bisa di artikan oleh Zio, sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Abang dari mana?" Bukan menjawab tanya putranya, Salsa malah mengajukan pertanyaan lain, membuat Zio mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Salsa menangkup pipi putranya dengan kasar. "Abang! Jawab Bunda! Abang dari mana tadi?"


"Abang minta maaf, Bun," Hanya kalimat itu yang mampu Zio ucapkan.


Salsa menghembuskan nafas kasar, lalu melepaskan tangannya dari wajah Zio. "Bunda kecewa sama Abang," ucapnya dengan bibir yang gemetar.


Seketika Zio bangkit dari duduknya, lalu berlutut dan meraih kedua tangan Salsa, menggenggamnya dengan erat. "Maafkan Abang, Bun. Maafkan Abang," ucapnya sambil meletakkan tangan itu diatas kepalanya.


Salsa menghela nafas panjang. "Abang bangun lah," Salsa menarik tangannya yang di genggam putranya.


Zio berdiri, lalu duduk kembali di sebelah Salsa.


Salsa menoleh menatap Zio yang duduk di sebelahnya. "Abang tau apa yang terjadi pada Sarah tadi?"


Zio hanya diam menunggu sang bunda melanjutkan kata-katanya.


"Sarah tadi tak sadarkan diri di dalam kamar. Apa sekarang Abang puas! Memang ini kan alasan Abang memilih tinggal berdua saja dengan Sarah? Agar Abang bisa bebas keluar sesuka hati dan membiarkan Sarah di rumah sendiri? Kalau mamang itu tujuan Abang, Abang sudah berhasil,"


"Abang minta maaf, Bun, "


Salsa membuang nafas kasar, lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil menyeringai. "Gak ada gunanya Abang meminta maaf pada Bunda, karna di sini bukan Bundalah yang menjadi korban, melainkan Sarah. Abang ingat kata-kata Bunda ini!" Salsa menjeda kalimatnya, memperhatikan wajah memelas Zio. "Jika terjadi sesuatu pada Sarah, Abang akan menyesalinya seumur hidup atas perbuatan yang Abang lakukan sendiri," peringatnya, kemudian ia berdiri meninggalkan Zio yang masih terpaku duduk di tempat.


"Ekhm,"


Tanpa Zio sadari Zidan telah berdiri di sampingnya.


Cepat-cepat Zio menghapus air mata yang jatuh di sudut matanya.


Zidan duduk di sebelahnya, sambil merangkul bahu putra satu-satunya itu.


"Setiap manusia pasti berbuat kesalahan. Tapi, setiap manusia juga di beri kesempatan untuk memperbaiki diri. Tak ada kata terlambat untuk berubah. Daddy yakin Abang bisa memperbaiki semuanya," ucap Zidan menyemangati putranya.


Zio menatap pria yang begitu di hormatinya itu lalu memeluknya.


"Terimakasih, Dadd," ucapnya lalu mengurai pelukan dan segera berjalan menuju ke ruang ICU.

__ADS_1


__ADS_2